
Mereka tiba di apartemen Stella sore hari. Jika saja Stella membawa jaket, David akan mengajaknya lebih lama lagi.
"Enggak masuk dulu kak?" tawar Stella yang biasanya David akan duduk dan mengajarinya memasak menu baru.
"Enggak ah. Aku mau ada urusan lagi" tangan mereka berpaut namun tak ada sepatah kata yang terucap. Entahlah, suasana menjadi canggung.
Stella merasakan hal aneh, perasaan rindu yang teramat sangat, namun akan semakin jauh darinya. Dia mempunyai firasat tak baik dengan kondisi ini.
"Kakak kenapa? kok Stella ngerasa sepi. Padahal dari tadi sama kakak. Kakak gak akan ninggalin Stella juga kan?" dia teringat dengan sang ayah yang meninggalkannya, dan itu sangat menyakitkan.
"Boleh.. boleh kakak cium kamu?" David meminta ijin.
Mata Stella berkaca kaca. Biasanya dia akan langsung menolak karena takut akan melangkah lebih jauh dan terjerumus pada hal yang sangat fatal akibatnya.
Dia mengangguk dan David langsung menciumnya. Merasakan hangat dan lembutnya bibir gadis yang dia cintai dengan sepenuh hati.
Cinta pertamanya.
Dan mungkin ini pertemuan terakhir mereka dengan status mereka.
Stella menitikan air mata
Pun dengan David.
David melepas pautan bibirnya. Dia tak mau lebih tak rela meninggalkannya.
"Kakak mau pergi kemana? kenapa Stella ngerasa kakak mau ninggalin Stella?" tanya Stella sambil terisak.
David mengecup bibirnya lagi dengan dalam.
"Maafkan kakak"
David lantas pergi dengan mantap. Stella terpaku menatap punggung itu menjauh.
"Ya allah, jika memanglah dia bukan jodohku maka jauhkanlah. Tapi jika dia memang jodohku maka persatukan kami dengan jalanmu"
Do'a Stella sambil berderaian air mata. Stella yakin jika ini adalah perpisahan sementara mereka.
Setelah hari itu Stella benar benar tak lagi bertemu David. Dia bahkan berharap David datang dan memberinya selamat pada acara wisuda. Namun dia tak kunjung datang.
Stella murung, meski dia baru saja menyandang predikat siswi terbaik sepanjang sejarah sekolah dan menerima beasiswa full biaya plus uang saku untuk kuliah di luar negri, tapi kebahagiaannya itu semu.
Orang yang dia harapkan sebagai tujuan baru hidupnya kini tiba tiba menghilang.
"Sayang, selamat ya. Bibi bangga" sambut Meyra saat Stella turun dari podium.
Stella membalasnya dengan tersenyum. Namun sesuatu mengganjal tenggorokannya.
"Bibi apa kak David tidak datang?"
Meyra celingukan lalu menggeleng.
"Bibi tak melihatnya sedari tadi. Mungkin dia sangat sibuk" kilahnya.
__ADS_1
Stella berjalan gontai meninggalkan gedung yang dijadikan tempat wisuda.
tring
tring
"Jangan lupa datang ya, dandan yang cantik"
Pesan singkat yang Lusi kirimkan membuat mood Stella bertambah ancur. Dia sangat tidak suka dengan keramaian terlebih orang orang yang berkumpul adalah yang tidak menyukainya.
Karena acara pesta perpisahan, Stella berdandan natural, dan sedikit melakukan sesuatu pada rambut keritingnya.
Stella sedikit terkejut kala mendapati alamat yang dikirimkan Lusi sedang mengadakan semacam pesta pernikahan karena banyaknya dekorasi ala pernikahan ditambah kostum para tamu yang mengenakan gaun dan jas yang elegan.
"Apa aku salah alamat ya?" gumam Stella yang celingukan namun kakinya terus melangkah semakin ke dalam.
degg
Apa yang dilihatnya di dalam lebih mengejutkannya lagi.
Betapa tidak, dia melihat David dan Lusi bersanding di pelaminan dengan senyum yang mengembang dibibir Lusi, meski tak tampak dari bibir David.
David
Lusi
"Stella" lirihnya.
