
Stella duduk bersandar di dada bidang David diatas sofa. Posisi ternyamannya dan terfavoritnya. Mereka tengah menatap ke luar jendela sambil menghitung jumlah tetesan air hujan yang memercik pada kaca jendela.
"Gimana kabar ibu?" tanya Stella yang tiba tiba teringat akan ibunya, Imelda.
David memilin rambut lembut istrinya lalu menghirupnya. Aroma memabukkan yang membuatnya ingin menelan istrinya secara utuh.
"Hm, ibu baik baik saja. Henry berhasil mendapatkan proyek pertamanya tanpa bantuanku. Dan ibumu.." perkataannya ia gantung karena terjeda oleh nikmatnya aroma rambut Stella.
David lagi dan lagi menghirup dalam rambut Stella. Namun keasikannya membuat Stella salah mengartikan. Dia pikir sang ibu kembali berulah.
Stella menegakkan tubuhnya dan menoleh kebelakang.
"Ada apa dengan ibu, tadi mas bilang ibu baik baik saja. Jangan sembunyikan apapun-"
"Astaga, sayang... aku belum selesai ngomong" David kembali membalikan tubuh Stella dan menyandarkannya kembali ke dadanya. Lalu kembali menghirup rambutnya.
"Kenapa aroma rambutmu nikmat sekali" lirihnya sembari menelusupkan hidungnya ke belakang lehernya. Seolah bisa menghirup habis rambut lembut Stella.
"Mas.." protes Stella karena David tak kunjung menjelaskan perkataannya yang menggantung.
__ADS_1
"Ibumu membuka toko tas bekas dan berhasil mengembangkannya. Awalnya dia menjual koleksi tas nya yang banyaknya segudang, tapi tak disangka banyak peminat meski bekas tapi kondisi masih sangat terawat. Lantas membeli beberapa milik temannya yang juga masih terawat namun sudah bosan dan sudah terlalu banyak koleksi. Yang tadinya hanya garage sale, kini bisa menyewa sebuah toko di tengah kota.
Kamu tenang aja, apa yang kamu takutkan tidak akan terjadi.
Ah, ini, beliau menitipkan ini padaku, katanya simpan untuk calon cucu perempuannya nanti" David merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kalung cantik berukuran yang pas untuk bayi.
Stella mengernyitkan dahi dan meraih kalung cantik itu.
"Cucu perempuan? apa maksudnya anak Lusi?" heran Stella. Apa mungkin ibunya juga menyangka jika Yoda yang kini berusia 9 tahun adalah seorang anak perempuan? lagi pula kalung sekecil ini mana muat di leher Yoda. Pikir Stella.
"hmmp..." Stella tiba tiba membekap mulutnya. Perutnya bergejolak ingin mengeluarkan sesuatu. Dia lantas berlari kearah kamar mandi dan mengeluarkan apa yang ingin keluar.
hoekk
hoekk
David tersenyum dan berjalan menyusulnya dengan tenang untuk membantu Stella agar merasa lebih baik.
David memijat tengkuk Stella dan membuatnya merasa lebih baik.
__ADS_1
"Sudah mendingan?" tanya David yang kemudian menyeka sudut bibir Stella dan me lap nya dengan handuk kecil lalu menyodorkan air hangat.
Stella meraihnya dan meneguk sedikit air hangat itu sambil mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan David.
"Insting seorang ibu tak akan salah" ucap David tenang sambil tersenyum.
Tangannya merapikan rambut Stella dan menyelipkannya ke belakang telinga sang istri yang tengah kebingungan.
David lantas mengusap lembut perut Stella yang masih rata.
"Ibumu akan segera punya cucu perempuan. Ayo kita sirami dia dengan kasih sayang" ucap David yang langsung membopong Stella dan membawanya keatas ranjang. Pekikan Stella yang terkejut karena gerakan tiba tiba David terdengar nyaring dan indah ditelinga David.
"Mas tau dari mana kalo aku hamil lagi?" tanya Stella sambil memainkan jarinya menggelitik telinga David membuat tubuhnya meremang dan lututnya melemas. Ingin rasanya langsung merendamkan sang jaguar kedalam celah hangat nan nyaman.
"Aku menghitung masa suburmu, sayang" jawab David berkeringat. Undakan tangga yang ia naiki satu per satu terasa sangatlah banyak.
"Sayang, kita main disini aja ya" bujuk David yang sudah tak kuat menahan gejolak hasrat yang dipancing Stella dengan meniup lembut telinganya dan sedikit menggigitnya.
"Ulernya udah gak kuat" tukas David yang langsung mendudukan Stella di tangga dan melucuti seluruh pakaian mereka dengan cepat. Untung saja mereka hanya berdua di cottage karena David mengajak Stella untuk ikut perjalanan bisnis.
__ADS_1
Betapa David sudah tak tahan untuk segera menenggelamkan sang ular karena 3 hari dia sengaja berpuasa demi kematangan telurnya agar menjadi bibit yang berkualitas. Terbukti langsung tokcer.