The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Pergi


__ADS_3

Stella terus melangkahkan kaki mungilnya dengan gontai dibawah guyuran hujan. Sekuat apapun dia menahan dan memaafkan orang yang menyakitinya tetap terasa menyakitkan.


Tangisnya pecah saat dirasa tak bisa dia tahan lagi. Air mata yang membanjiri wajahnya bercampur dengan tetesan air dari langit. Suara tangisnya mengiringi irama dentuman air yang menghantam jalanan.


...But I'm only human...


...And I bleed when I fall down...


...I'm only human...


...And I crash and I break down...


...Your words in my head, knives in my heart...


...You build me up and then I fall apart...


...'Cause I'm only human...


brukk


Stella pingsan di trotoar.


David histeris dan mengamuk setelah acara selesai. Dia tak berhenti meraung sambil melemparkan apa yang ada di depannya.


Semua orang tak berani mengganggunya dengan perintah Wiliam.


"Biarkan dia meluapkan emosinya" titahnya pada semua penghuni rumah besar itu. Tak terkecuali dengan Lusi.


Dia terpaksa menempati kamar tamu yang sudah disiapkan pelayan.


"Sialan. Seharusnya gue nempatin kamar pengantin. Keknya malam pertama harus ditunda kalo kek gini" keluh Lusi yang menebak gagal untuk melakukan malam pertamanya dengan David.


Meyra menangisi Stella yang terbaring lemah diatas brankar dengan selang infus menancap pada sebelah punggung tangannya.


"Ayah... Stella ikut yah..." gumam Stella lirih membuat tangisan Meyra semakin nyaring hingga sesenggukan. Dia tak punya siapa siapa lagi selain keponakannya. Dan dia tidak bisa membahagiakannya.


"Bibi.. kenapa bibi nangis kek gitu" ucap lemah Stella saat tersadar karena suara isakan Meyra yang cukup menariknya kedalam kesadaran.

__ADS_1


Tetesan air kembali jatuh tanpa aba aba dari sudut matanya.


"Bolehkah Stella mengambil beasiswa itu, bi?" tanyanya kemudian dengan suara serak.


Meyra mengangguk cepat. Apapun akan dia lakukan untuk memulihkan hati ponakannya yang saat ini pastilah hancur sehancur hancurnya.


"Ambillah sayang. Bibi akan membantumu mencarikan tempat tinggal disana. Kebetulan bibi ada kenalan" hiburnya sambil mengusap kepalanya sayang.


"Kenapa jatuh cinta sesakit ini, bi.. hik.. jika tau akan sesakit ini... Stella gak akan pernah mau jatuh cinta" keluhnya sambil kembali terisak. Sebelah lengannya menutupi matanya.


"Maafkan bibi, nak. Ini salah bibi.. ini semua salah bibi..."


"Jangan menyalahkan diri, bi. Bibi gak salah. Bibi gak boleh sakit ya. Stella bakalan baik baik aja. Bantu Stella buat ngelupain semua ini ya bi"


Stella menyiapkan segala keperluannya. Meyra membantu membuat paspor dan memesankan tiket. Dia juga ijin selama 3 hari untuk menemani sang ponakan disana. Tepatnya mengenalkan jalan ke kampus juga daerah sekitarnya agar dia tak tersesat jika ingin ke suatu tempat juga sarana transportasi yang ada dengan berbagai jurusannya dan menu makanan yang tersedia.


Stella sedikit bingung dan mengeluh karena tidak ada nasi.


Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tak mudah percaya pada orang lain selain hati dan bibinya.


"Bi, tolong kasih tau saya dimana Stella. Saya ingin ketemu, bi. Dimana dia" David datang ke apartemen Meyra dengan tubuh kurus dan wajahnya dipenuhi rambut kasar. Mimiknya yang depresi membuat Meyra terenyuh dengan kisah cinta keduanya.


"Anda terlambat, tuan. Stella sudah berangkat ke bandara" jawab Meyra sambil menitikan air mata.


