
"Mami.." lirih Deri lemah. Suaranya agak serak.
"Yes, my honey sweety baby boy" ucap latah Herni sambil berderai air mata yang terkejut jika putra semata wayangnya sadar. Dia lantas mendekat pada brankar Deri.
"mamii.." lirihnya lagi.
"I'm here, baby boy" jawab Herni menggenggam tangan Deri dan mengecupinya sambil terisak.
Suasana seharusnya haru, namun David tapak menahan semburan tawanya.
"Berhenti panggil Deri kek gitu, mam" sanggahnya dengan suara lemah. Mungkin pengaruh obatnya masih ada.
"Oke, Dedey ku sayang. Kamu mau mami beliin apa, hm?" lanjut Herni memanjakannya.
"Ppftt.. Dedey.." sembur David tertahan yang langsung disikut Stella.
"Mamii..." kini suaranya terdengar seperti merengek.
"Iya, sayangku cintaku"
"Stop calling me like that, will you? I'm not a boy any more, remember?" (berhenti memanggilku seperti itu, aku bukan anak kecil lagi, ingat?) keluhnya dengan rengekan membuat Stella dan David melipat mulutnya seraya menunduk untuk menahan tawa.
__ADS_1
"Okay, my dedey sweety" timpal Herni sengaja menggoda putra semata wayangnya.
"Mana David, mi?" lanjut Deri bertanya pada ibunya karena matanya tertutup perban.
"Gue disini, sob" jawab David mendekat dan menggenggam tangan Deri menggantikan Herni yang sebelumnya bangkit untuk memberinya ruang untuk berbicara.
"Apa kalian baik baik saja?" lanjut Deri terdengar khawatir.
"Kita baik baik aja. Berkat elo, sob. Makasih udah nyelametin kita, dan maaf karena itu elo yang kena imbasnya" ucap David dengan tulus.
"Ga pa pa, bro. Gue yang makasih, elo udah mau nerima gue lagi. Gue harap elo sama bini lo maafin gue juga. Gue banyak salah sama kalian"
"Kita udah maafin elo. Tenang aja"
"Mi, Dedy kan anak mami. Kenapa nyuruh orang buat nemenin sama rawatin Dedey sih?" protes Deri dengan suara yang masih lemah tapi kuat untuk membantah ibunya.
"Ya mereka harus tanggung jawab dong udah bikin kamu kek gini" sergah Herni meninggi.
"Bukan salah mereka, mi. Pokoknya Dedey gamau tau. Kalo bukan mami yang nemenin sama rawat Dedey, Dedey mo kek gini aja" tegasnya.
"Sob, ga pa pa kita bakalan tem-"
__ADS_1
"Gak usah, gak pa pa. Gue malah tambah ngerasa bersalah kalo sampe masih ganggu kalian. Anggap aja ini sebagai penebus kesalahan gue. Dan gue ikhlas"
"Ya udah. Thank's ya sob. Lo rajin kabarin gue ya. Kita cabut dulu" pamit David akhirnya seraya menempelkan kepalan tinjunya pada punggung tangan Deri.
"Ok"
Stella beralih maju ingin mengucapkan kata terimakasih namun meminta izin lebih dulu pada David sang suami melalui tatapan mata yang dijawab anggukan oleh David tanda mengizinkan.
"ekhem" Stella melancarkan kerongkongannya lebih dulu sebelum berbicara.
"Dey.." seru nya yang membuat David mengerutkan kening.
"Maaf kebawa suasana, maksudku.. Deri, makasih atas pangorbanan kamu. Semoga kamu cepat sembuh dan mendapat balasan kebaikan yang setimpal" ucapnya tulus.
Deri tak menyahut. Membuat semua orang bertanya tanya apa yang Deri rasakan dan pikirkan saat ini.
Apakah dia menyimpan dendam untuk Stella?
Stella menoleh pada David yang berada di samping kanannya seakan bertanya apa yang terjadi. Namun David hanya mengedikan bahu tanda tak mengetahui apa yang terjadi padanya.
Stella mencoba memangilnya kembali, apa mungkin Deri tertidur.
__ADS_1
"Dey.." seru Stella yang kembali membuat dahi David berkerut sambil menoleh padanya. Stella menutup mulutnya dengan sebelah tangan merasa kembali salah memanggil.
"Aku baru sadar kalo suara kamu merdu, Stella" ucap Deri tiba tiba