The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Bibi Mey


__ADS_3

Stella mengangguk, mungkin wanita ini mengenal seseorang dengan nama yang sama dengan ayahnya. Pikir Stella.


Mereka lantas bergegas menuju bilik yang ditunjukan sang perawat jaga.


"Ayah" seru Stella yang langsung menghambur ke pelukan sang ayah yang tengah terbaring lemah dengan sebelah tangan diinfus. Tampaknya sang ayah tertidur, atau belum sadar?


"Maaf, dek. Harap pelan pelan ya. Ayahmu mengalami kecelakaan kerja, beliau terjatuh dari ketinggian 2meter, kami masih memeriksa kondisi vital lainnya" jelas sang perawat yang melihat Stella tergugu diatas dada sang ayah.


"Kak Arya.." ucap lirih wanita itu. Stella meliriknya dan ternyata wanita itu tengah menitikan air mata.


"Maaf sus, siapa yang membawanya kemari?" tanya pak guru.


"Rekan rekan kerja nya. Mereka kembali ke proyek setelah kami menanganinya. Mungkin nanti sore mereka kembali lagi" setelah menjelaskan dan memeriksa, sang perawat pun pamit.


"Maaf, apa.. apa ibu mengenal ayah saya?" tanya Stella.


Wanita itu mengangguk.


"Saya adalah adik kandung ayahmu. Saya bibi mu, nak" jawabnya dengan kembali menitikan air mata.


"Ayah masih punya saudara? aku pikir.." Stella terkejut. Dia pikir sang ayah sebatang kara. Setelah ditinggal sang istri, hanya dia yang ayahnya punya. Ayah pun tak pernah bercerita tentang keluarganya.


"Ayahmu menghilang setelah rumahnya disita oleh bank. Bibi mencarinya, namun tak bisa menemukannya. Syukurlah bibi bisa menemukannya lagi. Dan kamu.. kamu tumbuh cantik. Mana ibumu?"


Stella menggeleng.


"Ibu pergi.. " jawabnya dengan pandangan menerawang.


"ah iya, pak. Barangkali bapak mau kembali silahkan, biar saya menemani ayah disini" ucapnya pada guru yang mengantar.


"Kamu yakin?"


"Iya, pak. Terima kasih atas bantuannya"


Sang guru pun kembali. Untunglah Stella ada yang menemani, pikirnya.

__ADS_1


"Bibi, bibi sedang apa disini?" tanya Stella penasaran dengan sosok keluarga yang baru dikenalnya. Mungkin mereka pernah bertemu, tapi mungkin saat Stella masih sangat kecil.


"Bibi sedang periksa kandungan" jawabnya dengan senyum dipaksakan.


"Apa bibi sedang hamil?" tanya Stella yang dibalas gelengan kepala.


"Justru karena belum juga hamil, bibi periksa. Ini sudah yang ke sekian kalinya bibi periksa. Tapi hasilnya sama. Bibi tidak mandul, tapi sepertinya Tuhan belum mempercayakan amanatnya pada bibi"


Mereka berdua termenung memperhatikan tubuh lemah yang masih belum sadarkan diri.


"Dimana kalian tinggal selama ini?" wanita yang mengaku bibi nya itu akhirnya memecah kesunyian.


"Tanjung priok" jawab singkat Stella sambil menunduk.


"Mey. Panggil aku, bibi Mey" wanita itu menjapit dagu Stella dan mengangkatnya agar dia bisa menatap mata keponakan yang sudah sangat lama ia rindukan. Dulu anak ini selalu menempel padanya meski ada mamanya.


"Kenapa kamu selalu menundukan kepalamu? apa kamu selalu seperti ini?"


Bibi Mey merubah posisi duduknya menghadap Stella lalu meraih kedua bahu Stella dan merubahnya pula menjadi berhadapan. Dagunya ia angkat kembali.


"Percaya dirilah, sayang. Kamu cantik. Kamu juga tampaknya sangat menyayangi ayahmu. Pastilah kamu anak yang berbakti. Jangan biarkan orang orang merendahkanmu" bibi Mey meraih satu tangan Stella dan mengecupnya, membuat Stella salah tingkah karena tak pernah diperlakukan seperti itu.


"Ayah.. ayah.. apa kau baik baik saja.. mana yang sakit.."


Bibi Mey segera memanggil perawat untuk memeriksa kondisi kakaknya yang baru sadar.


