The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Menggertak


__ADS_3

David sudah kembali ke perusahaan. Kembali menjalankan kewajibannya untuk menafkahi sang istri dan calon anaknya. Tapi kini dia menginginkan sang istri kembali mendampinginya hingga waktu melahirkan tiba. Pak Andi yang sudah sehat kini ditempatkan sebagai sekertaris pribadinya yang mengikuti kemanapun sang Presdir pergi agar bisa mengimbangi langkahnya, dan Stella yang stand by di kantor menghandle telfon masuk dan menentukan janji temu menyesuaikan jadwal kosong.


Ada yang berbeda dengan tampilan kantor kali ini. Karena David memindahkan ruang meeting yang bersebelahan dengan ruangannya 1 lantai kebawah dan bekas ruang meeting itu kini menjadi ruang pribadinya jika ingin beristirahat dengan sang istri alias mantan sekertaris pribadi nya. David benar benar tak mau lagi berpisah lama dengan Stella. Dia akan membawanya serta jika harus keluar kota. Dan jika Stella tak bisa ikut, maka dia akan diwakilkan oleh pak Andi.


"Pak Andi, hari ini bapak yang stand by di kantor. Biar Stella yang mendampingi saya"


"Tapi kehamilan nyonya sudah besar, tuan"


"Gak masalah, saya bisa menggendongnya"


"Baik, tuan"


Pak Andi pun keluar ruangan untuk menyampaikan apa yang baru saja bos nya perintahkan.


"Hhh... sudah kuduga. Ya sudah, berkas berkas yang sebelah kiri belum saya cek ya pak, nanti tolong bapak yang cek dan pisahkan yang belum sesuai persyaratan" Stella lantas bangkit dan bersiap siap. Dia sudah menduga hal ini karena klien yang akan dia temui adalah seorang wanita.

__ADS_1


tok


tok


Meski itu adalah ruang kerja sang suami, Stella tetap menjalankan adab di kantor, yaitu mengetuk pintu sebelum masuk. Padahal didalam juga sedang tidak ada tamu.


"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya David yang baru selesai menggoreskan tinta pada kertas yang kemudian ia tutup map yang membungkusnya.


"Sudah. Apa kali ini kamu juga akan membatalkan perpanjangan kontrak kerjasamanya? Perusahaan ini cukup memberikan keuntungan yang lumayan buat perusahaan kita" tanya Stella yang merapikan dasi dan kerah sang bos pemilik hati nya. Lalu membantunya memakaikan jas. Sebuah kecupan mendarat di bibir nya.


"Itu urusanku, sayang. Tergantung mood ku hari ini yang mulai mengendur" jawabnya sambil memeluk pinggangnya. Sayang terhalang perut buncit Stella jadi tak bisa sekedar menyapa sumber kenikmatan milik istrinya dari luar.


"Sedikit hidangan pembuka bisa mengembalikan mood ku" David lantas menggendongnya kearah ruang pribadi yang terhubung dengan ruangan kerjanya.


"Tapi ini jam kantor"

__ADS_1


"Makanya, kita buat jaguarku bekerja. Dia tak boleh bermalas malasan, bukan?"


"Meetingnya 1 jam lagi" Stella terus berusaha menggagalkan keinginan bos rese kesayangannya karena hanya ingin menggodanya saja.


"Jangan khawatir, dia tidak akan lama"


"Yah, ga enak dong kalo gak lama"


"As you wish, my queen"


David tahu maksud istri menggemaskannya ini hanya ingin menggodanya saja tanpa menuntaskannya. Tapi dia sudah ahli dalam menghadapi kejahilan Stella.


Tanpa memberinya kesempatan protes, David membungkamnya dan membawanya ke nirwana.


"Sayang, udah mau setengah jam ini. Belum mandi, belum- hmmpp..."

__ADS_1


David gemas dengan ocehannya yang tak sesuai dengan keinginan tubuhnya. Dia kembali membungkamnya dan membuatnya berteriak meminta lebih.


Sudah ia duga landak mini nya ini hanya menggertaknya untuk berhenti. Padahal hati kecilnya memohon jangan berhenti.


__ADS_2