The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Hati hati Dengan Sekertarisnya


__ADS_3

"Seperti yang anda sekalian lihat, gadis ini sangatlah tidak pantas bukan untuk masuk ke sekolah favorit seperti ini.


Tidak stylish, cupu, dan terlihat miskin.


Tapi sayangnya, gadis inilah yang memberikan hadiah terbaik bagi sekolah ini, dengan otaknya bukan penampilannya. Dan untungnya sekolah ini tidak memandang kasta dalam menerima anak didiknya" Stella menyempatkan membungkuk memberi hormat pada jajaran guru yang membalas menganggukan kepala tanda menerima penghormatannya.


"Ya, inilah saya 7 tahun yang lalu" ucap Stella membuat forum seketika hening.


"Semua cacian yang saya dapat merupakan sarapan dan makan siang saya selama di 3 tahun. Dan itu nutrisi terbaik bagi saya pribadi hingga saya bisa mencapai posisi saat ini.


Dan saya tidak pernah menyesali keadaan saya saat itu karena saya bisa menikmati hasil saat ini.


Adik adik sekalian yang saya cintai. Saya ingin menyampaikan kalimat kunci untuk memotivasi.


Bahwa apa yang kalian miliki dan nikmati saat ini, adalah milik orang tua kalian, hasil jerih payah mereka.


Orang tua kalian yang saat ini memiliki jabatan penting di suatu perusahaan, ingatlah jika jabatan itu bukanlah jabatanmu, karena kamu harus menggapainya sendiri dengan usahamu.


Kecuali jika orang tua kalian adalah pemilik perusahaan seperti tuan David ini, yang mungkin sebagian wanita berebut untuk menjadi pendampingnya, tapi sayangnya beliau sudah sold out ya ibu ibu" seloroh Stella membuat riuh para ibu ibu muda yang sebelumnya saling berbisik dan melirik David.


Selorohan Stella membentuk tawa dari para anggota forum dan para guru.


"Adik adik sekalian, pesan saya saat ini adalah hargai dirimu sendiri dan dorong dirimu agar menjadi yang terbaik demi masa depanmu. Dan ingat, cantik bukan hanya soal fisik. Tapi hati dan otak. Pintar dalam pelajaran, bukan pintar memanipulasi teman.


Jangan sampai kalian berakhir menjadi istri yang tidak diinginkan ya adik adik" selorohan Stella kembali menggemakan tawa dalam aula. Matanya melirik pada sosok yang tengah menatap tajam dan penuh amarah padanya.


Lusi tampak geram dan menahan ledakan amarahnya. Sedangkan Deri terlihat beberapa kali berdecak kagum pada perubahan drastis Stella.


Acara selesai dengan tepuk tangan apresiasi yang baru Stella rasakan.


Stella dan David tengah diajak mengobrol oleh beberapa pasang suami istri yang tertarik dengan kesuksesan mereka.


Lusi memperhatikan dari kejauhan dan memutuskan untuk mendekat.


Tawa yang ditampilkan Stella dan David dalam menyambut ramah pujian dari para orangtua menyakiti mata serta hatinya.


"Sayang, kamu disini ternyata" sapa Lusi sambil mengusap lengan David.

__ADS_1


Sontak semua orang yang sedang mengobrol menoleh padanya.


"Jadi ini istrinya pak David? waah gak kalah cantik ya. Awalnya saya pikir mbak Stella ini yang istrinya" ucap salah seorang wanita yang sedari tadi betah mengobrol dengan mereka karena Stella yang cantik dan ramah membuat mereka termotivasi untuk bertanya lebih jauh agar anak mereka kelak mendapat kesuksesan seperti Stella.


"Iya, saya istrinya" jawab Lusi yang juga mencoba ramah.


"Beruntung ya jeng dapet suami se sukses dan seganteng pak David" lanjut wanita itu.


"Iya, saya saaaangat beruntung" ucap Lusi sambil melirik Stella lalu tangannya mengusap lengan David.


"Hati hati loh jeng, jaman sekarang banyak modus pelakor" lanjut wanita itu mengingatkan.


