
"Sayang... jangan dulu tidur" pinta David saat baru keluar dari kamar mandi pagi buta ini setelah semalaman mengobrol panjang lebar diselingi olah raga malam yang tak berkesudahan.
David benar benar tak melepaskannya. Dia ke kamar mandi hanya buang air kecil dan berniat melanjutkannya.
"Aku lelah, mas. Jagoanmu juga harus istirahat" keluh Stella setengah memejamkan mata. Dia sudah kewalahan dengan dendam David yang tak menyentuhnya selama 7 bulan.
"Ya sudah. Kalian istirahat, biar dady yang bekerja" ucapnya sekenanya sambil kembali menanamkan sahamnya dibalik selimut.
"Mana bisa istirahat kalo digoyang goyang gini ihh.." cebiknya yang merasa jengah dengan keharusan membayar utang yang harus disegerakan katanya🤦🏻♀️
"Iya, dady diem deh"
David pun terdiam, namun membiarkan assetnya menancap. Dan Stella seketika terlelap benar benar kelelahan.
Tapi David yang merasa nikmatnya tak tertahankan saat direndamkan, tak kuasa untuk tak menggerakkannya sedikit demi sedikit yang justru menambah kadar nikmatnya tertahan dan nanggung dan membuatnya menggila lalu kembali menggoyangnya secara kilat hingga meledak.
Stella lalu berteriak sesaat dan kembali menutup matanya.
"Tidurlah, sayang-sayangku" bisik David yang lantas mengecup pelipis Stella dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wadah berisi air hangat untuk menyeka tubuh istrinya agar nyenyak tidurnya.
Saat David hendak memejamkan mata setelah membersihkan diri, waktu menunjukkan pukul 6 pagi kala terdengar suara ribut ribut dari arah bawah.
__ADS_1
Meski sudah sangat mengantuk, David menyempatkan mencari tahu apa yang terjadi.
"Kakek? ada apa ribut ribut?" tanya David saat sudah berada di lantai dasar.
Ia melihat sang kakek tengah duduk di kursi roda dengan menampilkan wajah murka nya, lalu tongkat nya ia gunakan untuk menyangga kedua tangannya dengan mata menatap kearah salah satu sudut penthouse.
David mengikuti arah pandang sang kakek yang tak kunjung menjawab lalu sedikit terkejut karena melihat kondisi mengenaskan Deri yang tengah berjalan jongkok dengan kedua tangan bertaut dibelakang kepalanya, persis seperti tentara yang tengah menerima hukuman.
"Hhh... lo bikin ulah apa lagi, Der?" tanya David sambil memijat pelipisnya.
"78.. gue cuma ngambil minum masa gak boleh.. 82" jawab Deri sambil menghitung langkahnya.
trak
Deri berhenti sejenak untuk protes "Diskon 1 langkah dong, kek. Biar ditambah rejekinya"
"Ya sudah, aku tambah jadi 1.500 langkah" titah Wiliam yang membuat lutut Deri seketika melemas.
"Kakek?" David meminta penjelasan Wiliam atas tindakannya yang mengganggu waktu istirahatnya setelah semalaman begadang.
"Siapa yang mengijinkan dia menjiplak wajahmu? kakek harus bersikap baik pada orang ini suatu kerugian" jawab Wiliam ketus.
__ADS_1
"Ya sudah, kek. Anggap aja muka David pasaran. Lagian gak mirip mirip amat, masih cakepan David. Buktinya Stella sama kakek sadar perbedaan kita, kan? Udah ah, David capek. Mo bobo dulu" David lantas kembali melangkah kearah lantai 2 dimana ranjang hangatnya melambai lambai.
"Bro, nasib gue gimana nih? gada niat buat setengah setengah gitu?" pinta Deri memelas.
"Lo terusin aja katanya haus, biar pol hausnya, jan setengah setengah" teriak David sambil melangkah menaiki anak tangga dengan lunglai.
"Sialan. Gini amat nasib gue"
"Siapa yang mengijinkanmu mengumpat?" Wiliam menggetok meja makan yang terbuat dari kayu menggunakan tongkatnya.
"Kakek, tidak bisakah kau memberiku istirahat? aku bahkan belum sempat tidur" rengek Deri.
"Mmm... boleh.."
"Ah.. kakek sangat ba-"
"Kembalikan wajah cucuku"
"Aku masih kuat kek. 80..85..90..95.."
"Kenapa loncat 5 hitungannya"
__ADS_1
"Maaf, kek. Efek belum tidur. 200.."