
"Deri! Apa yang kau lakukan? Sudah kuduga kamu gak bisa dipercaya, sini kamu" hardik Stella yang langsung menjewer telinga kembaran abal abal suaminya yang tengah mengungkung wanita itu diatas meja makan yang lebar. Meski masih mengenakan pakaian lengkap namun torpedonya terlihat ingin menembus kain penghalang.
"A a a ampun, Stella.. Hati hati parfumnya mengandung obat perangsang" peringatan Deri menghentikan langkah pak Andi dan beberapa pria bertubuh kekar.
"Ada yang keberatan? sebelum tempat ini rata dengan tanah barangkali ada yang ingin bersenang senang dulu?" tanya Stella menawarkan. Terlihat sang wanita sudah belingsatan terefek parfumnya sendiri.
Seorang pria bertubuh pendek mengajukan diri menjadi relawan, lalu sisanya keluar dari gedung setelah Stella mengingatkan untuk menyelesaikannya dalam waktu 10 menit atau mereka akan terkubur hidup hidup.
"Kamu nyeremin juga ternyata" keluh Deri sedikit was was dengan kekejaman wanita yang ia ketahui dulunya seorang yang culun dan lemah.
"Bukannya pemilik perusahaan terbesar harus kejam ya biar gak pada macem macem" sinis Stella dengan mata menyorot Deri yang tengah mengusap telinganya.
"Turunin tuh tongkat. Ganggu pemandangan tau gak" sindirnya sambil menunjuk pada torpedonya yang masih tegang dibawah sana dengan matanya.
"Gak bisa lah Stell. Kalo udah kepancing kek gini ya harus dituntasin. Kamu.."
plakk
__ADS_1
Stella menampar pahanya berharap yang menantang jadi menciut.
"Ogah. Enak aja aku bantuin kamu" tegasnya.
"Aduuuuh... bener bener ya elu mah kebangetan. Maksud gue kamu punya obat penetral ga. Panas nih badan gue bisa bisa salah sasaran nih" terlihat keringat bermunculan dipelipisnya. Stella sendiri merasa tak tega. Secara Deri telah menolongnya menggantikan sang suami untuk menjebak wanita sialan itu.
Stella memindai lokasi sekitar lalu melihat sesuatu di sebrang sana.
"Pak, tolong beli kelapa muda yang disana, bagikan masing masing 1 kepala. Dan saya minta 2 didahulukan kesini ya pak" titah Stella pada salah satu pekerja bongkaran itu yang masih menunggu rekannya keluar.
Stella meraih 2 kepala kelapa muda yang disodorkan salah satu pekerja itu lalu menyodorkan 1 buah pada Deri.
"Habiskan sekaligus" titah Stella. Deri dengan senang hati meraih kelapa itu dan langsung menghabiskannya karena rasa panas di tubuhnya benar benar mulai menguasai akal sehatnya.
Stella menyodorkan 1 buah lagi dan memintanya untuk kembali meneguk hingga habis.
"Ga, Stell. Cukup.. perutku udah ga muat" Deri angkat tangan jika perutnya harus terus diisi. Bisa muntah saat itu juga.
__ADS_1
"Habiskan sampai kamu muntah. Kamu harus mengeluarkan racun yang sudah masuk tubuh kamu" Stella memaksa membuat Deri tak bisa menolak.
Benar saja, belum juga habis dia sudah muntah karena perutnya yang terlampau penuh.
Hoek
Hoeeek
uhuk uhuk
"Masih panas?" tanya Stella sedikit acuh yang dibalas Deri dengan gelengan kepala. Stella tersenyum miring lalu berjalan kearah mobilnya untuk masuk kedalamnya dimana sang suami tengah menunggu.
"Dari mana kamu tau penetral obat durjana itu adalah kelapa?" tanya Deri berteriak.
"Bukannya kamu anak IPA?" Stella menjawab dengan pertanyaan.
"Apa hubungannya sama gua yang anak IPA? perasaan di buku IPA ga ada yang bahas tentang obat perangsang deh" gumam Deri yang kebingungan sendiri.
__ADS_1