The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Mengidap Penyakit Serius


__ADS_3

"Kenapa orang itu muncul sekaraaang" gemas David yang berkomentar karena kemunculan Henry tak sesuai dengan skenario. Stella menoleh padanya sambil mengusap jejak air mata di pipi.


"Mas berisik tau. Feel nya lagi dapet kan ini" protes Stella.


David bergeming merutuki mulutnya yang tak ia kunci sehingga mengganggu kesenangan sang istri.


"Henry.. kau kah itu?" tanya Imelda dalam keterkejutannya. Mencoba mempertahankan kesadarannya dan meyakinkan diri jika yang dia lihat dihadapannya saat ini adalah mantan suami tercintanya dengan menyentuh pipi berjambang nya. Pipi yang selalu ia bersihkan dari bulu kasar yang selalu tumbuh kala masih menjadi istrinya.


"Apa kamu berharap aku ini Arya?" jawab Henry.


Imelda menggeleng lalu matanya menatap sendu dan kepalanya menunduk.


"Kalau kamu Arya, berarti aku sudah mati. Kematian yang menyakitkan karena ditinggal orang yang kucintai. Arya, kamu berhasil menghukumku. Aku mati dalam penyesalan yang selalu datang terlambat. Kurasa kamu gak akan pernah memaafkanku"


"Jangan pernah menyebut nama pria lain dihadapanku" ketus Henry dengan nada cemburu.


Imelda kembali mendongakkan kepalanya karena terkejut.

__ADS_1


"Ini beneran kamu?" tanyanya memastikan.


Henry mengangguk dan balas menyentuh pipi sang istri.


Ya, Henry belum menggugat cerai Imelda ke pengadilan. Dia hanya menggertak saat itu. Tak mungkin baginya melepaskan wanita yang sangat ia cintai, seburuk apapun perilakunya.


Tanpa disangka Imelda jatuh pingsan karena terkejut.


Pingsannya Imelda bersamaan dengan habisnya durasi episode tersebut.


Stella kembali menyapu pipi chubby nya lalu merebahkan kepalanya di pelukan David.


"Hei.. kamu udah janji gak akan sedih, sayang. Pikirkan kebahagiaan, demi anak kita. Ayah lebih disayang Tuhan. Percayalah, tidak ada yang sia sia. Ayah sudah menemukan kebahagiaannya yang abadi bersama sang pencipta. Berkat do'a anak sholeha sepertimu, ayah pasti bahagia di alam sana" hibur David mengecup pelipis sang istri.


Stella mendongakkan kepala agar bisa menatap manik hazel milik sang suami.


"Lalu apa rencana ibu sama suaminya? apa dia akan kembali berulah?" Stella sedikit sanksi akan sifat sang ibu yang mungkin tidak akan berubah saat keinginannya terkabul.

__ADS_1


"Percayakan semua sama Tuhan. Setidaknya dia sudah merasakan kehilangan orang yang dia cintai meski sesaat. Berdo'a lah agar ibumu benar benar berubah lebih baik" David memberi petuah dengan dahi berkeringat. Matanya ia pejamkan sesaat seperti menahan rasa sakit membuat Stella melipat dahinya.


Stella menyadari sesuatu, ekspresinya sedikit panik saat hendak bertanya. Tapi dia takut pertanyaan yang dia pikirkan benar benar terjadi dan dia tidak akan sanggup ditinggal sendiri saat baru merajut kebahagiaan bersama sang suami.


"Mas.. mas kenapa? kok keringetan. Apa mas.. sakit parah?" tanyanya ragu ragu.


Sungguh Stella tak akan siap jika harus kembali ditinggalkan orang yang sangat dia cintai. Cukup sang ayah yang meninggalkannya untuk selamanya, tapi tidak dengan sang suami. Dia tak mau menjalani hari harinya bersama anak yang sebentar lagi lahir jika tanpa suaminya.


Stella merubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan David.


"Sayang.."


"Mas.. bilang sama aku.. kamu gak lagi ngidap penyakit serius kan, kamu gak akan ninggalin aku sama anak kita kan?" cerocos Stella yang mulai berderai air mata dan suara yang tercekat. Tak kan mampu menahan kesedihan jika kenyataan baru menamparnya.


"Sayang..."


"Katakan padaku, mas. Jangan sembunyiin apapun dari aku. Kamu yang bilang padaku untuk jujur" pekik Stella yang tak bisa menahan laju tangisnya.

__ADS_1


"Jaguarku kejepit.." lirih David dengan suara tercekat menahan rasa sakit di pangkal paha nya karena sebelumnya tertekan tangan Stella dan sekarang lutut Stella yang menekannya.


__ADS_2