The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Ungkapan Terima Kasih Wiliam


__ADS_3

Wiliam tak melepas pandangannya pada sosok wanita yang tengah menunduk ketakutan sembari menggendong bayi.


"Apa wanita itu adalah Lusi?" tanya Wiliam setelah dirasa mengenali sosok itu.


Lusi yang tengah menunduk dalam seketika mendongak kala mendengar namanya disebut. Namun dia langsung kembali menundukkan wajahnya kala netranya bersirobok dengan Wiliam.


"I.. iya k..kakek.." jawabnya.


"Aku bukan kakekmu" sentak Wiliam yang tak suka dengan panggilan untuknya yang dilakukan Lusi.


"M..maaf.. t.. tuan.."


"Anak siapa yang kau gendong?" lanjut Wiliam dengan ketus.


"A..Anak s..saya, tuan.."

__ADS_1


"Maksudku siapa ayahnya"


".........." Lusi bergeming karena dia sendiri tak yakin. Dia memang sering bermain dengan Deri saat itu, namun ternyata bukan cuma Deri yang selalu menanam saham padanya. Setelah dirinya keguguran tempo hari, dia rutin meminum pil untuk mencegah kehamilan, namun dia pernah lupa tak meminumnya.


"Cih, sudah kuduga" cebik Wiliam. Namun Stella mengusap lengan Wiliam dan memberikan kode agar tak menghakiminya.


"Hhh.. terlepas dari kelakuanmu, aku berterimakasih karena kamu sudah mau menampung cucu ku. Meski sebenarnya aku ingin mencincangmu karena berbohong saat tim SAR bertanya padamu" Wiliam lantas melemparkan amplop coklat ke atas meja.


Stella mengerutkan kening, David lantas mengambil amplop itu dan merogoh isinya.


"Dari mana kakek tau mengenai-"


"Kakek tidak tau apapun selain sifat dia yang sudah mendarah daging. Setelah dia menyetujui untuk pergi dari sini, dia tak akan bisa kembali lagi"


Lusi yang sedari tadi tak percaya dengan apa yang dilakukan mantan kakek mertuanya tak bisa berkata apapun selain berkaca kaca dan mengangakan mulutnya.

__ADS_1


Setetes cairan lolos dari matanya.


"Te.. terima kasih, tuan.. terima kasih.. atas kebaikan kalian, aku janji akan hidup dengan baik, demi kalian dan demi anak ini. Maafkan atas kesalahanku selama ini... " Lusi tergugu dilantai, duduk bersimpuh di kaki Wiliam.


Stella meraihnya dan membantunya berdiri lalu membimbingnya untuk duduk di sofa single.


"Anggap saja ini ucapan terima kasihku" lanjut Wiliam yang lantas meminta ajudan sementaranya untuk mengantarkannya ke kamar.


Lusi masih menangis tersedu sembari memeluk identitas barunya.


"Nak, lihat. Kita bisa memulai hidup baru tanpa ketakutan. Kamu gak akan kesepian lagi di tempat gelap" ucapnya pada sang bayi yang hanya memeletkan lidahnya mencari sumber penghidupannya.


"Stella, sekali lagi maafkan aku. Aku yang dibutakan oleh kebencian terhadap ibu sambungku membuatmu jadi sasaran kemarahanku. Diluar rasa benciku padamu karena ibu kandungmu, aku salut padamu. Keteguhanmu, kebaikanmu, kesabaranmu, keyakinanmu, mampu membawamu hingga sejauh ini. Seandainya aku masih dianggap teman, aku bangga padamu. Kalaupun aku sudah tak dianggap teman, tak masalah bagiku selama kamu memaafkanku" ucap Lusi sembari tersenyum. Baru kali ini Stella merasakan ketulusan dari ucapan Lusi.


Stella membalas senyumnya dan menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Aku memaafkanmu. Hiduplah dengan baik. Demi anakmu, dan aku yakin kamu bisa"


__ADS_2