The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Rela Dimanfaatkan


__ADS_3

"Jangan ambil barangku. Lepaskan tangan kotormu.. Lepaskaaan... Ini milikku.. hanya ini yang aku punya.. tolong lepaskan milikku..." raung Imelda panik sambil berderai air mata saat berebut koper yang dia bawa kemana mana berisikan pakaian sisa dan sedikit uang sisa dari hasil penjualan 1 koper pakaian ber merek dan heels branded.


Si pria tak berhasil merebut kopernya, namun sesuatu menarik penglihatannya.


"Bagaimana dengan cincin itu. Berikan padaku. Kita bisa menjualnya dan kita bagi dua. Setidaknya harganya bisa untuk makan selama sebulan penuh jika dibagi 2 bukan" lelaki itu berusaha meraih tangan Imelda untuk merampas cincin berlian yang ia kenakan di jari manisnya.


"Jangaaan.. ini adalah peninggalan berharga dari suamiku" pekik Imelda seraya melindungi cincin kawinnya dengan Henry Frost. Lelaki yang berbeda 10 tahun lebih tua darinya yang selama ini sudah menopang hidupnya dengan kemewahan. Tak ia sangkal jika awalnya dia hanya memanfaatkan lelaku itu demi harta, namun seiring berjalannya waktu perasaan cinta itu tumbuh dan mengakar.


Imelda tergugu menjatuhkan dirinya di trotoar kotor nan dingin. Memeluk tangannya sendiri seolah memeluk suaminya.

__ADS_1


"Lalu dimana dia sekarang, hah? lihat dirimu. Kotor, kumal, bau. Suamimu pasti sedang bersenang senang dengan wanita lain" sindir laki laki itu sambil tersenyum meledek menertawakan dirinya yang berharap terlalu tinggi pada lelaki yang sudah membuangnya pikirnya.


"Tidak. Dia bukan laki laki seperti itu. Dia sangat mencintaiku. Dia tak mungkin menghianatiku. Aku yang bodoh telah meninggalkannya. Bodohnya aku meninggalkan laki laki yang sangat aku cintai karena dia sudah bangkrut. Bodoh.. aku sangat bodoh.. sekarang aku sudah diceraikan.. aku benar benar kehilangannya..." racau Imelda yang terus memeluk tangannya sendiri sambil menggoyangkan tubuhnya yang terduduk di trotoar. Tangisannya pecah kala mengingat kenangan bersama sang suami yang selama ini seolah tak peduli dengan tingkah borosnya. Namun dia terus berusaha menyenangkan sang istri yang tak tahu diri.


Sekelebat bayangan tentang Arya sang mantan suami terlintas di pikirannya membuat tangisan itu bertambah kencang.


Imelda terus meracau sendirian tak peduli jika orang yang melewatinya menganggapnya gila. Tak peduli juga apakah lelaki yang hendak mengambil barang miliknya menertawakan dan mencibirnya.


Imelda terus tergugu menyesali sikap dan perbuatannya selama ini.

__ADS_1


Stella terisak menyaksikan kegetiran yang dulu ia rasakan bersama sang ayah dan kini harus dirasakan ibunya.


Tampak seperti balas dendam mungkin. Tapi tak ada niatan Stella untuk membalas dendam. Hanya ingin menunjukan betapa hidup ini penuh perjuangan, kepedihan dan kesetiaan jika ingin merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Isak tangis Imelda di pinggir trotoar menyayat hati orang orang yang melewatinya. Hingga seseorang berjongkok didepannya dengan menumpukan sebelah lututnya pada aspal. Sebelah tangannya ia angkat untuk menyentuh puncak kepalanya yang menunduk dan mengusapnya lembut. Tak tampak ragu ragu karena merasa jijik karena rambut dan tubuhnya yang kotor.


"Dasar bodoh. Kupikir kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu. Dan rasa itu tak pernah pudar sedikitpun. Aku mencintaimu tanpa syarat hingga saat ini dan selamanya. Aku tak peduli apakah kamu memanfaatkanku atau tidak. Bagiku, asal bisa terus bersamamu aku rela dimanfaatkan" lirih orang yang berlutut didepan Imelda membuatnya mendongak karena terkejut.


"Henry.."

__ADS_1


__ADS_2