
"Makanya liat tuh pake mata hati karena mata kepala bisa menipu diri" tukas David.
"Deri. Ayo pulang. Kelamaan disini bisa meledak tau gak" sinis Lusi.
"Eeh, tar dulu. Gue masih mau disini sama Stella. Lo pulang aja gih sama lakik lo" tolak Deri.
"Enak aja. Yang bawa dia kesini siapa, lo kudu balikin lagi ke asalnya" sergah David yang tak mau berdekatan apalagi berduaan dengan Lusi.
"Aku duluan ya" bisik Stella pada David dengan mesra. Sesuatu dalam diri David berdesir kala Stella melakukan itu.
grepp
Tangan Stella ditahan David.
"Tunggu di mobil" balas David berbisik sambil memberikan kunci mobil.
Lusi geram melihat keintiman mereka. Benarkah mereka ada main di kantor? Secara Lusi bahkan tak pernah disentuh David seujung jari pun.
"Kalian... kalian ada main ya?" celetuk Lusi karena tak bisa menahan perasaan panasnya lagi.
Stella menghentikan langkahnya lalu menoleh padanya.
"Main? umur segini udah gak jamannya main main bu" tukas Stella menyunggingkan senyum merendahkan lalu melanjutkan langkahnya.
Apa maksudnya gak main main? apa mereka benar benar punya affair? batinnya sambil mengetatkan rahang.
"Gue cabut dulu. Lo balikin tuh bini orang" sindir David pada Deri.
"Sialan lo. Bini lo juga pake bilang bini orang" gerutunya.
"Udah tau bini gue napa lo embat. Jijik gue bekas elo" sarkas David sambil berlalu membuat Deri dan Lusi tak bisa berkata kata.
"Elo sih, pake ngajakin gue kesini. Gerah kan jadinya. Kesel tau gak" cerocos Lusi dengan kesal.
"Yeee yang maksa ngikut siapa, dibilang si David mo dateng lo langsung mepet mepet minta ngikut. Enak aja main nyalahin gue" Deri balas menggerutu.
__ADS_1
"Lagian udah bertahun tahun lo masih belom bisa naklukin si David? heh udah gue duga si David gabakalan buka hati sama cewek modelan elo"
"Sialan lo ngatain gue. Trus lo napa mau sama gue? udah dikatain diembat juga. Munafik lo"
"Elo ga bisa bedain cowo baek baek sama cowok brengsek. Lo samain gue sama si David? beda lah Si. Lo tau kan gue brengsek. Ada yang gratisan ya gue embat. Elo yang bego jadi cewek" sarkas Deri sambil menunjuk wajah Lusi dan langsung berlalu meninggalkannya. Lama kelamaan dia merasa jengah dengan rengekan Lusi. Pantas saja David tidak selera dengan wanita ini, pikirnya.
Stella sudah duduk manis di dalam mobil. David masuk dan memasang seat belt.
"Kita nengok ayah?" tanya David sambil menyalakan mobil.
"Langsung pulang aja. Biar nanti sama bibi nengok ayah nya" jawab datar Stella.
David membuka kembali seat belt nya dan merubah posisi duduknya menghadap Stella.
"Kamu.. marah sama aku?" tanya David lembut dan takut Stella menjauh.
"Menurutmu?"
David bergeming.
Lagi lagi aku dibodohi" tukasnya yang membuang pandangan kearah jendela.
"Maaf" hanya itu yang bisa David ucapkan sambil menunduk.
"Aku gak mau kamu pergi lagi. Bertahun tahun aku berdo'a agar kita bisa ketemu lagi. Aku gak pernah rela kehilangan kamu" ucap sendu David.
Stella menoleh.
"Dasar serakah. Kamu udah dapetin Lusi yang jauh lebih cantik dari aku. Kamu sengaja deketin aku biar deket sama Lusi, kan? Kenapa kamu masih ngomong gitu?"
David menggeleng.
"Itu gak bener. Dari awal aku gak pernah suka sama dia. Dia munafik. Aku tau dia yang ngehasut para pembully itu untuk menekan kamu. Aku tadinya mau buka kedok dia, tapi takut kamu benci sama aku karena menurutmu dia adalah sahabat yang baik. Tapi dia keburu ngejebak aku-"
"Udah lah. Mau kamu jelasin juga gak akan ngerubah masa lalu. Aku gak mau berada diantara permasalahan kalian. Tolong jangan libatkan aku" tegas Stella.
__ADS_1
David menghela nafas untuk meringankan beban yang mengganjal tenggorokannya.
Dia kembali memasang seat belt dan melajukan mobilnya kembali ke apartemen Stella.
Stella meminta diturunkan di depan apartemen. David hanya bisa menurut.
Stella melangkah gontai hingga ke unitnya.
"Bibi.. kenapa bibi tega sama Stella" ucap nya sambil terisak dalam pelukan Meyra.
"Maafkan bibi, nak. Bibi gak tega sama kalian berdua" ucap Meyra sambil mengusap lembut kepala belakang Stella. Dia tau pasti akan ada masalah setelah Stella memutuskan pergi ke sekolah lamanya. Tapi Meyra menyerahkan semuanya pada sang penguasa.
"Dia juga menderita sama sepertimu, nak. Dia depresi berat dengan kepergianmu. Bibi sayang sama kamu, tapi bibi juga gak tega sama David.
Dia laki laki yang baik. Dia dijebak oleh Lusi, dia bahkan pergi ke Belanda tanpa istrinya setelah kamu pergi ke Inggris"
"Apa yang harus Stella lakukan sekarang, bi. Stella gak tau harus bersikap gimana setelah tau siapa dia"
"Bersikap seperti biasa saja, sayang. Tunjukan kalau kamu memang pantas diperjuangkan"
"Maksud bibi?"
"Sudah lama David dan tuan Wiliam ingin membuang Lusi. Tapi mereka belum mendapatkan bukti kebohongan Lusi. Keluarga Lusi mengancam akan mencemarkan nama baik keluarga besar Wiliam karena Lusi selama ini bersikap manis di rumah. Orang suruhan tuan Wiliam tak pernah bisa mendapatkan bukti kuat untuk menceraikannya.
Keluarga mereka memang benar benar licik"
"Jadi.. masalahnya hanya ada pada Lusi?"
"Benar, sayang. David bahkan tak yakin kalau janin yang Lusi kandung waktu itu adalah benihnya. Orang pingsan mana bisa berdiri, bukan?"
"Bi"
"Hnn?"
"Ajarin Stella jadi pelakor, bi"
__ADS_1