
"Jadi gue harus jawab apa kalo ketemu cewek itu lagi? kesian gue liat cewek itu nangis nangis"
"Kalo gue yang jadi pacar dia, boleh gak?"
"Yah, elo malah nanya gue lagi. Terserah kalian ah. Tanya sana sama orangnya. Heran deh"
"Emang lo gak mau jadi pacar dia?"
"Emang pacaran tuh kek gimana sih?" Stella balik bertanya.
"Elu katanya jenius, pacaran aja kagak tau" Lusi mentoyor kepala Stella.
"Yeee, kalo masalah kek beginian gue ngaku oon deh, lagian gak minat buang waktu ya buang duit"
"Kalo dia yang nembak elo gimana?" Lusi bertanya penasaran.
"Hahahahaa....."
"Sarap lu, ditanya malah ketawa"
"Elu yang sarap. Mana ada yang mau sama cewek cupu kek gue. Kalopun ada pasti matanya bermasalah. Secara gue sama elo aja cakepan elo, duit punya, nah kalo sama gue? mo banggain apa?"
"Lo kok ngerendah gitu sih?" gerutu Lusi yang tidak enak dengan kenyataan yang memang begitu adanya. Tapi kenapa seolah David lebih meliriknya?
"Gue lagi gak mau punya statement sama siapapun. Gue cuma mau fokus belajar, dapet nilai gede biar bisa dapet beasiswa buat kuliah trus kerja buat nyenengin ayah" ucap Stella mantap sambil membayangkan sang ayah dalam balutan pakaian yang bagus.
"Hhhh... cita cita lo terlalu sempurna. Yakin nih lo gak bakalan jatuh cinta sama David?"
Stella menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.
Mereka tak membahas lagi hingga waktu pulang sekolah tiba dan langit tiba tiba tak bersahabat.
Hujan turun dengan derasnya, disertai angin kencang dan guntur juga petir yang saling bersahutan.
Hampir semua siswa dijemput mobil keluarga mereka, dan sebagian memanggil taxi online seperti Lusi.
"Stell, ayok bareng. Gue anter sampe rumah lo" Lusi menawarkan. Namun Stella menggeleng, Dia tak mau lebih dihina jika murid murid yang lain mengetahui tempat tinggalnya. Bukan malu karena keadaannya, tapi dia tak mau ayahnya yang dihina karena tak mempunyai tempat tinggal seperti mereka.
"Enggak, lo duluan aja. Lagian beda arah. Udah sana buruan, tar dicariin orang tua lo"
"Yaudah, gue duluan ya. Lo ati ati disekolah. Ntar ada setan mesum hahaha...."
"Sialan lo"
Sekolah mulai sepi. Meskipun waktu menunjukan jika hari masih siang, tapi karena cuaca seperti ini membuat langit gelap. Ditambah hembusan angin yang cukup kencang dan dingin menusuk kulit.
Stella tak punya jaket, dia lantas memindahkan posisi ranselnya kedepan tubuhnya untuk menghalau angin.
Dia tak berani masuk ke kelas teringat ucapan Lusi tentang setan mesum.
Entahlah, bukannya dia penakut hanya saja cuaca seperti ini sangat mendukung untuk adegan horror.
__ADS_1
"Belum pulang?"
"Setan mesum, astaghfirullah..." latah Stella terlonjak kaget saat mendengar suara bariton dari belakangnya.
"Maaf" David terkekeh dengan reflek Stella yang lucu.
Stella mengusap usap dadanya meredakan lonjakan jantungnya yang berdegup kencang.
"Mau dianter?" tawarnya.
Stella menggeleng.
"Kamu duluan aja" ucapnya kemudian.
"Yakin mo ditinggal? nanti ada setan mesum beneran loh" godanya.
Stella memicingkan mata yang dibalas kekehan David.
"Kamu kalo ngambek lebih serem dari setan mesum tau gak" lanjutnya.
JEDDERRR
"AYAAH..."
Guntur menggelegar sangat kencang membuat Stella menjerit ketakutan memanggil ayahnya.
Namun refleknya membuatnya berada dalam dekapan David.
Ekhem
"M maaf"
Suasana canggung selama 1 jam akhirnya berakhir setelah hujan deras itu akhirnya berhenti.
"Aku.. aku duluan" ucap Stella yang langsung menerobos titik titik air yang belum sepenuhnya berhenti.
