
Setelah mengantar Stella, David mengarahkan mobilnya ke kediaman Deri. Sesuai perjanjian, mobil itu menjadi milik Deri.
"Haha.. sudah gue duga lo bakalan kalah, meen. Gue bisa nebak tuh cewek gak gampangan kek cewek yang lain. Sini kuncinya"
Dengan berat hati David menyerahkan kunci mobil bersejarahnya.
"Awas jan sampe lecet" ucapnya mewanti wanti.
"Yeee, terserah gue dong. Mo gue modif kek, mo gue bakar kek, mo gue pake bercinta kek, mobil ini udah jadi milik gue"
"Sialan lo"
"Tapi lo suka kan? coba kalo lo gak nerima taruhan gue, mungkin lo gak pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta kek sekarang. Ampe klepek klepek" ejek Deri.
"Berisik lo" umpatnya meski membenarkan ucapan Deri.
David masih merasa berat melepas mobil bersejarahnya. Ada kenangan Stella disana. Dia seolah menyerahkan Stella untuk orang lain. Dia tak kan sanggup jika seperti itu. Dia akan mengorbankan apapun demi Stella. Materi bisa dicari, namun ketulusan tak semudah itu ditemui.
David meneguk minuman dingin yang disuguhkan, sambil membayangkan kenangan terakhir tadi bersama Stella.
Gadis itu mengingatkannya pada buku yang pernah dipinjamnya. Dia pernah menuliskan sesuatu dibagian paling belakang.
"Kakak tau gak? aku punya pengagum rahasia" ucap Stella dengan senyum khasnya yang selalu mengembang kala bersamanya.
"Siapa?"
"Ada deh. Namanya juga rahasia"
"Kenapa emang?" David menampilkan ekspresi tidak suka jika ada lelaki lain yang menyukainya.
"Dia nulis surat cinta buat aku. Romantis banget. Aku ngebayangin wajahnya pasti ganteng, baik, perhatian, pinter masak, sekolahnya juga pinter"
"Trus?"
"Trus aku bales"
"Bales apa?"
"Ada deh. Namanya juga rahasia. Orangnya pasti ngambil buku itu lagi"
Stella memberi petunjuk.
Meskipun David sudah mengetahui perasaan Stella, namun segala sesuatu tentangnya tak boleh ia lewatkan.
"Nyet, gue minjem motor lo yak" David beranjak dan menyambar jaket juga kunci motor Deri.
"E eh.. mo kemana lo?"
__ADS_1
"Sekolah" teriaknya dari ruang tamu.
brukk
Terdengar sesuatu terjatuh.
Deri melangkah menuju ruang tamu.
"Gile, obatnya manjur euy" gumamnya saat melihat David jatuh pingsan di ruang tamu.
"Si, bantuin dong" teriaknya pada Lusi yang tengah menunggu di kamar tamu.
"Seret aja napa sii, orang lagi gak sadar ini" balas Lusi berteriak.
"Sialan tuh cewek. Kalo gak inget sama imbalannya udah gue lempar tuh mak lampir ke selokan belakang" gerutunya sambil bersusah payah menyeret tubuh David yang tak sadarkan diri ke dalam kamar tamu.
"Fiuuuu.... ternyata bodi lo oke juga" Deri bersiul kala mendapati Lusi yang sudah menanggalkan seluruh kain penutupnya dan membangkitkan gairah Deri yang seorang player sedari SMA.
Dia membiarkan David tergeletak di lantai lalu menuntaskan hasratnya pada Lusi sebagaimana perjanjiannya dengan Lusi.
"Lo yakin mo dikeluarin di dalem" tanya Deri yang terengah dengan temponya yang dipercepat, sebentar lagi gunung itu akan meletus.
Lusi mengangguk yakin lalu mengerang karena dia juga akan mencapai puncaknya.
"aaaahhhh...." mereka meledak bersama. Deri merasa puas karena mengeluarkannya di dalam. Selama ini dia menahannya saat hendak meledak dan menyemburkannya diluar agar tak membuat bengkak mangsanya.
"Asal lo tutup mulut lo selamanya. Kapanpun lo mau lo bisa datengin gue"
"Serius" seringai licik terukir di wajahnya kala Lusi mengangguk.
