
Gegas aku dan Deri membantu pak Andi untuk bangun dan memapahnya. Ada gurat kelegaan sekaligus bahagia karena akhirnya bisa kembali pulang ke rumah dan kembali berkumpul bersama keluarga tercinta.
Sekilas aku melirik pada Lusi. Sedikit iba dengan ekspresinya. Setidaknya dia sudah mau menampung kami, mengijinkan kami tinggal di tempatnya meski sifat mengesalkannya tak pernah hilang.
"Lusi.. apa kamu tidak akan ikut?" aku memutuskan untuk menawarkannya tumpangan tanpa meminta ijin istriku. Setidaknya aku masih punya hati nurani karena hidup bersama selama beberapa bulan saja sudah cukup kerepotan dengan adanya bayi, juga harus bolak balik mengambil air ke sumber mata air, belum harus mencari umbi umbian untuk mengisi perut juga ranting untuk bahan bakar memasak. Apalagi jika hidup sendirian di tempat ini. Apakah dia sanggup?
"Aku gak mau kembali ke tempat terkutuk itu lagi" jawabnya tertunduk.
Aku menghela nafas, gak mungkin juga aku menampungnya dirumah kami. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali memapah pak Andi.
"Tak bisakah kamu mengirimku ke suatu tempat? Tempat dimana aku jauh dari masa laluku?" pekiknya kemudian kala kami mulai sedikit menjauh dari gubuk.
Stella menyentuh lengan atasku. Kulihat tatapannya juga menyiratkan permohonan yang sama. Tampaknya landak albino ku juga tak tega meninggalkannya sendiri di hutan gelap ini.
Aku menoleh padanya, lalu mengangguk. Bukan hal yang sulit untukku melakukan itu.
Akhirnya kami ber lima kembali ke kota kami dengan menaiki..
Helikopter?
Inikan heli yang selalu berputar putar diatas kepalaku.
Ahh Stella.. ternyata selama ini dia mencariku. Tapi..
"Sayang.. kemana pilotnya?" aku celingukan mencari keberadaan sang pilot yang membawa capung besi ini.
Aku dan Deri lantas menempatkan pak Andi duduk di kabin belakang dan mengikatnya dengan sabuk pengaman.
Aku sangat tahu kalau ini adalah heli pemberian kakek untuk istriku. Hadiah pernikahan untuknya.
Kakek
Apa pria tua itu sehat? apa dia juga menungguku?
Aku terkejut karena tiba tiba disadarkan dari lamunanku kala Stella mengecup kilat bibirku.
"Kamu sedang menciumnya, sayang" ucapnya dengan mata yang mengerling genit.
Aku tak mengerti. Sejurus kemudian dia masuk dan duduk di kursi pilot, sedangkan aku mengangakan mulutku di pintu belakang.
"Apa kamu gak akan ikut, sayang?" lanjutnya bertanya sembari memakai headset dan sedikit mengutak atik panel pada bagian atas lalu baling baling mulai bergerak.
__ADS_1
Aku terkesiap dan langsung berlari memutari heli lalu masuk ke kursi depan di sebelahnya sambil masih menyimpan pertanyaan.
Dengan lihainya dia mengoperasikan capung besi ini. Tak sia sia kakek memberinya kado helikopter. Ternyata sangat bermanfaat, dan tentu saja bermanfaat untukku.
Ternyata dia nekat belajar mengendalikannya hanya untuk menemukanku. Begitu yang aku dengar sekilas dari penjelasannya.
Kami mendarat tepat di belakang mansion kami. Hadiahku untuknya.
Dan sepertinya dia sudah cukup lama tinggal disini. Terlihat dari berbagai bunga yang ditanam di sebagian halaman mansion.
"Sayang. Kamu penuh dengan kejutan" ucapku mengapresiasinya. Dia hanya menoleh sekilas dan tersipu malu.
POV AUTHOR
Sesampainya di mansion, mereka langsung membersihkan diri mereka masing masing. Kotoran yang menempel selama berbulan bulan akhirnya rontok dari tubuh mereka.
David tentu saja dibantu oleh Stella untuk menggosok punggungnya sementara David memanjakan bagian depan tubuh Stella sembari menengok jagoannya katanya.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu membersihkan diri sekaligus melepas rasa rindu.
Stella bahkan membantunya untuk bercukur dan tak hentinya mengecupi wajah yang dia rindukan selama ini.
