
"YODAAA..."
"YODAAA..."
Stella terus berteriak memanggil nama sang anak diantara hiruk pikuk pengunjung taman bermain. Jejak air mata yang tak kunjung mengering menandakan cairan yang berasal dari matanya berulangkali melalui jalur yang sama mengiringi perasaan takut dan cemas akan menghilangnya sang anak dari genggamannya.
"Mamaaa..." pekik Yoda terdengar melalui saluran pengeras suara.
"Yoda?" seru Stella yang mencari asal suara.
"Mamaa cepetan sinii.. mama jangan nangis yaa.. Yoda udah pukul kaka badut yang macem macem sama Yoda. Cepet sini maa, Yoda mau pulaaang... Yoda mau sama mamaaa..." panggilan Yoda diakhiri dengan tangisan sang anak yang membuat Stella merasa lega. Anak itu tahu harus kemana saat hilang di keramaian. Juga dia tak bisa jauh dari dirinya.
"Yoda, sayang.. kamu kemana aja? jangan pernah lepasin tangan mama lagi ya sayang. Mama gak sanggup kalo Yoda kenapa kenapa" Stella langsung memerangkap Yoda dalam pelukannya dan mengecupi seluruh wajah anak semata wayangnya.
"Mama.. geli ma.. maafin Yoda, ma. Tapi om badut ini bilang kalo dia mau gentiin papa. Yoda suruh buka topengnya tapi om nya gak mau. Suruh buka ma, masa muka papa dijadiin badut" rengek Yoda pada lelaki yang berdiri mematung disebelah Yoda seraya menolehkan kepalanya menengadah keatas agar Stella tak mengintimidasinya.
"Deri?" pekik Stella terkejut.
"Hehe.. hai.. beb.." sapa Deri menampakkan barisan gigi putihnya.
"Mama... cepetan bukain topeng muka papa nya, ma" rengek Yoda dalam gendongan Stella dan sedikit meronta hendak merangsek kearah Deri.
__ADS_1
Deri sedikit menghindari amukan bocah yang sempat dia kagumi karena kecantikannya. Namun kekaguman itu memudar saat wajahnya berhasil kena cakaran Yoda yang geram karena wajah sang papa ada padanya. Dia pikir Deri mamakai topeng bergambar wajah sang papa jadi dia berusaha untuk membukanya.
"Beb, ini anak lo? kok nyeremin kek emaknya?" tukas Deri sedikit beringsut menjauh karena terjangan Yoda yang masih dalam dekapan Stella.
"Heh. Dibilangin jangan macem macem pake muka orang" cebik Stella yang juga menatap tak suka pada wajah duplikat sang suami.
tring
tring
Suara notifikasi ponsel Stella berdering menandakan panggilan masuk.
"Sayang, kamu dimana?" tanya David.
" Ini lagi jalan jalan sama Yoda. Mas sudah di rumah?" Stella menebak karena hari ini adalah jadwal kepulangan David dari luar negeri. Hanya saja menurut jadwal seharusnya suaminya itu tiba malam nanti.
"Mmm.. belum, sayang. Kayaknya.. jadwalku diundur sehari. Kamu.. gak pa pa, sayang?" tanya David ragu ragu.
Stella bergeming.
"Sayang?" seru David memastikan saluran masih terhubung.
__ADS_1
"Yoda bilang buka topengnya, ooom" terdengar teriakan Yoda menjadi latar suara Stella.
"Sayang, Yoda kenapa?"
"Ga pa pa. Ya udah kalo mas pending pulang. Aku mau main main dulu sama kesayangan" jawab Stella enteng yang sebenarnya tak suka dengan penundaan kepulangan sang suami.
"Kesayangan? tunggu. Kalian sama siapa? kenapa Yoda nyebut nama 'om'. Siapa maksudnya?" cerca David terdengar panik.
"Mas tenang aja. Kerja yang rajin biar banyak hasilin uang, kita yang nikmatin. Udah dulu ya mas"
tut
Stella mematikan sambungan telpon karena Yoda sudah tidak bisa tenang karena kemunculan Deri yang wajahnya sama dengan David namun Yoda yang seorang anak kecil pun bisa membedakan keduanya.
"Sayang, hentikan. Ingat harus sopan sama yang lebih tua"
"Tapi Yoda gak terima kalo muka ayah dipake orang lain, ma" Yoda bersikukuh ingin melepas wajah sang ayah dari sosok lelaki yang baru saja menuntunnya kearah meja informasi untuk melaporkan anak hilang.
"Sayang..."
David tiba tiba berdiri di belakang mereka dengan wajah memerah dan nafas memburu.
__ADS_1