The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Kabar Gembira?


__ADS_3

Stella menitikan air mata kala mendengar penuturan orang suruhan Wiliam. Kakinya lemas seketika. Meyra dengan sigap menopang tubuh Stella. Diapun ikut shock dengan informasi yang baru disampaikan orang Wiliam.


"Bagaimana dengan mobilnya. Apa kamu melihat mobilnya disekitar situ?" tanya Wiliam yang tak puas dengan informasi itu.


"Maaf tuan, sebelah kirinya adalah tebing, sedangkan sebelah kanannya adalah..." ucapannya digantung karena tak enak menyampaikannya.


"Jurang, tuan" lanjutnya sembari menunduk dalam.


"Waaaaahaaaaa.... gak mungkiiiin...." Stella menangis menjerit pilu terdengar menyayat hati.


Meyra meraihnya dalam pelukannya, namun tubuhnya tiba tiba luruh ke lantai dengan keras dan Meyra tak siap menahannya.


brukk


Stella pingsan.


"Gimana, dokter. Apa cucuku baik baik saja?" tanya Wiliam khawatir.


Sang dokter mengulas senyum.


"Secara keseluruhan dia baik baik saja, hanya tolong dijaga emosinya karena kurang baik bagi janinnya" dokter keluarga yang berusia hampir 40 itu menjelaskan.


"Apa?" Meyra dan Wiliam terkejut bersamaan.


"Janin?" ulang Meyra.


"Maksudmu aku akan punya cicit?" lanjut Wiliam sembari menitikan air mata.


Air mata kebahagiaan sekaligus kesedihan, karena sang cucu sedang mengalami musibah saat ada kabar baik.


Sang dokter menaikan letak kaca matanya lalu mengangguk sembari tersenyum.


"Selamat, tuan. Anda akhirnya akan menjadi kakek buyut. Tolong dijaga ya, cucu menantunya" pesannya tenang nan lembut.


"Tentu saja. Tentu saja aku akan merawatnya dengan baik. Terima kasih, Ed" ucap Wiliam berterima kasih pada dokter yang bernama Edward.

__ADS_1


"Sama sama, tuan. Kalau begitu, saya pamit. Saya sarankan tuan segera membawanya ke spesialis kandungan untuk kebutuhan suplemen atau vitaminnya" saran dokter Ed.


"Baik, kami akan memeriksakannya lebih lanjut. Sekali lagi terima kasih"


"Sayang.... bibi akhirnya bakal jadi nenek" ucap Meyra tersedu sembari mengecupi punggung tangan Stella yang masih belum sadar.


"Kaak.." lirih Stella dengan mata masih terpejam. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan dengan lemah.


"Kak David..." racaunya lagi.


"Sayang.. kamu sudah sadar? ini bibi, sayang" seru Meyra lembut sambil membelai pucuk kepalanya.


"Bibi.. kak David.. kak David sudah pulang, bi?" tanyanya yang sepertinya masih belum sadar sepenuhnya.


"Sayang, bibi.. bibi punya kabar baik.." ucapan Meyra menggantung karena menyiapkan diri akan pertanyaan lanjutan Stella yang mungkin tak bisa ia jawab.


"Apa kak David sudah kembali, bi?" lanjutnya lirih bertanya. Ada nada bahagia dalam pertanyaan lemahnya.


"Kamu akan segera punya anak, sayang" Meyra langsung pada intinya mengalihkan pertanyaan yang bisa membuatnya kembali shock.


"Aku.. hamil.. " lirihnya terisak.


"Sayang.. kita akan punya anak.. kita akan punya anak.." lanjutnya yang kini sudah membuka matanya.


"Dimana dia, bi. Apa sedang mengantar dokter?" tanya Stella antusias dan langsung mendudukkan diri.


"Sayang, pelan pelan. Kasian dedek bayinya kalo kamu bergerak tiba tiba. Ini minum dulu air madu nya" sergah Meyra yang langsung menyodorkan air madu hangat.


Stella meraihnya dan menyesap air madu hangat itu antusias dengan senyum yang mengembang.


"Bibi, dimana kak David? apa dia sudah pulang? aku merindukannya" Stella bertanya sembari bergegas turun. Dia lantas membuka pintu kamar dan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat dirindukannya.


"Sayaaang.... " teriaknya memanggil sang pujaan hati. Meyra terisak ditempatnya.


"Calon papaa... kamu dimanaa.." lagi ia memanggil dengan suara yang menggema di seluruh penjuru rumah.

__ADS_1


Meyra semakin tergugu dengan kondisi Stella yang tidak menyadari musibah yang menimpa suami ponakannya.


Wiliam menyeka air mata yang luruh di sudut mata tua nya.


"Bibi Mey, apa kak David langsung pergi ke kantor? tapi ini kan hari.. hari sabtu" Stella kembali ke kamar dan lanjut bertanya karena dia tak kunjung menemukan sang suami dimanapun. Namun pertanyaannya sempat menggantung kala melihat Meyra tergugu.


"Bibi kenapa? Kakek juga, kenapa kalian menangis? apa kalian terharu dengan kehamilanku?" Stella masih menampakkan wajah antusias. Namun air mata tiba tiba menetes tanpa permisi, dan seketika ada rasa sakit di dalam dada. Sakit yang menyesakkan.


Ini tidak benar. Ada apa ini, seharusnya aku bahagia. Tapi kenapa perasaanku merasa sangat nyeri.


Tiba tiba sekelebat bayangan berita yang mengejutkan melintas.


"Tampaknya bekas kecelakaan"


"Sebelah kanannya adalah..."


"Jurang"


deg


deg


deg


Kepala Stella bagaikan dihantam godam. Dia terhuyung dan langsung ditangkap Rudolph, ajudan Wiliam.


"Duduklah, nyonya muda" ucapnya sembari memapah Stella duduk di sofa kamar.


Stella masih membeliakkan mata yang kini basah. Mulutnya menganga, ingin mengucapkan sesuatu, namun tak tahu harus mengucapkan apa. Perasaannya kini sangatlah terpukul.


"Kakek.. lakukan sesuatu.. cari dia sampai dapat kek. Kakek harus menemukannya" lirihnya masih dengan tatapan kosong.


"Kakek harus menemukannya" suaranya kini meninggi.


"TEMUKAN DIA KAKEK, AKU MOHON... TEMUKAN SUAMIKUUU...." teriaknya histeris dan kembali pingsan.

__ADS_1


__ADS_2