
Sore menjelang, tibalah waktu para pekerja untuk kembali ke istananya masing masing.
Namun tidak bagi Stella. Dia harus tinggal di istana orang untuk beberapa waktu.
"Apa bibi yakin Stella harus melakukan ini?" tanya Stella ragu ragu.
Meyra mengangguk pasti.
"Tentu saja. Wanita ular itu harus diberi pelajaran. Apa kau tega membiarkan pria tua seperti tuan Wiliam terus ditekan keluarga tak tahu malu itu"
Kalimat terakhirnya ia ucapkan dengan mimik menghiba.
Mata Stella menyipit.
"Kenapa rasanya Stella mau dijadiin tumbal ya" ucapnya datar. Namun membuat Meyra tergelak.
"Hufft..." Stella menghela nafas menyiapkan mental dan hatinya. -Dia tak berharap apapun. Jika bibi Mey beralasan tentang Wiliam yang diperdaya keluarga Lusi, dia harus membantunya. Meskipun keluarga Wiliam adalah keluarga gajah yang tak kekurangan materi sedikitpun namun kelicikan yang dilakukan Lusi dan keluarganya tetaplah salah.
"Sudah siap?" tanya David yang bangkit dari duduknya di sofa saat melihat Stella membawa turun kopernya dibantu Meyra.
Terlihat mimik kegirangan dari wajah David.
"Cih" Stella mendecih melihat mimik menyebalkan itu.
"Jangan macem macem. Tahan diri kamu" lirih Meyra berpesan pada Stella.
"Yang ada ponakan bibi yang diapa apain" Stella membalas dengan gerutuan.
Meyra lagi lagi terkikik.
David mendekat dan mengambil alih koper milik Stella saat mereka sampai di titian terakhir.
__ADS_1
Stella lantas memeluk bibinya erat.
"Stella.. Stella... kamu bisa bunuh bibi" ucap Meyra kala Stella mengeratkan pelukannya.
"Kasih kabar Stella kalo bibi kecantol bule di bali ya.. auhh... bibi.. sakit huhuu" Stella mengaduh setelah menggoda sang bibi lalu mendapat cubitan di pinggang.
"Udah sana, kesian tuan besar dah nungguin kalian. Pasti lagi jalan mondar mandir di teras depan. Ni jangan lupa opor buatan bibi, tuan besar pasti suka" Meyra mendorong termos makanan berisi opor ayam untuk Stella bawa sebagai oleh oleh.
"Kenapa gak bibi aja yang kasiin. Tuan besar pasti seneng kalo bibi yang anterin" Stella mengedipkan sebelah matanya pada sang bibi.
"Mau dicubit lagi ya ni anak, godain orang tua mulu" ucap Meyra mengetatkan rahangnya gemas dengan kelakuan Stella yang terus menggodanya.
Stella menatap pemandangan di luar jendela yang tak terlihat apapun karena hari sudah gelap.
David sesekali menatap pantulan wajah cantik Stella di jendela. Dia tak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa.
David akhirnya pasrah dan memilih diam selama perjalanan.
Dari gerbang mobil melaju perlahan menyusuri jalan dengan pohon palm berbaris rapi di sisi kiri dan kanan, lampu sorot yang berada dibawahnya menyorot kearah pohon yang menjulang tinggi sekaligus menerangi jalan yang cukup jauh jaraknya dari gerbang menuju rumah besar.
"Uwooo... pantes aja dibilang rumah besar" gumam Stella takjub melihat penampakan rumah yang memanglah besar dan mewah.
Dengan air mancur yang berada didepan rumah ditengah jalan yang melingkar membuat Stella membayangkan jika saja kolam itu diisi bebek yang lucu.
David tersenyum mendengar suara kekaguman Stella yang akhirnya keluar juga setelah dengan susah payah ia mencari topik bahasan agar bisa mendengar suaranya.
Namun suara merdunya hanya bisa ia dengar sesaat karena mobil sudah sampai tepat didepan rumah, dimana seorang lelaki tua dengan tongkatnya berjalan mondar mandir di depan teras. Sang ajudan tampak khawatir dengan lelaki tua yang tak mau diam itu.
"Kakek, kenapa gak nunggu di dalem aja, angin malam tidak baik untuk kesehatan" ucap Stella khawatir.
__ADS_1
Namun David lebih khawatir pada Stella karena gadis itu turun saat mobil baru saja berhenti dan dia langsung melompat keluar.
"Stella cucuku. Akhirnya kamu datang juga. Kakek gak tenang kalo nunggu didalem" ujar Wiliam yang sumringah melihat Stella melompat kearahnya.
Stella lantas meminta selimut yang sedari tadi dipegang sang ajudan lalu membungkuskannya pada Wiliam.
David mendecak kesal.
"Yang jadi cucu sebenernya siapa sih. Udah dateng malah dicuekin" gerutunya melihat sang kakek menggiring Stella masuk dengan senyum mengembang tanpa melirik padanya.
David memanggil sang ajudan untuk membantunya membawakan beberapa koper miliknya dan Stella.
"Tempatkan kedua koper ini di dua kamar tamu dibawah" titahnya pada sang ajudan yang dibantu asisten rumah tangga.
Lusi yang melihat kedatangan sang suami dari lantai atas segera turun untuk menyambutnya. Dia bahkan mengenakan pakaian berbahan satin se paha yang ujung jubahnya melambai lambai karena gerakan menuruni tangga.
Lusi berlari melewati Wiliam yang tengah dipapah Stella.
"Sayang, akhirnya kamu pulang" ucapnya terengah.
David bergeming. Dia bahkan tak mau menatapnya.
Lusi inisiatif menggandeng lengannya dan merapatkan pada gundukannya yang tak dikurung.
"Jauhkan tubuh kotormu dariku" sarkas David yang langsung menarik kasar lengannya agar terlepas dari genggaman Lusi.
David lantas menatapnya tajam dan berlalu masuk ke rumah.
David tak langsung masuk ke kamar. Dia duduk bergabung bersama Stella dan sang kakek yang tengah bercengkerama.
"Terimakasih karena sudah mau datang dan menemani kakek, terutama sudah membawa cucu kurang ajar ini pulang"
__ADS_1