David memandangnya dengan senyum.
Baru setengah jalan, titik titik air itu kembali membesar, tapi tak sederas sebelumnya. Stella mempercepat langkah kakinya agar segera sampai dan tak membuat seragamnya basah kuyup.
Tanpa ia sadari, David mengikutinya menggunakan mobil.
David cukup tercengang, ternyata gadis itu tinggal ditempat menyedihkan seperti ini.
"Toloooooong... tooloooong..."
Teriakan dari arah rumah kardus yang Stella masuki membuat David mengurungkan niatnya untuk melaju pulang.
Dia lantas turun dan menghampiri rumah Stella.
Namun dia lebih dikejutkan dengan kondisi seorang lelaki tua yang bersimbah darah dipangkuan Stella yang menangis histeris.
__ADS_1
"Ayaaaah.... jangan tinggalin Stella... tooloooong..." teriaknya.
"Stella.. apa yang terjadi dengan ayahmu?"
"David? David tolong ayah saya..huuu.. seseorang melukainya.." Stella memohon pada David yang kemudian David menelpon rumah sakit yang dia hafal nomornya lalu mengangkat tubuh lemah ayah Stella ke mobilnya diikuti Stella yang masih dengan seragam yang sudah berubah warna.
David meletakkan Arya di jok belakang dengan kepala berbantalkan paha Stella.
David segera melajukan mobilnya secepat mungkin agar laki laki itu tak kehabisan darah.
Stella terus tergugu dan terus memanggil sang ayah.
"Ayah tolong jangan tinggalin Stella, yah.. Stella mau ajak ayah jalan jalan, jajan di mol, beli baju yang bagus buat ayah... tolong jangan tinggalin Stella, yaaaah.... Stella ga bisa hidup kalo gak ada ayah.. jangan tinggalin Stella jugaa...haaaaaa...." Stella terus mengguncang tubuh sang ayah agar kesadarannya kembali.
"AAYAAAAHH... DAVID CEPETAN NGEBUT.. INI AYAH KEJANG KEJANG CEPETAAAAN... AYAAAAAAAH....."
Mobil David tiba di depan UGD. Dia meminta para perawat yang membawa brankar agar membawakan 1 buah brankar lagi karena Stella pingsan.
Arya segera dibawa ke ruang tindakan. Namun nyawanya tak tertolong.
David mendampingi Stella sambil terus menggenggam tangannya. Setetes cairan lolos dari matanya. Apa yang harus ia katakan saat Stella membuka matanya?
"Stella.." seru seorang wanita paruh baya kala merangsek masuk kedalam bilik.
"Stella, sayang..hik.. apa yang terjadi pada kalian..hik..hik.. bibi sudah bilang biar kalian ikut bibi..." Mey menangis tergugu disebelah Stella.
"Anda.."
"Tuan muda? kenapa anda ada disini?"
"Ini temen saya. Anda sendiri?"
"Saya bibi nya Stella. Apa yang terjadi pada mereka?"
"Tampaknya mereka dirampok. Entahlah, rumahnya tampak sangat berantakan"
"Engghh.. ayah.. ayah.. selamatkan ayah.. AYAH.." Stella tiba tiba terduduk bangun.
"Bibi.. ayah mana.. ayah.. mana ayah, bi.."
"Sayang, tenanglah... ayahmu.."
"Mana ayah, bi.. David bawa aku pada ayah.." Stella berteriak dan mencabut paksa jarum infus yang menancap di punggung tangannya.
"Stell.. Stella tenanglah.." David menenangkan Stella yang mulai histeris.
"BAWA AKU PADA AYAH KUU..." teriaknya sambil berderaian air mata.
"Iya, aku antar. Tapi kamu janji harus tenang, oke. Jangan sampai ayahmu sedih melihatmu seperti ini, ya?" bujuk David yang membuat Stella menghentikan raungannya seketika. Namun dia tak bisa menahan sesenggukannya.
David menopang tubuh Stella yang tampaknya sedikit lemas karena depresi. Dengan sabar David memapahnya.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti kala David membimbingnya ke kamar mayat.
"Jangan main main kamu.. ngapain kita disini.. aku mau ayahku.. dia gak ada disini.. aku mau ayahku... DAVID AKU MAU AYAHKU.. AYAAHH... AYAAAAAAH...."