
Lusi tertunduk malu, namun nampaknya ketiga orang itu tak bereaksi dengan kebohongan Lusi yang terbongkar tanpa sengaja.
Baru hal kecil dia sudah merasa sangat dipermalukan, apalagi jika kebohongan besarnya terkuak.
"Kakek, apa tak masalah kalau pagi ini ke makam ayah Stella nya?" tanya Stella disela sela sarapan mereka.
"Gak masalah. Kakek juga sekalian mau sedikit olah raga mumpung masih pagi, kalau siang panas, kalau sore takut hujan. Gak pa pa sesekali telat ke kantor" jawabnya diplomatis.
"Tuan apa mau duluan ke kantor?" Stella beralih bertanya pada David.
"Kak David aja bisa kan kalo dirumah" ketusnya.
"Gak mau, gak ada kamu" lanjutnya.
Lusi menggeram kesal.
"Apa maksudnya gak mau ke kantor gak ada dia? emang kalian ngantor apa ngamar?" sentak Lusi.
"Nona, tolong kendalikan diri anda" sang ajudan mengingatkan, membuat Lusi seketika melipat mulutnya.
"Jadi kak David mau ikut aja?" tanya Stella tanpa menggubris amukan Lusi.
"Iya lah. Seorang sekertaris itu tugasnya mendampingi atasan"
__ADS_1
"Sayang, bagaimana dengan aku, aku bahkan.. kita bahkan.." Lusi ingin protes tapi bingung harus protes apa.
"Apa anda juga mau ikut, nyonya? ayah saya pasti senang kalau banyak yang mengunjunginya" Stella menawarkan meski dia tahu Lusi pasti menolaknya.
"Idih, males. Mesti nginjek tanah becek" ketusnya.
"Sayang, aku juga mau kerja" pinta Lusi tiba tiba membuat kunyahan semua orang terhenti.
"Ya tinggal kerja aja" jawab enteng David melanjutkan kunyahannya.
"Carikan posisi di perusahaan. Aku akan bersiap siap" pinta Lusi yang langsung beranjak namun tertahan.
"Lulusan SMA di kantorku paling ditempatkan di bagian cleaning service atau office girl"
"Apa? yang benar saja, masa istri kamu ditempatin di posisi rendahan, yang pantes di posisi itu ya dia" tunjuknya pada Stella.
"Sialan-"
"Nona, saya ingatkan lagi" ajudan dengan tegas kembali mengingatkan Lusi agar menjaga sikapnya.
Mereka bertiga selesai dengan sarapan nya lalu masuk ke mobil dengan Wiliam menggunakan mobil terpisah dengan David dan Stella karena mereka berdua harus langsung ke kantor.
"David tunggu" sergah Lusi yang terlihat berlari dari arah dalam dengan penampilan yang sudah rapi dengan blouse berwarna krem dan rok mini berwarna hitam sehingga kontras dengan warna kakinya yang putih mulus ditambah stiletto hitam yang menambah kadar keseksiannya.
__ADS_1
"Mau apa kamu?" ketus David yang sudah berada di kursi belakang, sedangkan Stella duduk di depan, di samping pak supir yang sedang bekerja, heyy...
(gausah diterusin nyanyinyağŸ¤)
Lusi langsung membuka pintu belakang disebelah David lalu masuk tanpa permisi.
"Aku ikut" tukas Lusi terengah karena saat mereka tengah menikmati sarapan buatan Stella, Lusi memilih naik ke kamar dan bersiap dengan tergesa agar tak ditinggalkan.
"Ck.. terserah.. jangan merepotkanku, dan jangan bicara apapun" tegasnya.
Lusi mengangguk cepat sambil menahan senyum keberhasilannya.
Sedikit demi sedikit dia akan mendekati suaminya dan memenangkan hatinya.
Tiba di TPU, Stella dan yang lain keluar dari mobil, namun Lusi tampak enggan untuk keluar. Dia merasa tak ada hubungan apapun dengan keluarga Stella, jadi merasa tak ada kewajiban untuk menyapa atau mendo'a kan jasad yang sudah bertahun tahun terkubur dalam tanah itu.
"Keluar" titah David.
"Eee aku tunggu disini aja, ya sayang. Aku kan bukan siapa siapanya-"
"Aku gak peduli kamu siapanya, yang pasti aku akan mencurigai kamu akan melakukan hal licik dengan dokumen dokumen ku"
"Hah, mana ada-"
__ADS_1
"Ke lu ar"
"Hhhh...." dengan kesal Lusi pun menurut daripada dia ditendang ditengah jalan atau ditarik paksa keluar dan ditinggalkan di area pekuburan.