Mereka mengulangnya lagi tak peduli Lusi sudah pernah dengan yang lain sebelumnya, yang penting tujuan mereka tercapai.
"Lo gak takut bunting?" tanya Deri saat sudah menempatkan David di posisi dengan Lusi yang masih polos dan menyambut tubuh polos David yang Deri taruh di sebelah Lusi.
"Sekolah tinggal seminggu lagi ini. Justru biar dia jadi milik gue" Lusi lantas memeluk tubuh polos David dan mengecupinya lalu membuat beberapa tanda merah di sekitar leher dan dadanya.
"Cupangin gue dong, masa dia aja yang keliatan cupangnya. Tar ketauan gue yang ngerjain lagi" pintanya pada Deri.
Deri dengan senang hati melakukannya sambil mengulang kembali.
"Udah ih, ntar dia keburu bangun" sergah Lusi kala Deri lagi lagi meledak untuk yang ke tiga kalinya.
Deri lantas memotret pose absurd Lusi dan David untuk melancarkan rencana Lusi.
Ada rasa marah dalam diri Deri saat melihat pose Lusi bersama David.
Deri lantas mendekat pada Lusi dan mendesis.
__ADS_1
"Inget, status lo boleh milik dia, tapi tubuh lo cuma milik gue" tukas Deri yang lantas meninggalkan mereka berdua di kamar tamu.
Deri membanting pintu dengan kesal namun membuat Lusi tertawa nyaring.
Tangan Lusi menjelajah setiap inchi tubuh polos David, seandainya dia bisa melakukannya dengan David, pastilah dia jadi wanita paling bahagia di dunia ini.
"Engghh.." David mengerang, tampaknya mulai sadar. Lusi segera berpura pura tertidur.
"Sakit banget kepala gue uhh- what?" David terkejut melihat sosok Lusi tertidur berbantalkan lengannya. Tapi ada yang aneh dengan keadaan mereka.
David meneliti sekitar lalu membuka sedikit selimut yang menutup tubuhnya yang..
"Sialan" geramnya.
David lantas menarik paksa lengan yang digunakan Lusi sebagai bantalnya. Lalu mencari pakaiannya dan memakainya.
"Enggh.. kak.. kak David... hik... aku.. aku gak nyangka kakak ngelakuin hal ini sama aku... hik.." Lusi terisak.
"Hentikan sandiwaramu, dasar sundal. Apa maumu?" tanya David dengan suara datar dan berat. Ingin rasanya dia mencabik cabik manusia bejat ini.
Lusi menangis meraung
"Apa yang terjadi?" Deri merangsek masuk saat mendengar kode dari Lusi saat dirinya menangis.
"Apa yang lo berdua rencanain, hah?" geram David berteriak pada Deri.
"Hei, meen, jangan nuduh gue. Lo yang mabok lo yang seret dia ke kamar. Apa hubungannya sama gue?"
"Sialan. Gak seharusnya gue nyentuh benda haram itu" gumamnya dalam hati.
Mereka memang sesekali minum alkohol tapi tak pernah sekalipun David mabuk gara gara minum seteguk.
"Huuuuu... gimana masa depan gue...huuu..."
"Meen, lo harus tanggung jawab" Deri menepuk bahu David dan keluar dari kamar.
David kembali melirik pada Lusi yang masih tergugu sambil mengeratkan kain putih pembungkus tubuh polosnya.
"Sial" David memukul pintu lantas pergi keluar dari rumah Deri.
Lusi tertawa nyaring saat David sudah dipastikan jauh dari rumah Deri.
"Gimana akting gue?" tanya Lusi masih tertawa saat Deri kembali masuk setelah memastikan David tak kembali.
Dia lantas kembali membuka seluruh pakaiannya dan kembali menghujam Lusi dengan penuh nafsu.
"Kamu luar biasa, sayang" ucap Deri desela hentakannya. Dia tak peduli dengan benih yang akan diakui keluarga David sebagai darah daging David. Yang dia pedulikan adalah dia bisa dengan bebas kapanpun menyalurkan hasratnya.
__ADS_1