
Sepulang kerja, David tak mau langsung pulang. Dalam bayangannya dia pasti langsung direcoki istri menyebalkannya. David heran kenapa sang kakek tidak melakukan gerakan cepat untuk membuangnya. Padahal orang orang kakek sedikitnya sudah memberikan laporan pengintaiannya. Tapi entah kenapa Wiliam merasa masih kurang kuat untuk memecatnya menjadi menantu keluarga Wiliam. Terlebih ibu dari Lusi menggunakan nama besar keluarga Wiliam untuk membungkam media maupun mengintimidasi teman arisannya.
Belum lagi tagihan yang dialamatkan pada rekening keluarga Wiliam yang nilainya fantastis.
Mereka hanya mempunyai 1 anak saja yaitu Lusi, dan dia tak mau meneruskan dinasti perusahaan kakek Lusi dengan alasan tidak mau bersusah payah dalam bekerja. Oleh sebab itu keluarga Lusi terutama sang ibu memerintahkannya untuk mendapatkan pewaris tunggal keluarga Wiliam agar masa depan mereka terjamin karena sebagian besar saham perusahaan kakek Lusi sudah jatuh ke tangan Wiliam.
"Kak, kita mau kemana? kok beda arah?" tanya Stella celingukan di dalam mobil.
"Nanti kamu juga tau. Ada hal yang sedari dulu ingin aku lakukan sama kamu" ucapnya lembut sambil membuka dasi yang menjerat lehernya seharian.
Stella menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ma.. mau ngapain.. jangan macem macem ya.. a..aku udah DAN VI loh" ucapnya terbata sambil merubah posisi kedua tangannya mengepal didepan dada, bersiap untuk serangan tiba tiba.
*(DAN VI adalah tingkatan dalam beladiri taekwondo yang berarti levelnya sudah grand master)
David yang membuka satu kancing kemejanya terkekeh dengan tingkah waspada Stella.
"Emang kamu sanggup ngehajar aku?" tanya David sambil menurunkan kedua tangan Stella. Namun dia menggenggamnya erat lalu secepat kilat mengecup bibirnya.
__ADS_1
cup
Stella terkesiap lalu bereaksi.
"Kakaaak...." Stella memukul mukul dada dan bahu David dengan wajah memerah.
David tergelak dengan ekspresi malu Stella sedangkan pukulannya terasa seperti memijat.
"Itu hukumannya kalo pehapein anak orang" ucap David masih dengan gelakannya.
"Si.. siapa yang pehapein? sembarangan kalo ngomong. Yang pe ha pe in anak orang siapa coba 7 taun yang lalu" ucap Stella menggembungkan pipinya sambil berkacak pinggang. David semakin tergelak karena wajah marah plus malu nya bercampur menjadi lucu. Sang supir yang melihat melalui kaca spion tersenyum dibalik kemudi. Dia baru melihat majikannya tertawa puas seperti itu. Tanpa sadar ada rasa hangat dan lega di hati supir yang sudah mengabdi cukup lama pada keluarga Wiliam itu.
"Kenapa kamu pergi waktu itu?" tanya David saat tawanya sudah reda.
"Kalau kakak jadi aku, mungkin kakak malah bunuh diri" jawab Stella asal. Dia malas harus mengingat rasa sakitnya dahulu.
"Iya, kamu bener. Kalo aku jadi kamu, mungkin aku milih bunuh diri" David membenarkan jawaban asal Stella sambil menerawang.
"Aku becanda, kak. Gak mungkin kan kakak-"
__ADS_1
"Aku serius. Bahkan mungkin sekarang setelah kita bisa ketemu lagi, meski statusku udah menikah, tapi kalo suatu saat kamu menikah dengan laki laki lain... aku mungkin akan melakukannya" gumamnya masih menerawang.
"Dasar egois" cebik Stella.
"I am. Kali ini aku akan egois.
Karena menyakitkan jika harus melepas separuh hidupmu"
Stella dan David saling bertatapan lekat.
"Why me?" tanya Stella.
"Kenapa harus aku?" lanjutnya.
"Cinta tak butuh alasan. Karena hatiku yang memilihmu" jawabnya sendu.
"Sudah sampai, tuan" pemberitahuan sang supir memecah kesunyian diantara mereka yang tengah saling mendalami perasaan masing masing.
Sebenarnya mereka telah sampai 10 menit yang lalu. Namun sang supir tak mau merusak moment mengharukan. Hingga terlihat tak ada lagi yang berusaha membuka suara.
__ADS_1