
Stella terperanjat dan hendak marah, namun dia masih menahannya mengingat sedang ada tamu di ruang meeting.
"Stella.. kamu Stella kan? Stella Aubrey?" tanya seorang wanita paruh baya memastikan jika penglihatannya tak salah.
Stella menoleh pada asal suara.
"Bu Fani?" Stella juga terkejut dengan tamu yang datang hari ini.
"Kamu masih mengingat ibu, nak?" tanyanya dengan haru sambil menyambut Stella yang mendekat dan memeluknya.
"Tentu saja saya ingat ibu. Ibu adalah guru favorit saya" jawabnya dengan mata mengembun.
"Ekhem... " David menginterupsi dengan dehemannya.
Stella meliriknya dan melemparkan tatapan sinisnya yang lucu.
"Sebentar ya, bu" ucap Stella yang tak lupa untuk melaksanakan tugas yang diminta bos rese nya. Bu Fani mengangguk sambil tersenyum.
"Serius Stella gak inget kamu?" tanya bu Fani yang dijawab anggukan.
"Saya harus bisa membuktikan kelicikan Lusi dulu biar bisa lepas dari ancaman keluarganya. Mereka memang berada dibawah keluarga saya, namun saya harus tetap menjaga nama baik keluarga" Bu Fani tampak manggut manggut. Dia memang sedikitnya mengetahui tentang karakter Lusi saat konseling siswa. Memang ada yang aneh dengan kepribadiannya. Dia yang seorang lulusan psikologi sangat mengerti tentang mikro ekspresi yang secara spontan ditunjukan seseorang apakah dia jujur atau tidak.
"Jadi.. keponakan ibu ini lulusan psikologi juga?" tanya David menunjuk pada keponakan bu Fani yang bernama Evan yang baru lulus dan mendapat gelar sarjana psikologi.
__ADS_1
"Iya betul, nak David. Tadinya dia mau sendiri datang ke sini, cuma ibu yang maksa ingin ikut, ibu pingin ketemu dengan kamu. Gak nyangka ternyata ada Stella juga, jadi sekalian deh. Kebetulan sekolah kita mau mengadakan semacam pertemuan dengan orang tua siswa baru dan ingin menampilkan lulusan sekolah kita yang dulu berprestasi di sekolah dan kini menjadi orang sukses. Kebetulan Stella sudah ketemu, ibu minta kehadiran kalian untuk memberikan tips sukses dan sedikit berbagi pengalaman. Ibu harap kalian bersedia"
"Tuan, ini pesanan yang anda inginkan" Stella menaruh segelas susu kedelai di depan David.
David tersenyum melihat ekspresi jutek yang susah payah ditampilkan Stella.
"Ibu apa kabar?" lanjut Stella yang kemudian bu Fani menyampaikan maksud kedatangannya selain mengenalkan keponakannya yang ingin mencoba peruntungannya di perusahaan besar milik keluarga David.
"Jadi gimana, bisa kan hadir? Ibu sangat berharap kalian berdua bisa hadir, guru guru yang lain juga kangen kalian" bujuk bu Fani pada keduanya.
Ada rasa takut dari David apakah Stella akan mengingatnya kembali dan membuka luka lama yang sudah perlahan sembuh karena terapi.
"Insha allah Stella hadir, bu. Tapi.. memang pak David lulusan sekolah sana juga? tahun berapa?" tanya Stella mengernyit
"Eeee... pak David angkatan diatasmu, Stella. Syukurlah kalau kalian bisa. Baiklah, ibu gak lama. Kalian selesaikan apa yang harus diselesaikan. Maaf ibu sudah mengganggu. Ibu tunggu di sekolah minggu depan ya" pamit bu Fani.
"Memang hanya yang dipilih ya yang datang?" tanya Stella menatap ke jendela dengan tatapan kosong.
"Sepertinya iya. Kenapa, apa ada seseorang yang kamu harapkan untuk hadir?" pancing David.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak"
"Apa dia seseorang yang kau suka tapi menyakitimu?" David melangkah dan mensejajarkan dirinya didepan kaca dengan kedua tangan ia masukan kedalam saku celana.
__ADS_1
"Mungkin"
David menoleh padanya.
"Meski aku tak yakin kalau dia berniat menyakitiku.
Kecewa? sangat. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri, karena menganggapnya tujuan baru hidupku setelah ayah meninggal. Dan ternyata semua tak selalu sesuai apa yang kita harapkan.
Kupikir, aku bisa melupakannya setelah meminta bantuan terapis. Tapi itu justru membuatku tersadar untuk melepasnya agar bisa melepaskan diri dari rasa sakit"
"Apa kau membencinya?"
Stella tersenyum dengan pandangan masih menerawang.
"Aku mungkin berterimakasih padanya. Rasa sakit yang aku terima mengubahku menjadi lebih kuat dan tak mudah percaya siapapun. Aku bisa mencapai tahap ini karena rasa itu yang memotivasiku"
"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya?"
Stella bergeming.
"Entahlah" jawabnya kemudian.
David menghela nafas.
__ADS_1
"Mungkin aku akan membalas mereka" lanjutnya.
David menoleh, ada sedikit rasa panik. Kira kira pembalasan seperti apa yang akan Stella lakukan padanya.