"Makanya berkeluargalah. Kamu akan merasakan kebahagiaan sepertiku. Tak mau jauh sedikitpun dari istri" tukas David sambil menggenggam tangan Stella erat.
"Kalian meremehkanku. Tunggu saja undangannya" jawab Deri sembari mencomot tempura lalu menyuapkannya dengan sedikit membuka maskernya.
"Deri, apa hasil operasimu belum kering? kenapa kamu masih menutupnya?"
"Hah, Deri?" lirih Lusi yang tengah duduk menggendong sang anak yang mungkin usianya baru 2 bulan sambil melirik padanya.
Stella dan Deri saling berpandangan.
"Operasinya berhasil. Sangat sukses. Ah bisakah kita makan? aku sangat kelaparan. Menerbangkan pesawat itu menguras tenagaku" kelakarnya membuat Stella melempar tissu pada Deri yang dibalas kekehan.
David mengernyitkan dahi kala melihat Deri sedikit kesulitan karena harus membuka sedikit celah masker untuk jalan masuk sendok. Tapi tak ada keluhan sedikitpun darinya. Bahkan dia memalingkan wajahnya kala melakukan itu.
David yang melihatnya justru merasa terganggu.
"Bukalah, Deri. Itu sangat menyiksamu, bukan. Lagi pula merusak selera makanku tau gak" tukas David yang merasa pegal melihatnya tak bisa menikmati makanan dengan benar.
Deri lantas melirik pada Stella yang acuh tak acuh. Seolah menanti apa yang akan sohibnya lakukan kala mengetahui tentang wajahnya.
__ADS_1
"Aku.. aku takut sama istri kamu" ucapnya tertunduk.
"Kenapa dengan istriku? dia landak mungil yang tidak berbahaya sama sekali" bujuk David yang dibalas tepukan Stella dilengannya.
"Canda, sayang. Cupp"
"Bisakah kalian berhenti mengumbar kemesraan?" kesal Deri yang tak David gubris.
srett
Secepat kilat David menarik masker dari sebrang meja, dan...
"Sialan kamu bocah kurang ajar. Siapa yang mengizinkanmu menjiplak wajahku" murka David yang langsung berlari mengejar Deri yang sudah lebih dulu berlari menyelamatkan diri.
Lusi dan pak Andi pun ikut terkejut dengan penampakan Deri yang bagaikan saudara kembar David.
Stella tertawa melihat perilaku 2 pria yang tengah saling berkejaran di mansion yang luas ini.
Namun Lusi tampak tengah terus melirik pada Stella. Dia sedang menyusun kata kata.
"Stella.." seru nya disela tawa Stella.
"Ya? apa kamu butuh yang lain?" tanya Stella. Dia sempat meminta tolong pada sekuriti untuk membelikan popok sekali pakai untuk bayi Lusi, sekalian beberapa pakaian bayi. Untung saja sang sekuriti berpengalaman dalam berbelanja perlengkapan bayi karena dia sudah punya anak.
Lusi menggeleng, lalu melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Maafkan aku. Aku tahu mungkin ini sangat terlambat. Tapi.. aku benar benar menyesal pernah menghianati kamu. Aku.. aku belum pernah bertemu orang sebaik kamu. Bahkan teman temanku yang selalu mendukungku menjahatimu, mereka meninggalkanku.. tapi kamu.. kamu bahkan menolongku keluar dari hutan itu.." Lusi lantas terisak. Stella sedikit iba. Namun dia tak berani mendekat. Rasa traumanya dikhianati Lusi mendominasi pikirannya sehingga dia selalu waspada akan kembali dikhianati.
"Setiap orang memiliki kesempatan untuk menyadari dan memperbaiki diri. Tergantung orangnya yang mau segera sadar atau tidak akan kesalahannya. Aku senang kalau kamu benar benar menyesalinya. Carilah orang yang baik hatinya, bukan rupa nya. Karena rupa bisa menipu"
"Apa itu berarti kamu memaafkanku?"
Stella mengangguk dan tersenyum. Senyum yang sudah sangat lama tak Lusi lihat untuknya.
"Bolehkah aku memelukmu?" lanjut Lusi dengan suara tercekat.
Stella terdiam, lalu mendekat.
"Tentu saja" Stella lantas memeluk mantan sahabatnya yang tengah duduk menggendong bayinya lalu terisak di pelukan Stella.
"Terima kasih.. terima kasih.. Stella" ucapnya dalam isakan.
__ADS_1