The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Berhasil Menyelamatkan Diri


__ADS_3

"Yang lain pada kemana pak?" tanya Stella saat mereka hanya ber dua didalam heli selain pilot dan co-pilot.


"Tim SAR akan menempuh jalur darat, nona. Mereka akan meluncur turun dari jalan agar lebih mudah mendekat pada bangkai mobil" seru Rudolph membuat mata Stella memicing.


"Bukan bangkai mobil pak. Toh mobilnya gak kebakar. Masih utuh" cebiknya yang tak suka dengan kosa kata Rudolph yang seolah olah mobil itu hancur sehancur hancurnya bersama isinya.


"Ah, iya. Maafkan saya, non"


"Panggil Stella aja, pak. Kita sama"


"Mana bisa begitu, non. Nanti saya bisa dimarahin tuan Wiliam"


"Hhh... bapak pasti tau asal usul saya, saya gak mau menghilangkan asal usul saya biar gak jadi orang sombong"


"Tapi sekarang posisi nona ada diatas saya, dan saya wajib menghormati nona selayaknya majikan saya. Biarkan saya menjalankan tugas saya, nona"


"Terserah bapak deh. Eh.. udah deket udah deket pak" seru Stella antusias kala melihat lokasi yang tadi malam mereka kunjungi. Rudolph tersenyum melihat tingkahnya yang mirip anak kecil. Seandainya anaknya masih ada, mungkin sekarang seumuran dengan gadis ini.


Tampak para anggota tim SAR menuruni tebing curam menggunakan tali.


"Tuan, disini ada 1 mobil mewah.. tapi tak ada orang di dalamnya" lapor salah satu anggota yang berhasil mencapai mobil yang tersangkut di dahan yang kokoh.

__ADS_1


"Apa masih jauh ke dasar jurang?" tanya Rudolph.


"1 mobil ada di dasar jurang, tuan. Dan kondisinya hancur. Kami menemukan 2 jenazah didalamnya" lapor anggota lain yang sudah mencapai dasar jurang.


"Cepat lakukan evakuasi dan buat laporan. Cari identitasnya. Ah, ya. Apa yang ada di dasar jurang? apa ada kemungkinan jika manusia tanpa perbekalan bisa selamat?"


plak


Stella memukul paha Rudolph karena kata katanya.


Rudolph meringis sembari mengelus paha nya yang terasa panas.


"Kami lihat ini adalah hutan belantara, tuan. Kami akan mencoba menyisir daerah ini hingga beberapa ratus meter.


"Kita kembali pak" titahnya pada co-pilot.


"Kenapa balik dulu? gak boleh. Pak tetep disini. Kalo bisa turunin saya aja" pinta Stella pada sang co-pilot dan membuatnya bingung.


"Nona, tapi itu sangat berbahaya" sergah Rudolph yang menahan lengan Stella kala Stella membuka pintu dan hendak nekat melompat turun dari ketinggian kurang lebih 10 meter.


"Ya makanya jangan dulu pulang. Kita bahkan baru 5 menit disini"

__ADS_1


"Maaf nona. Kita tidak bisa berlama lama karena harus mengisi bahan bakar" ucap sang co-pilot beralasan agar mereka kembali.


Stella mendengus kesal dan membanting punggungnya ke sandaran kursi lalu bersidekap.


Bibirnya yang mengerucut membuat Rudolph tersenyum. Tingkahnya membuatnya gemas. Seandainya dia masih seorang player pastilah Stella akan ia jadikan sugar baby nya. Namun dia sudah bertobat dan hanya bisa menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran kotornya.


"Tinggal isi bensin trus pergi lagi juga kan bisa. Pake gak boleh ikut segala bla bla bla.." sesampainya di kediaman Wiliam, Stella mengomel sambil menghentakan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.


Rudolph hanya bisa tertawa kaku sembari menggaruk pelipisnya.


"Apa yang terjadi? kenapa cucuku marah seperti itu?" tanya Wiliam.


"Hehe.. nona tidak mau pulang, tuan"


"Lalu kenapa kalian pulang?"


"Itu.. anu.. bahan bakar nya habis, tuan"


"Hhh... lalu apa kalian sudah mendapat kemajuan ?"


"Kami menemukan mobilnya dan itu memang mobil milik tuan muda, tapi kami tak menemukan tuan muda dan asistennya di dalamnya"

__ADS_1


"Berarti anak itu berhasil menyelamatkan diri. Syukurlah"


__ADS_2