"Bibi jangan bohong" David lantas melangkah menuju kamar Stella dan kamar mandi yang ternyata sudah kosong, dia membuka ruangan lain yang sekiranya bisa digunakan Stella untuk bersembunyi. Tapi nihil.


"Jam berapa pesawatnya berangkat" tayanya gusar. Tangannya terus bergetar, tubuhnya tak berhenti bergerak berjalan mondar mandir.


"Jam 12" akhirnya Meyra memberinya kesempatan untuk berpamitan terakhir kali. Dia tau dia salah. Tapi Meyra juga tak tega melihat keputus asaan yang terpancar di matanya.


David berlari sekencangnya sambil menunggu taxi yang kosong. Saat melihat sebuah taxi yang sedang menunrunkan penumpang, dia langsung melompat masuk.


"Ke bandara, pak" titahnya dengan peluh bercucuran.


Stella yang selesai dengan makan siangnya sambil menunggu panggilan keberangkatan, tak mau menunggu lebih lama.


Sang bibi akan menyusulnya dengan jadwal berikutnya dikarenakan ada berkas dadakan yang harus dia selesaikan saat itu juga. Stella sudah memintanya agar tak mengantar, tapi tetap Meyra tak mau membiarkan Stella sendirian di negri orang untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Stella membuka kaca matanya yang baru ia ketahui adalah pemberian David saat tak sengaja patah karena lemparan bola basket.


Bu Fani yang memberitahunya saat Stella berpamitan ke sekolah sebelum ke bandara. Bu Fani menyayangkan Stella tak jadi dengan David. Begitu pula dengan para guru yang lain. Mereka memiliki keyakinan jika ada yang tak beres dengan bersatunya David dan Lusi.


Stella tak bisa berkomentar apapun selain tersenyum. Karena yang sudah terjadi memang harusnya terjadi. Dan itu tak bisa disesali.


Stella memasang soft lense nya sesuai anjuran sang bibi agar memudahkannya dalam beraktifitas.


Suara panggilan keberangkatan terdengar menggema melalui pengeras suara.


Stella dengan mantap melangkah memasuki lorong yang menghubungkan terminal dengan apron.


"Stellaa..."


Terdengar suara memanggil namanya dari kejauhan.


"Stellaa..."


Kembali, suara itu ia dengar semakin mendekat dan menggema diantara riuhnya penumpang dan pengantar yang berada di terminal.


Stella mengenal suara itu. Dia berhenti sejenak. Dia ingin menoleh, tapi takut goyah. Lantas menatap pada kaca mata yang digenggamnya sedari tadi.


Stella lantas memberikan kaca mata itu pada security yang menjaga lorong penghubung agar orang yang tak mempunyai tiket tidak bisa sembarangan masuk dan menghalangi akses calon penumpang.


Stella memantapkan langkahnya menyeret koper dan hatinya agar tak tergoda untuk kembali dan menorehkan luka lebih dalam.


"Stella.. pak tolong pak.. saya perlu ketemu pacar saya pak.. tolong.. sebentar saja..Stella..." David memohon pada petugas yang menghalaunya sambil terus meneriakan namanya. Air matanya tak berhenti mengalir melihat punggung itu menjauh.


"Tolong jangan buat keributan ya tuan. Pesawat harus segera lepas landas" bujuk salah satu petugas.


"Maaf, apa gadis itu yang tuan cari?" tanya petugas yang tadi menjaga lorong.


"Iya.. iya dia pak yang saya cari.. tolong-"


"Dia menitipkan ini untuk dikembalikan pada anda, tuan" ucap petugas memotong rengekan David sambil menyodorkan kacamata pemberiannya.


David mengambilnya dengan tangan bergetar. Lalu jatuh duduk bersimpuh sambil tergugu menatap kaca mata yang pernah ia berikan untuk nya. Benda yang membuatnya melihat hati yang tulus dari mata belo nan bening.

__ADS_1


Dia mengembalikannya.


Dia mengembalikan perasaannya, yang kini tercabik cabik olehnya.


__ADS_2