The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Melupakanku


__ADS_3


Waktu berlalu


Stella berhasil melupakan tentang David dengan bantuan terapi dari psikiater karena dia mengidap insomnia akut jika berhenti beraktifitas.


Pun dengan David yang sempat depresi berat dan selalu mengamuk jika melihat Lusi. Jalan satu satu nya adalah memisahkan mereka sementara waktu dengan mengirim David ke Belanda untuk melanjutkan studinya yang tertunda hingga dia siap untuk mengambil alih perusahaan yang dipimpin Wiliam.


Lusi keguguran di kehamilannya yang menginjak bulan ke 3. Diam diam Wiliam bertanya secara pribadi dengan dokter kandungan yang menangani Lusi.


Jika sebelumnya Lusi dikabarkan keguguran karena kelelahan, Wiliam tak mempercayainya karena dari mimiknya dokter itu menyimpan sesuatu.


"Dia terlalu keras dalam berhubungan intim, mengakibatkan janinnya tak kuat menerima hentakkan pasangannya"


Wiliam tertegun. Bagaimana mungkin keguguran karena hubungan intim? sedangkan David dikirim ke luar negri 3 hari setelah pernikahan mereka.


Wiliam murka. Mungkin inilah penyebab sang cucu menolak pernikahan itu.


"Wanita iblis. Kita lihat saja, kebusukanmu ini sanggup kau tutupi berapa lama."


Wiliam membiarkan Lusi bebas melakukan apapun di rumah besarnya selama dia tak mengundang orang lain selain kedua orang tuanya.


Wiliam tak mau rumahnya dijadikan tempat berzina.


......................


"David cucuku, selamat kembali nak. Kakek rindu sekali" Wiliam memeluk David yang tumbuh menjadi pria gagah.


Emosinya kini stabil selama tak berhubungan dengan yang namanya Lusi.



Bahkan Wiliam memerintahkan untuk menghukum dan memecat siapapun yang dengan sengaja atau tidak sengaja menyebut nama 'Lusi'.


"Kakek, bagaimana kesehatanmu" David balas memeluk sang kakek yang sangat menyayanginya seperti anak sendiri.


"Tentu saja kakek sehat, berkat do'a seseorang" jawabnya sambil teringat dengan sosok rapuh nan murni saat pernikahan David tempo hari.


"Apa kau sudah siap menggantikan kakek?" tanya Wiliam antusias.

__ADS_1


"Akan aku coba" jawabnya merendah.


"Mey, siapkan dokumen dan kopi" titah Wiliam melalui interkom.


David tidak terlihat mengenal Meyra. Rupanya psikiater itu menghapus segala sesuatu yang berhubungan dengan Stella juga.


Syukurlah, mereka jadi tak kan saling menyakiti lagi dengan kenangan buruk mereka. Toh Stella sudah mantap menetap disana.


Para karyawati yang masih single maupun double berlomba lomba untuk mencari kesempatan mendapatkan perhatiannya. Kemunculannya di lobby kantor selalu menjadi moment untuk sekedar mengambil foto.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. David sudah sangat menguasai perusahaan. Staminanya yang masih muda membuat kinerjanya membutuhkan percepatan yang ekstra tangguh.


"Pak presir, maaf jika boleh saya ingin mengajukan asisten untuk diri saya sendiri. Anda lihat, saya sudahlah tidak muda lagi. Sudah tidak bertenaga untuk berlarian kesana kemari mengimbangi stamina anda yang masih sangat muda. Mungkin saya sebaiknya mengajukan pensiun, pak" keluh Meyra yang merasa kewalahan dengan kinerja bos barunya.


"Baiklah. Apa kamu yakin?"


Meyra mengangguk pasti. Tabungannya cukup untuk menghidupinya dan sang ponakan sepuluh tahun kedepan jika mereka berhemat. Lagipula Stella sudah dikabarkan lulus program magisternya. Dia pasti sebentar lagi akan mendapatkan pekerjaan.


"Kalau begitu carikan yang profesional. Dan jangan dulu mengundurkan diri sebelum aku menemukan yang sesuai kriteriaku" titahnya tegas.


"Baik"


Meyra segera mengumumkan lowongan untuk posisi menggantikannya dengan kriteria khusus yang dia cantumkan dengan cetakan tebal.


"Tampaknya kamu masih lama bersamaku" ucap tenang David sambil membubuhkan coretan tinta diatas kertas.


