
"Dimana ini? tanya Stella terkejut saat melihat pemandangan didepan matanya.
"Apa kamu pernah ke tempat seperti ini?" tanya David disebelahnya. Stella menatap takjub dengan senyum mengembang, lantas menggeleng sebagai jawaban.
"Inilah yang ingin aku lakukan bersamamu sejak lama"
Stella menoleh kesamping, menatap manik hazel itu dengan dalam.
Ada bulir bening menumpuk di pelupuk mata Stella. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap matanya yang basah.
"Kamu mau mencobanya bersamaku?" tanya David sambil menyodorkan tangannya.
Stella meraihnya sambil mengangguk cepat dengan senyum yang kembali ia kembangkan dan membiarkan setetes air jatuh di pipinya.
David membalas senyumnya lalu menggenggam erat tangannya dan mulai membimbingnya untuk masuk ke area wahana yang belum pernah Stella masuki seumur hidupnya.
David mengajaknya menaiki beberapa wahana yang ia rasa cocok untuk karakter seorang Stella.
Stella tak banyak meminta, dia mengikuti kemana langkah David membawanya. Dia bahkan tak meminta dibelikan cotton candy meski dia penasaran bagaimana bisa permen berbentuk serabut seperti itu.
David menyuapinya saat Stella malah menilik permen kapas itu, dan setelah merasakan rasa manisnya dia langsung memakannya tanpa jeda. Dia bahkan hendak membelinya lagi, namun David melarangnya.
David lantas membelikannya beberapa balon dan mengaitkannya di pergelangan tangan.
Mereka tak peduli dengan tatapan orang orang sekitar, karena ini adalah hari bersejarah mereka, yang David selalu ingat.
"Stella, kalau aku berhasil menjatuhkan semua kaleng itu, kamu mau hadiah yang mana?" tanya David yang membawa Stella tepat didepan rak yang berisi beberapa hadiah di arena menembak kaleng.
__ADS_1
"Benarkah itu hadiahnya? aku boleh memiliki semuanya?" tanyanya tak percaya.
"Kalau kamu bisa membawanya sekaligus, kenapa tidak?
Baiklah, kamu akan mendapatkan semuanya" David seolah meludahi kedua telapak tangannya lalu membidik setiap kaleng yang disusun rapi dan berjarak. Kemudian dia mulai melepaskan tembakannya tanpa jeda. Dan David berhasil melakukannya dengan sekali tembakan untuk setiap kaleng.
Stella yang memperhatikan aksi mengesankan David bertepuk tangan dan memekik dengan girang karena membayangkan akan memborong semua hadiah yang dipajang.
Sang penjaga menghela nafas panjang karena dia harus merelakan seluruh hadiah diborong pasangan manis ini.
"Boleh aku coba?" pinta Stella akhirnya.
"Cobalah. Sangat menye-"
dsing
dsing
dsing
"Fuhh.." Stella meniup ujung laras pistol angin itu bak seorang koboi lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar anak nakal" ucap David mengacak rambut Stella.
Stella benar benar kewalahan membawa banyak hadiah, padahal sudah dibantu David yang juga kewalahan.
"Hei, dik. Apa kamu mau salah satu boneka ini?" tanya Stella pada seorang anak berusia 5 tahunan yang sedang digandeng bapaknya.
"Ayah.." pintanya menengadah pada ayahnya.
__ADS_1
"Oh, berapa harganya?" tanya sang ayah yang mengerti dengan keinginan sang putri.
"Ah, tidak. Ini gratis, ambilah yang kamu suka, adik manis" ucap Stella tersenyum ramah pada gadis cilik yang malu malu itu.
Gadis itu kembali menengadah meminta persetujuan sang ayah yang dijawab anggukan.
Diapun mengambil boneka kelinci putih yang ukurannya pas dengan tubuhnya.
"Telimakasiy, onty" ucapnya cadel.
Stella menggeleng lalu menyodorkan pipinya tanda minta kecupan di pipi sebagai imbalan.
Si gadis pun mengecupnya dengan basah, namun Stella menyukainya.
Stella lantas melakukan hal yang sama pada setiap anak kecil yang ditemuinya.
Bahkan balon balon yang ada di tangannya pun menjadi sasaran anak anak dan tentu saja Stella memberikannya.
Boneka yang ditangannya habis, sedangkan masih banyak yang David pegang.
Stella memintanya dan hendak kembali menghampiri seorang anak yang dirasa belum mendapat hadiahnya.
"Eits, imbalannya mana" sergah David saat Stella hendak melangkah.
David menyodorkan pipinya dengan lidah yang menonjol dibalik pipinya.
"Hhhh... bisa aja modusnya" keluhnya. Namun dia melakukannya juga. Toh hanya pipi.
cupp
__ADS_1
Tanpa Stella duga, David memutar kepalanya menjadi berhadapan sehingga bibir Stella mendarat tepat di bibir David.
"Ya ampun, aku dicium anak gadis" ucap David dengan wajah memerah.