
"Dari mana saja kalian?" tanya Lusi di ambang pintu sambil bersidekap.
Lusi merasa panas saat melihat tawa dari keduanya ketika baru keluar dari mobil. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam dan mereka baru kembali dengan membawa beberapa barang yang murahan menurut Lusi.
"Tentu saja kami sedang pendekatan, kakak madu" jawab Stella enteng dan riang. Dia lantas membawa barang barang yang merupakan hadiah berburunya bersama David ke kamar.
"Selamat malam, kakek. Maaf Stella baru pulang" sapa Stella pada Wiliam yang baru keluar dari kamar yang berada di lantai 1.
"Malam, sayangku. Kenapa baru pulang? lalu.." Wiliam membalas sapaan lalu bertanya melalui gesture tangan yang menunjuk barang barang yang sebagian banyak adalah boneka.
"Ah, iya. Ini hadiah untuk Stella dari hasil berburu mainan, kek. Stella seneeeng banget hari ini diajakin kak David ke taman hiburan karena Stella belum pernah kesana" Stella bercerita dengan ceria, membuat Wiliam membayangkan jika dia punya cicit darinya pastilah rumah ini akan terasa ramai dan hangat.
"Syukurlah kalau kamu senang, kakek ikutan senang"
"Apa kakek sudah makan malam?" tanya Stella masih duduk bersimpuh karena Wiliam menggunakan kursi roda.
"Kakek menunggu kalian" jawabnya. Padahal Wiliam sudah makan malam tentu saja. Dia hanya ingin menghabiskan waktu sebanyak banyaknya dengan cucu cucunya.
"Ya ampun. Maafkan Stella, kek. Sebentar ya, Stella bersih bersih dulu habis itu Stella bikinin makan malam. cup"
Stella mengecup pipi Wiliam saat pamit.
Hati Wiliam menghangat, air matanya bahkan menitik setetes.
__ADS_1
"Ya Tuhan, anak itu.. aku baru merasakan cinta seorang cucu begitu tulus" ucapnya dengan suara sedikit bergetar.
"Tuan, apa kita akan makan malam lagi?" tanya sang ajudan.
"Tentu saja aku akan malam lagi. Apalagi cucuku yang akan membuatkannya untukku"
"Kakek. Belum istirahat?" tanya David menyapanya sambil menyalami dan mengecup punggung tangannya.
"Kakek menunggu kalian. Kemana saja kamu membawa cucuku hingga pulang jam segini?"
"Aku hanya sedikit menghiburnya, kek. Pekerjaan hari ini sangat melelahkan"
"Sayang, bagaimana dengan aku? aku juga lelah menunggumu di rumah, aku juga butuh hiburan" sela Lusi yang sedari tadi mengekor David.
"Sudahlah, hentikan rengekanmu. Bukankah kamu sering mencari hiburan di klub tanpa izinku atau kakek?" mata David mendelik kearahnya lalu melangkah menuju kamarnya.
"Kakek, maaf Stella lama. Kakek mau makan apa?" tanyanya sambil melihat bahan bahan yang tersedia di dalam kulkas.
"Apa saja yang kau sajikan, kakek pasti makan" jawab Wiliam antusias.
"Apa kakek tidak punya menu pantangan?" Stella masih menimbang nimbang makanan apa yang bisa dia buat dengan bahan yang ada, tentu saja harus sesuai dengan kondisi kesehatan Wiliam.
"Tidak ada. Selain kaki tua ini yang sudah tidak kuat untuk berdiri dan berjalan terlalu lama.
__ADS_1
"Baiklah. Apa tidak masalah dengan kentang? makan nasi jam segini cukup beresiko"
"Kakek bilang apapun yang kau sajikan kakek akan memakannya"
Stella memutuskan membuat krim sup ayam kentang.
"Tadaaa.... Semoga kakek suka dengan masakan Stella"
"Terimakasih, sayang. Waaaah sepertinya enak" ucap Wiliam yang langsung menyambut mangkuk dengan isi yang masih mengepul.
"Mana buatku?" tanya David yang sudah segar setelah membersihkan diri lalu berniat mengambil minum namun mencium aroma masakan yang tak biasanya menguar pada jam segini. Ditambah suara percakapan gadis yang dia rindukan setiap saat dengan sang kakek.
"Iya iya" Stella lantas menyiapkan 1 porsi untuk David dan dirinya.
"Sayang.. kamu... belum makan malam? mau aku buatkan sesuatu?" tanya Lusi tiba tiba.
"Gak perlu. Stella udah bikinin. Nanti mubazir kalo kebanyakan"
"Kakak madu mau Stella ambilkan juga?" tanya Stella saat melihat Lusi masuk ruang makan.
uhuk
__ADS_1
uhuk
"Kakak madu?" gumam David.