Meyra menghela pasrah. Dia akan mencoba satu hal yang beresiko tinggi. Namun sebelumnya dia meminta izin pada ketua terlebih dahulu, yaitu Wiliam. Mengingat depresi David salah satunya disebabkan karena kehilangan Stella.


"Benarkah? gadis itu sudah lulus?" Wiliam antusias mendengar Stella lulus program magisternya. Dia memang sangat ingin bertemu lagi dengannya tapi tak tahu dengan alasan apa.


"Coba saja dulu. Siapa tahu berhasil. Tenang saja aku akan memberikan bayaran sesuai jenjang pendidikannya"


Meyra tak menyangka Wiliam menyetujui idenya.


Dengan terpaksa Meyra menghubungi Stella.


David berdiri di depan jendela kamar apartemennya memandangi sobekan kertas usang dari lembaran terakhir sebuah novel . Selama bertahun tahun dia memang dalam penanganan psikiater untuk menyembuhkan depresinya. Tapi dia tetap mengingat gadis itu. Hanya do'a harapan bisa kembali dipertemukan dan dipersatukan dengannya yang membuatnya tetap waras.


David sengaja seolah melupakan Meyra untuk mencari tahu kabar dan keberadaannya.

__ADS_1


Dia sering menangis sendirian saat malam hari.


Pagi menjelang, David seperti biasa bersiap dan menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Kertas usang itu selalu dibawanya kemanapun. Dia sedikit terlambat pagi ini karena semalam gelisah itu kembali menghampiri. Alhasil dia tidak bisa tidur. Satu satunya obat tidurnya adalah membaca surat cintanya berkali kali hingga matanya lelah dan terpejam dengan sendirinya.


Tiba di kantor dia tak mendapati Meyra di mejanya. Tapi tas nya sudah ada, berarti dia sedang ke ruang HRD untuk kembali menseleksi asisten sekertaris yang sebenarnya tak dibutuhkannya. Dia hanya memancing Meyra untuk memanggil Stella.


klek


David terkejut dengan penampakan sosok mungil yang tengah memunguti buku yang tampaknya terjatuh.


deg


deg


Jantungnya kembali berdetak kencang.


Matanya berkaca kaca, perasaan ini yang sudah sangat lama ia rindukan. Ingin rasanya ia langsung memeluknya dan membawanya pulang, mengurungnya agar tak kembali menghilang.


Perlahan ia mendekat dengan perlahan, berharap penglihatannya tak menipunya dan sosok itu tiba tiba menghilang.


"Mampus" gumam Stella terdengar sangat merdu ditelinga David.


"Apa yang kau lakukan?" seru David saat berada tepat dibelakangnya. Dia berharap jantungnya tak berhenti mendadak.


"Ah? bisakah kamu menolongku? apa kamu tau urutan buku bukunya? aku tau aku ceroboh, kali ini saja bantu aku sebelum laki laki tua itu datang" bisiknya sambil memohon dan melihat kumpulan buku yang berserakan. Dia pasti lupa tak menghafal urutannya mengingat kebiasaannya yang selalu perfeksionis


"Laki laki tua? Siapa maksudnya, apa kakek?" tanya David dalam hati. Lalu saat melihat ekspresi panik dari wanita mungil yang menjelma menjadi bidadari ini membuatnya gemas ingin memasukannya kedalam saku celananya.


Stella terus mengoceh menyuarakan pikirannya diselingi berondongan pertanyaan.


"Apa dia benar benar Stella ku?" tanyanya dalam hati. Karena seingatnya Stella bukanlah tipe gadis cerewet dan mudah berbaur saat pertama bertemu orang asing. Dia tipe pendiam dan pemalu.


"Apa dia tak mengingatku?" lanjutnya saat Stella mengatakan jika dia merasa pernah melihatnya lalu mengulurkan tangan untuk berkenalan.


"Apa yang terjadi dengannya, apa dia benar benar melupakanku?" pertanyaan demi pertanyaan menumpuk dalam otaknya.


Hingga dia mencoba senjata pamungkas dengan menyebutkan namanya.


"David Wiliam"

__ADS_1


Stella malah terperanjat lalu berdiri membungkukkan tubuhnya berkali kali meminta maaf karena telah membuat kesalahan.


"Dia melupakanku"


__ADS_2