
Stella memimpin jalan kearah pusara sang ayah, sedangkan David mengambil alih tugas sang ajudan mendorong Wiliam. Jadilah hanya mereka bertiga yang berziarah, sedangkan sang ajudan diperintahkan mengawasi Lusi.
Selesai dengan membacakan do'a juga sedikit curhatan Stella juga sapaan Wiliam pada Arya, ayah Stella, mereka kembali. Lusi yang melihat kembalinya mereka merasa girang karena kakinya mulai pegal karena tidak ada kursi di sekitaran.
nit
nit
Bunyi kunci mobil dibuka melalui remote.
"Kakek, kami pergi kerja dulu ya. Kakek jangan lupa makan siang dan istirahat. Stella pamit" Stella meraih tangan tua itu dan mencium punggungnya takzim seperti biasa. Namun Stella menambahkan menggesekan nya di pipi mulusnya.
"Kakek jangan sampe sakit, jangan terlalu banyak memikirkan hal berat. Stella bakalan sedih kalo kakek sakit" lanjut Stella sedikit sendu. Dia jadi teringat sang ayah.
Mata Wiliam mengembun. Dia merasakan kasih sayang yang tulus dari gadis yang baru beberapa waktu dekat dengannya. Tak salah jika sang cucu tidak bisa berpaling darinya.
Wiliam mengusap lembut pucuk kepala Stella.
"Udah telat yuk" ajak David.
"Kakek, kita pergi kerja dulu ya" pamit David yang lantas melakukan hal yang sama dengan Stella pada Wiliam, hal yang tak pernah ia lakukan sedari kecil karena tidak diajarkan untuk melakukan hal itu. Hanya bersama Stella dia belajar tata krama menghormati orang tua.
"Pindah" titah datar David pada Lusi saat hendak masuk ke kursi belakang.
"Hah, pindah kemana?" tanya Lusi bingung.
"Pindah ke mobil kakek, kita mau kerja, mau ada meeting. Cepetan" ujar David sedikit tak sabar.
"Eeeehh.. aku.. aku mau ikut kamu ke kantor, plis ya.. kasih aku kerjaan disana, barengan Stella aja, iya bareng dia aja. Gak pa pa ya.. pliiiis..."
__ADS_1
"Dasar nyusahin. Pindah duduk depan" David mengalah daripada lebih lama lagi tertahan dan lebih terlambat lagi.
"T tapi-"
"Pindah depan atau aku tarik-"
"Iya iya.. aku pindah" Lusi segera pindah kedepan dari pada ditarik keluar dan ditinggalkan.
David dan Stella berdiskusi tentang materi rapat pagi ini, terlebih kliennya ini berasal dari jepang. Lusi yang membalikan tubuhnya ke belakang hanya menyimak hal yang tak ia mengerti.
"Sialan, kenapa gue yang berasa jadi pecundang?" gerutunya dalam hati.
Tiba di kantor, Stella segera menyiapkan bahan rapat di mejanya. Di tak ada waktu untuk menghiraukan Lusi yang celingukan mencari apapun yang bisa dia kerjakan.
"Stella, aku minta kopi" suara David terdengar melalui saluran interkom.
"Ha.. aku saja" sergah Lusi yang langsung menghambur kearah pantry dan membuatkan kopi. Setidaknya dia berguna kali ini.
Dia sedikit kesusahan saat membuka pintu.
sreet
"Dari tadi kek bantuin" ketusnya saat Stella membukakan pintu. Namun Stella ikut melangkah masuk mendahuluinya membuat Lusi hampir kehilangan konsentrasi dalam menjaga cangkir agar tidak tumpah.
Membutuhkan waktu yang cukup lama baginya untuk sampai di meja presdir.
"Ah.. nyampe.. ini ko-pinya" ujarnya terpotong kala melihat David tengah menyeruput kopi, sedangkan Stella duduk di sebelahnya mengetikan sesuatu pada laptop David sambil dipantau David.
"Oke, sudah kamu siapkan tempat?"
__ADS_1
"Sudah, tuan"
"Bersiaplah, kita berangkat 5 menit lagi"
"Baik"
"Hah.. ke..kemana.. say.. kalian mau kemana.." Lusi kelabakan dengan pergerakan mereka dalam bekerja. Dia sungguh tak mengerti apapun yang mereka bicarakan.
David dan Stella bergerak cepat dalam menyiapkan dokumen dan berjalan dalam tempo yang cepat pula.
Stella yang memakai heels setinggi 5cm tak terlihat kesusahan dalam mengimbangi langkah lebar David.
Sedangkan Lusi yang memutuskan untuk terus mengikuti mereka terlihat berlari lari kecil dan sedikit kesulitan dengan heels 7cm nya.
Lusi tak masalah jika harus kembali duduk di depan. Yang penting dia bisa terus mendampingi sang suami dari calon pelakor.
Apa lagi saat ini sudah tiba waktu makan siang dimana bayangan *** after lunch mengacak acak pikirannya.
Mereka tiba di restoran Jepang ternama.
"Tuan Nakamoto sudah berada di ruang VIP 2, tuan" Stella menginformasikan.
sret
Pelayan restoran membuka pintu geser setelah menyambut mereka.
"Tuan Nakamoto, sudah lama menunggu?" ujar David yang membungkukan tubuhnya dan dibalas Nakamoto.
"Saya juga baru sampai"
__ADS_1
"Toni?" seru Lusi dengan telunjuk menunjuk pada Nakamoto.