
Isi dari pesan singkat yang dikirimkan pak Andi membuat dahi Stella berkedut. Kepalanya mendadak migrain.
Stella bangkit perlahan lalu memberi isyarat pada David jika dia keluar sebentar dan dibalas anggukan.
"Apa ibu mencari saya?" tanya Stella saat sudah memastikan pintu tertutup rapat.
"Stella sayang, tentu saja ibu mencarimu nak. Apa ibu bisa meminta waktumu sebentar? ibu janji hanya sebentar sambil minum kopi di sebrang gedung"
"Kalau begitu di cafetaria saja karena saya juga baru kembali dari luar dan masih banyak pekerjaan"
Imelda sedikit tersenyum kaku. Pasalnya cafetaria pastilah tempat umum dengan suhu ruangan yang cukup panas karena minim pendingin ruangan, juga menu yang merakyat yang tak cocok dengan lidah dan perutnya.
Sedangkan cafe di sebrang gedung merupakan cafe modern dengan kopi yang digiling dadakan lima ratusan
🙄 eh..
skip😅
"Kalau begitu di ruang meeting saja, saya hanya punya waktu 10 menit sebelum meeting" tanpa menunggu jawaban, Stella berjalan kearah lift karena ruang meeting berada 1 lantai dibawah.
Imel terpaksa mengikuti dengan rasa kecewa sambil menggeret 2 koper besar miliknya. Berharap sekalian makan camilan enak plus kopi untuk mengisi perutnya yang sedari tadi minta diisi cemilan mahal, boro boro diajak makan di restoran eropa.
Stella membisikan sesuatu pada OB yang ditemuinya saat hendak masuk ke ruang rapat yang baru saja dibersihkan untuk persiapan meeting 30 menit lagi.
"Silahkan duduk" dengan sopan Stella mempersilahkan seolah berbicara pada kliennya.
Imel menaruh kopernya di sebelah kursi yang hendak dia duduki. Bersamaan dengan datangnya OB yang membawa nampan berisi 2 cangkir berisi kopi dan susu khusus ibu hamil serta membawa 2 piring camilan berupa kue tart rasa green tea sebagai teman minum kopi bagi tamu.
Imel menatap kopi yang uapnya mengepul, sedikit tergiur namun karena aroma kopi yang dia tebak pasti mereknya merakyat jika diseduh dari pantry dia tak jadi menelan air liurnya.
🤔
__ADS_1
"Kantor bonafide kayak gini kopi nya cap kapal? yang benar saja" cebiknya dalam hati.
Stella memperhatikan ekspresi Imelda yang mencibir kopi dan camilan yang bertengger diatas meja. Namun Stella tak mau peduli. Kewajibannya menjamu tamu sudah ia tunaikan.
"Jadi, apa yang ingin anda bicarakan, bu?" Stella memulai percakapan. Dia tak mau lebih lama berduaan dengan wanita yang sudah pasti menginginkan sesuatu.
"Ah, iya. Begini nak, ibu sangat senang akhirnya kamu bisa menikah dan bahagia meski harus merenggut kebahagiaan saudara kamu sendiri tapi-"
"Maaf. Tolong diralat ya bu. Siapa yang merenggut kebahagiaan siapa. Waktu ibu tinggal 8 menit"
"A ah, maaf ibu salah bicara. Jadi gini, dulu waktu suamimu menikah dengan saudaramu-"
"Saya anak tunggal"
"M maksud ibu, L.. Lusi, keluarga suamimu selalu rutin memberikan uang saku buat ibu. Kamu tahu, ibu juga butuh ke salon, hang out, massage, jalan jalan, bayar arisan, pokoknya banyak banget kebutuhan ibu. Dan suamimu yang dulu adalah suami Lusi bisa memenuhinya dan ibu sangat senang sekali.
"6 menit"
"5 menit"
"Ibu minta uang bulanan itu tetap dikirimkan" dengan cepat meski gelagapan Imelda langsung pada intinya takut Stella mengakhiri percakapan sebelum tujuannya tersampaikan.
