The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Permintaan Deri


__ADS_3

"Emang ngapain?" tanya polos Stella sambil menyeruput kuah kari.


"Mau tambah?"


"Hehe.. boleh? MAAANG SATU LAGII" teriak Stella tiba tiba sebelum David meng iya kan membuat nya terkejut.


"Kamu selama di Wales makan apa?"


"hhh.. gak pernah kenyang kalo makan disana, roti lagi roti lagi. Kalo pengen masakan indonesia harus ke restoran khusus, trus dikit pula porsinya"


"Udah kenyang?" tanya David saat mereka selesai menghabiskan 2 porsi masing masing.


"Bapak belum jawab pertanyaan saya"


"Yang mana?" David melangkah ke mini market untuk membeli minuman dingin.


"Emang cewek kalo liat orang ganteng ngapain? setau saya cuma liatin aja" ucapnya sembari memilih minuman kemasan botol yang berjejer rapi di kulkas mini market.


"Serius cuma liatin aja?"


"huum"


"Gak niat ngapa ngapain gitu?"


"Emang harus diapain?"


"Bagus, pertahankan seperti itu" David mengacak rambutnya lalu mengambil minuman yang Stella raih dan membayarnya sekalian.


"David? hey ma meeen, ini beneran elo. Gilee tambah ganteng aja lo"


"Deri. Iya ini gue" David membalas sapaannya dengan malas.


"Lo kapan balik dari Belanda? gak kirim kirim kabar" Deri lantas melihat pautan tangan David dan Stella yang enggan David lepas. Sedangkan Stella tengah asik meminum minumannya menghadap arah lain.


"Dia.."


"Gue jalan dulu" David langsung melangkah menarik Stella tanpa mau berlama lama mengobrol dengan teman SMA nya.


"Bini lo gimana, nyariin tuh" teriak Deri karena mereka sudah melangkah menjauhi.


"Ambil aja" balas David berteriak.


"Kok dikasiin ,istrinya pak?"


"Buat apa dipiara juga. Orang mereka sering main tanpa bilang dulu sama saya. Kalo memang dia nganggep saya sebagai suami, seharusnya gak ngeladenin laki laki lain, kan?"


"O o oww.. ceritanya lagi merajuk nih bapak. Terus ni tangan maksudnya apa?"


"Eh, maaf. Takut kamu ilang. Kan lagi rame gini" David segera melepas pautan tangan.


"Ya udah nih, nanti ilang" seru Stella menyodorkan tangannya lagi dengan cuek dan langsung disambut David dengan menyembunyikan senyumnya.

__ADS_1


Mereka berjalan jalan menyusuri para pedagang dan berbaur dengan para pejalan kaki lain menikmati suasana kota yang bebas polusi sehari. Membeli beraneka macam jajanan yang sudah sangat lama tak mereka jajal.


"Makasih, udah dijajanin. Udah bisa lepas, pak. Udah nyampe" ucap Stella di depan gedung apartemennya.


"Hmm. Mau dianter keatas?"


"Gak usah. Saya gak akan nyasar"


"Ah iya. emm.. kemarin.. maaf ya soal Wu Chen, saya gak maksud buat-"


"Gak pa pa. Saya tau bapak pasti kenal. Saya masuk ya" pamit Stella yang langsung berbalik tanpa menunggu persetujuan David.


"fuhhh.. kalo gak liat cowok tadi ngikutin, udah aku piting tuh bos rese" gumam Stella sambil memakan jajanan yang diborongnya.


Lain halnya dengan David yang merasakan jantungnya kembali berdetak.


Pagi menjelang


Senin pagi merupakan hari paling dibenci sebagian orang yang kembali mengawali aktifitas membosankan setelah 2 hari berleha leha dan traveling.


Tidak bagi David.


Hari senin adalah awal kebahagiaannya dalam seminggu.


Wajah berseri itu kini selalu tampak menghiasi wajah dingin yang selama ini ditampilkan.


David bahkan membalas sapaan setiap karyawan yang menyapanya.


"Selamat pagi, tuan. Ini agenda anda hari ini" sapa Meyra saat melihat atasannya datang lalu menyodorkan jadwal kegiatan hari ini yang berisi beberapa kali meeting pada jam yang berbeda.


"Mana dia?" tanyanya datar berharap Meyra mengerti siapa yang dia maksud.


