The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Salah Minum Obat


__ADS_3

"Nyonya, silahkan. Pak supir sudah menunggu" ucap Sarip mempersilahkan dengan sopan. Meski dia mendapat perintah untuk tak membiarkannya masuk, namun dia tetap bersikap sopan padanya. Bagaimanapun wanita ini adalah istri presdir.


"Stella, sialan...." Lusi mendecak kesal sambil menggerutu dan menghentakkan kakinya menuju mobil yang terparkir di area drop off.


"Deri, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku" Lusi melakukan panggilan telfon di dalam mobil. Sang supir meliriknya melalui kaca spion dalam.


"Bagaimana mungkin kamu menolak permintaanku, kamu tau kan apa yang bisa aku lakukan" ancamnya mendesis.


"Tunggu aku ditempat biasa" lanjutnya yang langsung menutup sambungan.


"Pak, puter arah" titahnya yang langsung diangguki sang supir.


Waktu masih cukup siang untuk clubing, namun Lusi seperti sudah terbiasa karena tak canggung untuk masuk, bahkan sang sekuriti terlihat menunduk hormat padanya.


"Beliau masuk ke club house 88" lapor sang sopir melalui sambungan bluetooth.


Supir kembali ke kantor setelah mendapat perintah.


"Stella, kemari" titah David melalui saluran intercom.


"Baik, tuan" Stella pun bangkit dan mengetuk pintu ruangan presdir.


tok


tok


"Masuk"


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Kepalaku, bisa kau lakukan sesuatu pada kepalaku? rasanya pening berkepanjangan" pintanya sembari memutar pangkal lehernya dan sedikit mengetuk kepala bagian belakangnya.


Stella mendekat lalu sedikit memijat bagian bagian yang David rasa sumber masalah.


"Bisakah tuan pindah ke sofa?" pinta Stella yang di turuti David.


Stella berdiri dibelakang sofa dan mulai menyentuh kepala David yang ada didepannya.


Stella mulai menyasar bagian bagian yang diyakini sumber rasa sakit


Dia menekan beberapa titik akupuntur untuk membuka aliran darah yang tersumbat membuat David merasa lebih nyaman.


"Apa sudah baikan?" tanya Stella setelah dirasa ototnya tak setegang sebelumnya.

__ADS_1


"Belum" David lantas menarik tangan Stella dan menempelkannya di dadanya.


"Disini belum baik" lanjutnya parau.


Posisi Stella yang kini menunduk dengan wajah yang berjarak sangat dekat menantang David untuk kembali mencicipi rasa bibir manis itu.


Stella sedikit membuka mulutnya sambil menatap lekat manik hazel milik David.


David memejamkan matanya dan juga membuka sedikit mulutnya untuk memberikan akses pada Stella agar bisa mengeksplorenya.


"Aku harus kembali kedepan" bisik Stella yang langsung bangkit.


David seketika membuka matanya.


'Apa apaan.. kupikir dia.. dia akan...'


"Inget istri dirumah, tuan" ucap Stella sambil terkikik dan melenggang keluar.


"Aaargghh... kapan aku bisa bebaaaass..." rengeknya mengeluh.


David sudah tak bisa menahan diri lagi untuk tak kembali memeluknya. Mengungkapkan rasa sayangnya yang kini bertambah besar.


Semakin hari Stella semakin menunjukan kemampuannya, dan semakin membuatnya takjub sekaligus cemburu karena para klien yang muda seumurannya atau yang sudah berusia matang selalu menunjukan tatapan yang tak biasa.


Entah bagaimana kehidupannya di Inggris sana. Apakah dia pernah pacaran, atau pernah..


"Aaaarrgghh..." semakin jauh pikiran David semakin frustasi dibuatnya.


"Stellaaaaa...." teriaknya dengan menggeram.


"Kerja tuan, jangan ngelamunin yang engga engga" sindir Stella sambil terkikik melalui sambungan interkom.


"Stella" panggil David melalui interkom.


"Ya, tuan"


"Stella"


"Ada apa, tuan"


"Stella Stella Stella Stella Stella...."


Stella memutar bola matanya malas lalu mencabut kabel penghubung.

__ADS_1


"Sabodo, dia yang rugi" gumamnya sambi terkekeh.


Stella memutuskan tak akan menjawab atau menghiraukan panggilan sang presdir jika bukan dia yang keluar sendiri.


serrrrr....


Stella mendengar suara roda mendekat ke pintu.


jeglek


Pintu kokoh itu terbuka lalu munculah sebuah kursi kebesaran sang presdir yang berisi tumpukan dokumen dan berhenti tepat didepan mejanya.


Stella terperangah, apa bos nya ini bermaksud memberikan semua tugas bagian presdir untuk dia kerjakan sebagai hukuman?


Sesuai dugaan, David menaruh tumpukan dokumen itu diatas meja Stella lalu dia mendaratkan pantatnya di kursi kebesaran itu dan memulai kembali pekerjaannya sambil menampilkan senyum meski rambutnya terlihat acak acakan.


"Tuan"


"Hm"


"Apa tuan salah minum obat?"


David menghentikan aktifitasnya.


"Hari ini belum minum obat" jawabnya enteng lalu melanjutkan pekerjaannya.


"Lalu apa yang tuan lakukan disini?"


"Bekerja lah, atau kamu mau kita bercinta?" ucapnya tenang.


Stella mengangakan mulutnya.


"Terus apa fungsi ruangan itu?"


"Biarkan saja"


"Tuan presdir yang terhormat, dengan begini anda mengganggu pekerjaan saya. Jadi saya sarankan anda kembali ke ruangan anda"


"Hmm... gak mau, gak ada kamu"


"Tapi-"


"Kerja, jangan ngomel mulu"

__ADS_1


__ADS_2