
"Berhenti memanggilku seperti itu" sergah Lusi mendesis.
"Dia benar, berhenti memanggilnya seperti itu" David menyetujui ucapan Lusi membuat senyum mengembang dibibirnya. Baru kali ini David mendukungnya.
"Aku tidak berniat untuk mempertahankannya dan menjadikanmu yang kedua"
Senyum lebar itu surut seketika.
"A.. apa yang kau maksud, sayang?" tanya Lusi lirih.
"Aku tidak mau mendua, karena aku tidak akan bisa adil. Jadi aku pasti akan melepaskanmu dulu baru mengikatnya"
"Ah sudah sudah.. sudah larut.. kakek mau tidur. Stella sayang, terimakasih makan malamnya. Kamu juga cepat istirahat ya" pamit Wiliam yang tak mau mendengar lebih jauh drama yang akan bertambah panas. Sangat tidak cocok dengan usianya yang menginginkan ketenangan.
"Baik kakek. Selamat beristirahat" balas Stella.
krik
krik
Seketika suasana menjadi canggung. Namun Stella tetap melanjutkan makannya dalam diam tanpa menghiraukan kecanggungan.
"Aku duluan" Stella bangkit dan membawa mangkuk bekas makannya dan Wiliam ke bak cuci piring lalu mencucinya.
David mengikutinya yang juga akan mencuci bekas makannya sendiri meski Stella memintanya untuk sekalian dicuci.
"Heh.. dia bahkan rela membuat tangannya kasar demi pencitraan. Kamu benar benar membuatku muak, Stella" gumamnya di meja makan sambil memperhatikan interaksi antara Stella dan David.
Lusi lantas bangkit dan kembali ke kamarnya. Pintunya ia banting dengan kencang sehingga menimbulkan suara debuman.
"Aku duluan, kak" pamit Stella setelah selesai dengan piring kotornya.
"Tunggu aku" sergah David yang segera menyelesaikan piring kotornya.
__ADS_1
"Ck, kenapa harus ditungguin sih. Takut ada hantu yaaa" goda Stella.
"Kamu benar. Nanti gimana kalo ada setan cabul yang godain aku?" timpal David yang membuat ekspresi Stella kembali datar. David terkekeh melihat perubahan mimik nya.
"Udaaah. Yok kita bobo" David meraih tangan Stella dan menariknya.
"K kak.. m masa kita bobo bareng, kan yang suami istri itu kakak sama Lusi" ucap Stella gugup sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan David.
"Ya ampun, dasar anak perawan.
Stella sayang..."
"Jangan pake sayang, kak. Geli"
David terkekeh.
"Iyaa Stella kuuu... kita tidur bareng di kasur masing masing di kamar masing masing, sayaaaang..." David lanjut tergelak kala wajah Stella merah.
"Kamu masih kecil udah bisa mikir yang iya iya, ya" godanya menaik turunkan kedua alisnya.
"Ohoo.. udah dewasa udah bisa diajak hal yang berbau dewasa, dong" lanjut David.
"Iiih... kaka mikirnya jorok..." Stella mendorongnya lalu berlari kearah kamarnya sambil menangkup pipinya yang terasa panas.
"Lah masa shopping, nge gym, nonton bioskop, sama ke salon jorok sih? masa mau main congklak terus" ucap David setengah berteriak.
"Bodo ah" balas Stella sambil menutup pintu. David kembali tergelak karena berhasil menggodanya lagi.
Semua itu Lusi saksikan dari lantai 2 sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kalian nikmatilah saat saat terakhir kebersamaan kalian. Karena sebentar lagi, tawa kalian akan menjadi tangisan. Sekali lagi Lusi yang akan menjadi pemenangnya. Dan selalu Lusi sampai kapanpun. Dan kamu, David, aku akan pastikan kamu mengemis padaku dan menyerahkan dirimu padaku sekali lagi. hehehehe..." gumaman Lusi dengan tawa iblisnya.
......................
__ADS_1
"huuuuuuu....." suara tangis seorang perempuan samar samar tertangkap oleh pendengaran David yang masih belum memejamkan mata.
David terkesiap, lalu lebih menajamkan pendengarannya lagi.
"sakiiiiithuuuuu......"
"Stella?"
David langsung melompat dari tempat tidur dan keluar lalu mengetuk pintu kamar Stella.
"Stella.."
tok tok tok
"Stell.. kamu baik baik aja?"
tok tok tok
David menempelkan telinganya pada daun pintu.
"Aaaa sakiiiithuhuuuu.... tolooong..."
David semakin panik kala mendengar permintaan tolong Stella.
Dia mencoba membuka handle pintu yang ternyata tidak dikunci.
ceklek
David tidak menemukan Stella di ranjang ataupun sofa.
"Huuuuu..... sakiiiiiit...huhuuuu... toloooonng... aaaaaaa"
"Stella-" suara David terpotong kala membuka pintu kamar mandi yang juga tidak dikunci.
__ADS_1
"Astaga, Stella. Apa yang terjadi?"