David lantas berdiri hendak merangsek kearahnya, namun tangannya ditahan Lusi agar dia mengingat kesepakatannya.
"Well well, si cupu sekali cupu tetep cupu. Dateng ke acara mewah kek gini dandan kek mo ke pasar.
Heh, sekarang lo tau kan yang gue bilang apa waktu itu. Elo bakalan lebih sakit ati. Sekarang lo nyaho kan?" celetuk Risa yang datang dari arah belakangnya. Lalu dia mendekat ke telinga Stella dan berbisik.
"Si David udah buntingin Lusi duluan, lo bayangin sejauh apa mereka khianatin lo selama ini.
Cih, dasar pecundang" sarkas Risa yang kemudian kembali berbaur dengan genknya untuk menertawakannya.
David terus menatap nanar Stella dari atas pelaminan. Dia bahkan tak mempedulikan tamu yang ingin menyalaminya.
Tatapan mereka saling mengunci, mengungkapkan kekecewaan dan penyesalan dari masing masing. Lelehan air tak bisa mereka bendung.
Tanpa David sangka, Stella melangkah kearah pelaminan, membuat jantungnya tak bisa dia kendalikan.
"Jangan mendekat.. tolong jangan sakiti dirimu lebih dalam" gumam David dalam hati. Jika saja tak terhalang kursi, dia mungkin sudah mundur melarikan diri.
Tenggorokannya tercekat sesuatu yang sangat besar.
__ADS_1
Stella dengan mantap dan beberapa kali terlihat menarik dan menghembuskan nafasnya lalu mengembangkan senyum yang sangat David rindukan selama ini. Senyum yang hanya miliknya.
"Selamat ya kak. Semoga kalian bahagia" Stella mengulurkan tangan.
Namun David tak menyambutnya dan membuang mukanya.
Stella tersenyum. Dia beralih pada Lusi yang langsung memeluknya.
Lusi pura pura menangis.
"Maafin gue ya, Stell. Semua terjadi gitu aja" ucapnya serak. Stella kembali tersenyum dan menepuk pundak Lusi yang masih memeluknya.
Karena posisi kepalanya tepat berada di sebelah David, dia bisa melihat senyum itu lagi dengan lelehan air mata. Lalu berucap
"Terima kasih atas rasa ini. Gue gak bakalan pernah lupa. Terima kasih karena menunjukan dirimu yang sebenarnya"
Dan ucapan itu juga didengar David yang mengepalkan kedua tangannya.
Stella melepas pelukan menyesakkan itu. Pelukan terakhir sahabat yang menikamnya dari belakang.
Stella kembali menoleh pada David yang lagi lagi membuang mukanya. Lalu berkata lirih.
"Selamat tinggal"
Stella lantas melangkah turun membawa rasa sakit yang teramat sangat.
"Ayah.." lirihnya kala teringat sang ayah.
"Stella.. " suara lemah seorang laki laki memanggilnya. Stella menoleh dan mendapati seorang kakek kakek yang tak ia kenal mendekat padanya, ditemani ajudannya yang membantu berjalan menggunakan tongkat.
"Apa kekek mengenal saya?" tanya Stella yang menyeka jejak air matanya.
Kakek itu tersenyum lalu merengkuhnya dalam pelukannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Stella membalas pelukannya. Dia pikir sang kakek salah mengenali cucunya.
Ada perasaan hangat dalam pelukan itu. Seperti pelukan seorang ayah.
Air matanya kembali menetes setiap kali mengingat sang ayah.
Kakek melepas pelukannya dan mengusap pipi basah Stella.
"Berbahagialah nak, selalu ada pelangi setelah badai" pesannya sambil tersenyum dan menitikan air mata.
Stella mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih, kakek. Stella harap kakek sehat selalu dan diberi umur yang panjang"
Stella pergi dengan segala rasa sakit yang menghujam bertubi tubi.
"Ya Tuhan. Anak itu.. kenapa tak kau berikan anak itu untuk cucuku saja Tuhan" harapnya berkata lirih.
"Kenapa kamu sembunyi, Mey" tanya Wiliam pada Meyra yang terisak di pojokan.
__ADS_1
"Dia itu keponakan saya, tuan"