The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Murka Wiliam


__ADS_3

Pak Andi dijemput keluarganya setelah mendapat kabar mengejutkan tentang dirinya yang berhasil selamat dan telah diselamatkan. Mereka bahkan sudah merelakannya setelah melakukan drama di perusahaan Wiliam. Kompensasi yang Wiliam berikan bahkan tak mereka hiraukan. Justru merasa dihinakan karena seolah uang telah membeli nyawa sang kepala keluarga.


"Mana dia.. mana cucu kurang ajarku.." pekik Wiliam kala baru saja masuk pintu utama dengan tergopoh-gopoh. Sayang sekali Rudolph sedang diberi tugas sehingga tak ada yang mengejarnya dengan kursi roda.


Meski usianya sudah senja dan sedikit kesulitan untuk berjalan dengan cepat, namun suaranya masih menggelegar ke seluruh penjuru ruangan mansion. Hingga Lusi yang tengah meletakkan bayinya di sofa untuk sekedar membantu Stella cuci piring berjenggit kaget. Selain karena suaranya yang terkesan marah, juga dia takut untuk kembali dijebloskan ke penjara oleh Wiliam.


"Kakek? sama siapa kakek kesini? mana kursi roda kakek?" seru Stella yang panik lantas menyambut Wiliam dan membantunya memapah ke ruang tengah.


"Mana dia.. kakek akan memberinya pelajaran.." ucapnya tanpa menghiraukan pertanyaan Stella.


"Kakek, apa kabar. Apa kakek sehat?" sapa David yang baru turun dari kamar.


"Tentu saja kakek sehat, biar bisa menghajarmu. Kamu cucu kurang ajar. Berani beraninya kamu menghilang... hik.. kamu.." Wiliam lantas menangis tergugu setelah memukuli lengan David dengan tangan lemahnya. David balas memeluknya erat. Sudah lama dia tak memeluk tubuh yang kini ringkih itu.


"Apa kamu tau, istrimu itu membuatku jantungan. Berlari kesana kemari dengan perut buncitnya. Bahkan dia belajar terbang tanpa seizinku. Kalau saja pipi si pilot gak biru, mungkin bakalan terus bungkam dan gak akan kakek cecar. Rasanya umur kakek makin dekat saja, makanya kubiarkan dia tinggal disini sendirian, kalo enggak, mungkin sekarang kamu ziarah ke makam kakek" keluh Wiliam panjang lebar dengan suara seraknya. Dan matanya tak hentinya menyorot pada Stella yang tengah tertunduk sembari mengulum senyum.


"Hhh.. kalian anak anak nakal, memang pasangan serasi. Untunglah kamu punya istri seperti dia yang gak pantang menyerah. Justru kakek yang malu karena menyerah mencarimu.

__ADS_1


Kalau saja dia menuruti kakek, mungkin.. mungkin sekarang.. huuuuhuuu..."


"Kakek, sudah jangan diteruskan. Yang penting aku udah kembali dengan selamat, bukan" ucap David menenangkan sembari menepuk punggung rapuh itu perlahan.


"Stella, sini kamu nak" ucap Wiliam setelah tenang.


"Iya, kek" Stella menggeser tubuhnya duduk di sebelah Wiliam masih menundukkan kepalanya.


"Kamu.. kamu akan kakek hukum karena sudah seenaknya membantah kakek" tegasnya membuat Stella menghela nafasnya.


"Bagus, kalau begitu tanda tangani ini" Wiliam memberikan secarik kertas yang dia minta dari supir plus ajudan sementaranya menggantikan Rudolph.


Secarik kertas dengan tulisan yang terdapat nama Wiliam dan nama Stella di dalamnya, tak lupa materai 10.000 yang tinggal Stella tanda tangani diatasnya.


"Apa ini?" tanya Stella yang lantas membacanya dengan seksama.


"Hah?" Stella menutup mulutnya dengan sebelah tangan lalu kembali mengulang membaca dari atas untuk memastikan tidak salah baca.

__ADS_1


"Kek.."


"Gak boleh membantah lagi. Tak tahukah kamu, sepanjang sejarah perjuangan kakek mengelola perusahaan, tak ada satu orang pun yang berani membantah kakek. Hanya kamu yang berani. Untuk itu, mau gak mau, suka gak suka, kamu harus tanda tangani. Kalo enggak..."


"Kalo enggak kenapa?" tanya Stella kemudian dengan mimik menggoda sang kakek.


"Kalo enggak... ah, baru saja kakek bilang kan. Cuma kamu yang berani kurang ajar sama kakek. Cepet tanda tangan" wajah Wiliam memerah karena tak berhasil mengerjai cucu menantunya.


"Hhhh... kakek. Tanda tangan penyerahan kepemilikan asset aja pake drama. Kan tinggal bilang, tentu saja dengan senang hati Stella melakukannya. Dan sekarang Stella menjadi pemilik tunggal semua asset kakek. Bukankah itu yang diinginkan semua wanita, kek?" ucap Stella tenang sembari membubuhkan tanda tangannya.


"Iya, tapi kamu bukan salah satunya. Awas aja kalo kamu hibahkan salah satu asset yang kakek beri ke orang lain. Itu semua hasil jerih payah kakek, bukan warisan turun temurun. Kita lihat seberapa kamu menghargai keringat kakek ini" ucap lantang Wiliam dengan mata menyorot pada sosok yang baru dia sadari tengah berdiri di belakang sofa tunggal sambil tertunduk memeluk seorang bayi.


"Tapi ini terlalu.."


"Sudah ku bilang jangan membantah, dasar anak nakal" sergahnya membungkam Stella.


Stella kemudian pasrah dan mengedikkan bahu.

__ADS_1


__ADS_2