"Iya betul sekali, bu. Apa lagi kalo istri gak kerja atau beda kantor, seharian suaminya barengan sama sekertaris" kini Stella yang membuka suara membuat wanita itu tertawa ringan.


"Iya bener banget. Kita sebagai istri harus pinter pinter jagain suami"


"Tenang aja, saya punya jurus pamungkas bikin suami saya gak bisa macem macem sama saya" ucap Lusi sambil membelai rahang David yang kini terlihat kaku.


"Baiklah sepertinya kami harus pulang. Terimakasih mbak Stella dan pak David atas motivasinya. Insha allah saya terapkan pada anak saya" pamit pasangan itu lalu pergi.


"Stella.." seru Lusi.


Stella menoleh.


"Ya, apa anda mengenal saya?" ucap Stella dengan raut dingin.


"Gak nyangka ya kita ketemu lagi. Kamu pasti baik baik aja"


"Tentu saja saya baik baik saja. Apa yang anda harapkan?"


"Seharusnya kan sampah tetep di tempat sampah aja" sarkas Lusi yang membuat David geram.


"Kamu apa apaan sih, gak usah bikin masalah ya" desis David sambil melepas rangkulan Lusi.


"Hm ya, sayangnya sampah ini adalah sampah berharga yang bisa naik tahta menjadi barang yang berguna. Ada loh barang yang terlihat bagus ternyata murahan dan berakhir menjadi sampah sesungguhnya" balas Stella dengan senyum manisnya.


Lusi geram dan ingin merangsek untuk menjambak mulut sialan mantan sahabatnya.

__ADS_1


"Ah iya, hati hati dengan sekertaris suamimu. Dia masih muda dan masih single. Cantik pula. Suami anda pasti betah berlama lama di kantor biar bisa terus barengan. Sedangkan anda dapet capenya" Stella memperingatinya dengan tenang.


"Tau apa kamu soal suami saya"


"Kan saya sekertarisnya. Pasti lebih tau kesehariannya dong" jawab tenang Stella sambil berlalu dengan tawa ringannya.


Mulut Lusi menganga mendengar penuturan Stella.


David hanya diam membiarkan Stella memanasi Lusi. Sudah saatnya wanita ular ini diberi pelajaran.


David berjalan mengikuti langkah Stella.


"Sayang, kamu mau kemana, ayo kita pulang" ajak Lusi.


"Kamu apaan sih. Lagian yang bawa kamu kesini siapa?"


Lusi membuang muka karena tak bisa menjawab.


"Ya udah sana pulang sama pasangan kamu yang jemput kamu" titah David tak mau terus digondeli Lusi.


"Tapi kan malu sama orang orang, masa istrinya pulang sama yang lain suaminya juga gitu. Apa kata mereka nanti"


"Kamu kesini sama Deri kenapa gak mikir kek gitu? pakek ngenalin diri sebagai istri. Kamu yang bikin malu kenapa aku harus ikut malu? Inget status kita cuma diatas kertas. Dan mungkin bentar lagi statusnya akan berubah" lirih David dengan tegas. Lantas kembali melangkah kearah Stella.


Lusi kesal, dia melihat kumpulan ibu ibu yang tengah bercengkrama saling memperkenalkan diri.


Lusi memutuskan bergabung dan menyebarkan rumor.


"Tapi ya, dari yang saya denger dari ipar saya yang seangkatan dengan mereka, justru mereka tadinya deket cuma pak David dijebak sama sahabat bu Stella sendiri loh. Saya justru lebih kesian sama mereka. Kok ada ya orang yang pake cara murahan buat dapetin laki laki"


Lusi lebih kesal lagi mendapati Stella yang justru mendapat simpati. Lusi menyerah kali ini. Biarlah menang untuk sekali ini, dia akan kembali menyusun rencana.


"Si Deri kemana lagi tuh orang. Gak tau apa hati dah empet" gerutunya mencari keberadaan Deri.


"Sialan tu orang. Malah ikut nimbrung" gumamnya kesal saat melihat Deri tengah mengobrol bersama Stella dan David. Matanya tak lepas menatap Stella dengan takjub.


"Kalo tau Stella bakalan secantik ini udah dari dulu gua pepet, men" seloroh Deri.

__ADS_1


__ADS_2