"Assalamu'alaikum kak, apa kabar?" sapa Mey pada Arya.


"M..Mey? itu itu kamu, Mey?" Arya terkejut dalam setengah sadarnya. Tangan yang tak tertanam selang infus mengangkat ingin menggapai bayangan yang selama ini dia rindukan. Setitik air lolos dari sudut matanya.


"Kakak jahat.. kakak ninggalin Mey gitu aja" Mey terisak dan langsung menggenggam tangan lemah itu dan mengecupinya.


"Meyra adik ku... ini benar kamu... maafkan kakak.. kakak gak mau membebani keluargamu, kakak malu sama suamimu, mey"


Arya tergugu, dia sangat terharu karena kembali dipertemukan dengan adiknya yang sangat ia sayangi. Ia bahkan selalu memanjakannya, dan orang orang selalu menganggapnya jika mereka adalah sepasang suami istri.

__ADS_1


"Stella, nak. Ini bibimu.. dia"


"Stella tau ayah. Bibi benar. Ayah jahat gak bilang kalo Stella punya bibi secantik ini"


Mereka tertawa ringan dengan keluhan Stella yang hampir tak pernah Arya dengar.


Arya akhirnya diijinkan pulang karena tak ada luka dalam yang serius. Hanya beberapa luka lebam dan lecet.


Mey memaksa untuk mengantar karena hari sudah menggelap. Arya yang tadinya ingin menyembunyikan kondisinya terpaksa menurut.


Adiknya ini pasti akan memaksa lagi untuk ikut dengannya. Tapi dia sudah cukup mendapat hinaan dari iparnya dahulu. Dia tak mau lebih direndahkan lagi. Dia memang gegabah saat itu, terbujuk rengekan sang istri yang ingin mempunyai rumah mewah, yang akhirnya membuatnya melakukan korupsi selama 2 tahun yang akhirnya tercium. Hingga semua harta miliknya disita bank dan perusahaan agar tak di polisikan.


"Kok berenti disini, kak?" tanya Mey yang celingukan meneliti area kolong jembatan yang juga banyak sampah berserakan.


"Kak, Mey tunggu disini aja ya" ucapnya lantas karena merasa ngeri untuk ikut keluar.


Arya tersenyum dan melongkokan kepalanya pada jendela mobil.


"Ya sudah, kamu hati hati dijalan ya. Kalau masih ada umur, insha allah kita ketemu lagi" pamit Arya yang tak tega membiarkan adiknya berlama lama di tempat kumuh seperti ini.


"Apa maksud kakak? ayo Mey antar pulang, Kakak mau apa disini?" Mey panik dengan kata pamit dari sang kakak yang baru ditemuinya kembali.


"Kakak sudah sampai. Disinilah kakak tinggal. Kamu hati ha-"


"Kakak jangan bercanda. Ayo ikut Mey pulang. Stella ayok ikut sama bibi" Mey terisak mendapati kenyataan kehidupan sang kakak yang malang.


"Kamu pulanglah. Nanti kamu dicariin suami kamu. Besok bisa kesini lagi kalo mau" Arya terus menampakan senyumnya.


"Kakak, Mey gak mau ninggalin kakak sama Stella disini. Pokoknya kakak harus ikut Mey. Mey dosa kalo ngebiarin kakak sama ponakan mey kesusahan kek gini. Ayo kak"


Sudah Arya duga jika Mey akan merengek dan memaksanya.


"Mey, kamu sudah punya suami dan itu adalah rumah suamimu. Coba kamu minta izin dulu dengannya. Kakak tidak mau jadi beban bagi kalian. Kalau memanglah kakakmu mengizinkan, maka kami ikut, tapi jika tidak, tolong jangan memaksanya menerima kami. Kami baik baik saja disini. Kakak bersyukur kamu mempunyai kehidupan yang layak dan tidak kesusahan. Setidaknya meringankan beban pikiran kakak. Sudah kamu pulang ya. Jangan sampai suamimu marah"


Arya lantas menggandeng tangan Stella agar mereka masuk dan tak menghiraukan panggilan sang adik yang diiringi isak tangis.

__ADS_1


"Tenanglah, ayah selalu punya Stella disisi ayah. Setidaknya kita tau kalau adik ayah itu baik baik saja"


ucap Stella menenangkan. Dia mungkin tak tahu kejadian masa lalu persisnya, tapi dia sangat mengerti jika ayahnya tengah mempertahankan harga dirinya.


__ADS_2