"Sedang ke kamar mandi, tuan. Hari ini pencernaannya sedikit bermasalah. Sebentar saya panggilkan"


"Tidak perlu. Suruh pulang dan istirahat saja. Pasti mengganggu pekerjaan jika dipaksakan"


"Baik, tuan"


Meyra sedikit menelengkan kepala. Ada apa dengan atasannya ini. Kemarin tampak tak mau melepaskan Stella, sekarang malah mengusirnya.


Dia lantas mengedikkan bahu.


David masuk ke ruangan dengan ekspresi dingin diikuti Deri yang terlihat angkuh karena bisa masuk ruangan seorang presdir.


"Tuan, maaf. Saya sudah sampaikan kalau agenda presdir Wiliam hari ini penuh, silahkan anda datang besok untuk mengisi jadwal" sergah Meyra kala Deri hendak melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Kenapa saya gak boleh masuk, kamu belum tau siapa saya"


"Maaf tuan. Ini peraturan"


"Halah. Bro, bagaimana ini. Masa gue sohib lo gak boleh masuk" teriaknya dari depan pintu.

__ADS_1


"Biarkan dia masuk" ucap David melalui interkom.


"Baik. Silahkan, tuan"


"Apa kataku. Jangan sok kamu jadi sekertaris. Mana udah tua lagi" sarkasnya yang membetulkan posisi jasnya lalu membuka pintu kokoh itu.


"Gile ma meeen.. lu hebat pulang pulang langsung jadi presdir aja. Bagi posisi dong" puji Deri yang langsung mengambil posisi duduk di kursi depan meja David sambil bertumpang kaki.


"Ck, keluargamu punya perusahaan. Kenapa mau jadi jongos di perusahaanku?" jawab David sambil memilah dokumen yang harus didahulukan pengesahannya.


"Ck, perusahaan keluargaku gak asik. Masa gue mau ditempatin sebagai manajer area?"


"Terus, kamu pikir datang kesini berharap ditempatkan sebagai apa?"


"Yaa, ada elu kan minimal gue bisa jadi direktur keuangan misalnya, atau minimal direktur personalia lah"


"Di perusahaan sendiri saja kau ditempatkan sebagai manajer, kenapa berharap di perusahaan orang bisa menjadi direktur. Apa kualifikasimu?"


"Yah kan ada elu, meeen. Itulah fungsinya sobat. Beda sama keluarga yang saling sikut berebut posisi"


David bergeming. Dirinya benar benar tak ada waktu untuk meladeni ocehan tak bermutu dari mantan sahabatnya.


"Eh, ngomong ngomong. Cewek yang kemaren boleh juga tuh. Elu dapet dari mana? terus bini lu gimana" Deri dengan santainya membahas hal yang dianggap sangat tidak penting membuat David jengah.


"Kalau tidak ada urusan pekerjaan, silahkan pergi. Saya sibuk"


David lantas bangkit dan melangkah keluar dari ruangannya.


"Mey, kirimkan kopiku ke ruangan meeting" titahnya. Stella masih tak terlihat. Untunglah, mungkin dia sudah pulang. Pikirnya.


"Baik tuan"


"Bro.. kemana- aaargh, sialan. Dasar sombong tuh orang. Mentang mentang punya jabatan penting" kesalnya menggerutu.


"Eh, janjian sama Lusi ah. Dia pasti kaget kalo lakik nya udah balik ke Indonesia"


"Halo, Si..."


Deri melakukan panggilan telpon pada Lusi sambil melangkah menjauh meninggalkan kantor David.


"Bi, gimana ini. Perutku gak bisa diajak kompromi" keluh Stella datang dari arah toilet.


"Udah, kata si bos kamu pulang aja, istirahatin gih. Di kotak obat bibi punya obat diare, coba minum itu dulu. Kalo bibi pulang kamu masih belum mendingan, kita ke rumah sakit ya"


Stella mengangguk lemah lalu mengambil tas tangannya dan melangkah gontai ke arah lift.


"Aduuuh, mamang ojolnya udah dateng belum ya" gumamnya lemah saat keluar dari lift sambil terus menekan perutnya yang dirasa kembali bermasalah.


"Keknya masih agak jauh" Stella segera berlari kearah toilet sebelum ojol pesanannya tiba.


"Kayak pernah liat cewek itu deh" gumam Deri saat keluar dari toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita.

__ADS_1


__ADS_2