
"Tuan, makan siang sudah siap" Stella mengingatkan David saat mereka selesai dengan meeting ke 3 sedari pagi.
"Kamu temani saya makan di dalam" ucap David datar sambil terus berjalan.
"T tapi, masih banyak-"
"Perusahaan tidak membayarmu untuk membantahku"
Stella mengarahkan kepalannya pada belakang kepala David karena dia berjalan di belakang sang presdir sambil mengetatkan rahang.
"Jangan benci padaku, nanti kamu jatuh cinta" lanjut David tanpa menoleh, seolah tahu apa yang Stella lakukan dibelakang tubuhnya.
"Maaf, tuan. Berarti anda sangat mencintai istri anda, karena anda sangat-"
dugg
Stella menabrak punggung David yang tiba tiba menghentikan langkahnya.
"Eee..... saya siapkan dulu makan siangnya" Stella lantas berlari mendahului David menuju ruang kantor presdir. Sedangkan David menyorot tubuh yang berlari gelagapan.
"Dasar landak albino" gumamnya sambil tersenyum miring. Kenapa wanita kecil itu selalu bisa membalikan kata katanya.
"Hmmm... minta dikasih pelajaran nih" lanjutnya yang kemudian mengayunkan langkahnya dengan cepat.
Stella memindahkan makanannya ke ruangan presdir sesuai perintah atasan rese nya.
Saat Stella hendak keluar untuk mengambil ponselnya, David masuk lalu langsung menutup pintu dan menguncinya.
Stella terkejut dengan apa yang dilakukan sang atasan. Apa dia akan melakukan hal tidak senonoh padanya seperti dalam cerita cerita novel?
"Apa yang tuan lakukan?" ucap datar Stella membelakangi David yang mengurungnya dengan kedua tangannya didepan pintu.
"Memberimu pelajaran" jawabnya ditelinga Stella. Nafas mint nya menghembus beberapa helai rambut yang menjuntai.
"Bisakah anda mundur? dan tolong anda buka pintunya karena saya perlu mengambil ponsel saya"
__ADS_1
"Disini saya yang memberi perintah, dan kamu harus menerima hukuman" bisiknya di telinga Stella.
Stella bergidik geli. Sesuatu berdesir dalam dirinya.
Reflek dia menyikut perut David namun David berhasil menahannya dengan tangannya. Dia sudah membaca kemana arah pergerakan Stella untuk membela diri.
Stella lantas dengan cepat berbalik dan melayangkan serangan dengan tangan satunya, namun David kembali berhasil menangkapnya lalu mengunci kedua tangan Stella diatas kepala Stella dengan sebelah tangan David.
"Mau melawanku, heh?" ucap David menyeringai. Kini saatnya dia yang memberi pelajaran pada landaknya.
grepp
David lagi lagi berhasil menahan sikutan lutut Stella kearah ************ David dengan sebelah tangan yang lain.
"Dasar anak nakal. Rasakan hukumanmu" David lantas memiringkan wajahnya dan mendekatkan bibirnya pada bibir Stella.
deg deg
deg deg
deg deg
Stella memejamkan mata kala jarak semakin menipis.
dugg
Stella menyundul hidung David dengan kepalanya. David sontak melepaskan cengkramannya dan memegang hidungnya yang terasa... dah lah.
Darah segar pun keluar mengiringi rasa sakit.
"argh.. sekertaris sialan. Kamu harusnya godain aku" keluh David sembari mengaduh.
Stella dengan tenang mengambil beberapa helai tissue yang ada di meja tamu dan menyerahkannya pada David.
"Kamu harus tanggung jawab" ucap David mencekal tangan Stella dan menariknya untuk duduk di sofa.
__ADS_1
"Ck, makanya jangan macem macem sama anak perawan" gerutunya sambil menuruti langkah David dan mulai mengurusi hidung David yang sepertinya sedikit bergeser.
"Tuan.."
"Hm.."
"Emang tuan gak ada sedikitpun rasa buat istri tuan?"
Dahi David berkerut dengan pertanyaan Stella.
"Kenapa kamu nanya-"
krekk
"AAHH.." David berteriak karena terkejut dengan tindakan tiba tiba Stella yang membetulkan posisi hidung David.
"Ck.. jadi laki laki jangan cengeng" ketus Stella yang kemudian beranjaknkarena merasa sudah selesai mengurusi hidung David hasil karya Stella.
Namun David kembali menahan tangannya.
"Cinta memang gak butuh alasan, tapi gak bisa dipaksakan. Segala sesuatu yang diawali dengan cara yang salah tidak akan berakhir baik" David berkata sambil menatap mata Stella lekat.
"Aku gak percaya kalo cinta itu ada" jawab Stella sambil mendalami dan mengartikan tatapan David.
"Kalo memang gak ada, kamu gak akan berada di posisi sekarang. Betapa Tuhan sangat mencintaimu dengan memberikan ujian yang besar dengan memisahkan kita dan membuat kita jauh lebih kuat dan lebih yakin padaNya kalau hanya Tuhan yang kita punya untuk mengangkat kita dari keterpurukan.
Aku mungkin harus menerima dan menjalani takdir yang Tuhan berikan untukku dengan menikahinya karena alasan yang aku sendiri ragu telah melakukannya.
Bukankah ke ragu raguan adalah hal yang makruh dan lebih baik ditinggalkan?
Aku dan kakek sedang mencari kebenaran tentang keragu-raguan itu, dan berharap Tuhan mengulurkan tangan untuk membantu kita. Dan Dia kembali menghadirkanmu dengan satu tujuan"
"Yakin sekali kalo aku hadir buat bantuin kakak. Kalo aku mau balas dendam gimana?" sanggah Stella berapi api. Tapi selalu membuat David terkekeh karena ekspresinya yang lucu.
"Aku ikhlas kalo kamu balas dendam sama aku. Mau diapa apain juga aku ikhlas" jawabnya terkekeh sambil menunjuk pipinya tanda minta dicium.
__ADS_1
"Ck. Mulai deh, ngemodus"