"Apa aku tak salah dengar? Anak ibu sudah bercerai dari suami saya. Kenapa juga suami saya masih harus mengirimkan uang untuk ibu? lagi pula, ada suami ibu yang seharusnya menafkahi ibu, bukan suami saya"
"Tapi kamu anak ibu"
"Lusi lah anak ibu. Lagi pula saya tak ingat saat keluar dari tubuh seorang wanita jika itu adalah anda. Yang saya ingat ibu saya tega meninggalkan saya dan ayah dalam masa sulit kami demi harta orang lain agar bisa hidup nyaman dan bergelimang kemewahan. Apa anda orangnya?"
Imelda bergeming dan terlihat pucat.
"Waktu anda sudah habis"
__ADS_1
Stella bangkit dan tak menghiraukan seruan Imelda yang memekik
Setitik cairan lolos dari sudut matanya. Sungguh bukan ini yang ia inginkan. Dilema antara menjauhinya, namun dia tak mau menjadi anak durhaka. Tapi dia kembali mengingat penderitaan sang ayah seorang diri, dan keegoisan sang ibu yang tega meninggalkan mereka karena kemiskinan, dan kini kembali karena harta yang ia miliki. Bukan karena menyesal dan bertobat, tapi semata karena materi. Sungguh Stella bukan orang yang pendendam. Terlebih kini dia sudah punya segalanya. Ia tak mau di cap sebagai anak yang sombong dan durhaka.
"Ya Tuhan. Ampuni aku" lirihnya sambil terisak selama berjalan menuju ruang kantor sang suami. Tak menghiraukan keberadaan pak Andi yang memanggilnya dari mejanya.
ceklek
Stella ingin menumpahkan segala kegundahannya pada sang suami, namun.. "Sayang, apa kamu baik baik saja?" tanya David yang sudah selesai dengan video conference nya dan sedang menerima tamu. Namun David lebih memilih mendekati sang istri yang terlihat tengah bersedih hati.
David mendekat dan langsung menyambut uluran tangan Stella yang meminta pelukan menenangkan suaminya.
Stella tergugu di pelukan David yang terasa nyaman. Dia menumpahkan segala beban di hatinya dengan tangisan yang tak pernah dia lakukan.
"Ssshh... it's okay... kamu punya aku sayang.. kamu gak sendiri... menangislah... tidak selamanya kamu harus menanggung semua beban sendirian.. sudah ada aku.." David menghiburnya, menyalurkan kasih sayang dan memberikan rasa nyaman bagi wanita satu satunya di hidup David.
"Apakah aku anak yang durhaka, mas?" tanya nya di sela isakannya.
David tak bisa menjawab, dia hanya mengelus rambut lembut Stella.
"Kenapa dia datang demi uang.. bukan demi aku, mas.. apa uang memang lebih penting dari aku, anaknya... apa aku semenjijikan itu hingga ditinggalkan karena terlahir dari benih seorang miskin seperti ayah.."
"Ssshhh... jangan berpikiran sejauh itu sayang. Kamu itu istimewa. Sangat istimewa. Hanya orang yang buta mata dan hati nya yang tak menganggapmu istimewa. Sudah kubilang kamu sekarang gak sendiri. Lupakan masa lalu yang membuatmu tidak bahagia karena kamu punya aku dan calon anak kita yang akan selalu membahagiakanmu" David memundurkan tubuhnya lalu mengapit wajah Stella dan mengusap lembut air mata yang tak bisa berhenti keluar lalu mengecup kedua matanya membuat Stella merasa lebih tenang dan isakannya perlahan berhenti.
"Lepaskan saya. Saya harus ketemu anak saya, jangan kurang ajar ya kamu, saya bisa bikin kamu dipecat tau gak" pekik Imelda yang sepertinya sempat dihadang pak Andi namun berhasil masuk juga dengan wajah yang memerah karena amarah.
"Stella..." seruan lantangnya menggantung kala melihat kehadiran seseorang di ruangan itu.
"Kamu..."
"Sudah kuduga kamu akan kemari" ucap tamu yang sedari tadi duduk dan memperhatikan tayangan drama live antara suami istri.
__ADS_1