The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Satu Satunya


__ADS_3

"Terima kasih pa, bapak tidak memberitahu soal uang yang sebelumnya" ucap Stella sambil menunduk. Dia takut di cap sebagai pembohong.


Stella diajak sekalian naik mobil ke sekolah.


"Kamu dapet uang itu dari mana?" tanya pak Bowo guru BK yang lain selain bu Fani. Pak Bowo duduk di kursi penumpang depan.


"Ngumpulin uang bekel, pa"


"Memang berapa lama kamu ngumpulin uang bekel buat dihadiahkan pada ayahmu?"


"Ti-tiga bulan pa"


"Tiga bulan" ulang pak Bowo dengan suara lirih.


"Berapa uang bekalmu setiap hari?" suara pak Bowo mulai tercekat. Sedangkan bu Fani sudah menyeka hidungnya dan pipinya karena lelehan dari kedua sumber itu tak berhenti keluar.


"tiga ribu" jawab Stella menunduk dalam.


"Ya allah" bu Fani tak kuasa menahan rasa harunya. Dia langsung memeluk Stella sambil tergugu karena mereka duduk bersebelahan di kursi belakang.


"Ibu, kenapa nangis? tolong.. tolong jangan kasihani saya. Saya tidak mau menjadi lemah"


Bu Fani mengangguk. Lalu mereka berkendara dalam diam. Tak ada yang melanjutkan pertanyaan pada Stella. Mereka merenung masing masing dan membandingkan dengan kehidupan mereka masing masing yang masih kurang bersyukur dengan apa yang sudah mereka miliki dan capai saat ini. Sedangkan anak ini, seusianya dalam keterbatasan ekonomi, tak pernah mengeluh tentang apapun. Bahkan pembullyan yang didapatnya di sekolah tak pernah sekalipun dia mengeluh atau melapor. Bahkan dia rela tidak jajan demi memberi hadiah pada sang ayah.


Mereka sudah sampai di sekolah dan Stella menahan lengan bu Fani saat hendak melangkah masuk ke pintu utama sekolah.


"Bu maaf, soal kemarin waktu di UKS, apa ibu tau apa yang terjadi pada seragam dan kacamata saya?"


Bu Fani mengerti, namun dia sudah berjanji pada orang itu untuk tak memberitahunya.


"Kenapa sama seragam dan kaca mata kamu? apa rusak?" tanyanya kemudian yang lantas berpura pura menilik seluruh tubuh Stella.


"Ah eng enggak bu. Justru seingat saya sebelumnya keduanya rusak sebelum saya pingsan"


"Tapi keduanya baik baik saja bukan? mungkin itu hayalan kamu aja. Udah, masuk yuk, bentar lagi bel bunyi" ajak bu Fani yang tak mau terlalu jauh membahas tentang rahasianya yang harus dia simpan demi harga diri si gadis.


Bu Fani menilai, gadis ini mempunyai harga diri yang tinggi, apa adanya dan tak mau dikasihani. Jika dia memberitahunya pastilah gadis itu akan berusaha membayarnya. Mana tega.


"Stella" sapa Lusi menepuk pundaknya dari belakang membuat Stella berjenggit terkejut.


"K-kamu" Stella melanjutkan langkahnya.


"Kamu marah ya sama aku" ucap Lusi sendu.


Stella meliriknya sekilas lantas tersenyum. Dia tak mengharapkan apapun.

__ADS_1


"Maaf, aku kemarin buru buru pulang. Ayahku mendapat kesulitan jadi aku harus segera pulang"


Stella menahan langkahnya kala Lusi menyebut kata 'ayah'. Kata yang sangat dia agungkan setelah Allah.


"Gak pa pa. Lagian ayah kamu lebih penting" Stella menampilkan senyumnya.


"Jadi kamu gak marah?"


Stella menjawab dengan tersenyum dan menggelengkan kepala.


Lusi tersenyum senang, dia merangkul Stella selama perjalanan menyusuri koridor diselingi obrolan tak penting yang Lusi awali.


"Oke, aku tunggu di kantin saat istirahat ya"


"Eng..enggak bisa, aku.. aku harus ke perpustakaan"


"Sudah kuduga siswi jenius sepertimu pasti menghabiskan waktu dengan buku. Hhhh.. baiklah aku akan menemuimu di perpustakaan. Apa aku boleh belajar denganmu? aku sedikit bodoh dalam berhitung" pintanya memelas.


"Tentu saja" Stella menjawab antusias. Dia senang bisa berbagi ilmu dengan seseorang. Teman. Hanya 1 orang yang dia miliki kini.


Benar saja, saat istirahat Stella sudah menunggunya di perpustakaan. Dia mengambil beberapa buku referensi yang berisi rumus rumus dasar dan lanjutan. Meski dia selalu menggunakan metodenya dalam mencari hasil akhir, setidaknya dia menjelaskan dulu yang sesuai dengan buku.


"Stella..." pekik Lusi sambil berlari membawa beberapa jajanan ke meja yang sudah ditempati Stella.


"Sssstt... jangan berisiik" tegur Stella sambil menempelkan telunjuk di bibirnya.


"Kamu pikir belajar gak membosankan? kalo laper gimana?"


"Kalo mau makan di kantin aja, disini tempat belajar, kalo kena buku gimana?"


Mereka berdebat dengan berbisik, tetap saja mengganggu sekitar mereka.


"Ekhem.." seseorang yang merasa terganggu mengeluarkan deheman keras sebagai teguran. Sontak mereka melipat mulut mereka bersamaan.


Stella lantas menjelaskan apa yang Lusi tak mengerti. Apalagi fisika yang membahas soal sudut dan kemiringan, belum lagi kimia tentang pencampuran unsur unsur kimia, membuat Stella tak mengerti kenapa Lusi bisa masuk IPA.


Stella menjelaskan sambil sesekali disuapi cemilan oleh Lusi, wajahnya menjadi tampak lucu kala menjelaskan sambil mengunyah. Mereka menertawakan tingkah mereka sendiri hingga tak terasa waktu istirahat habis.


Mereka berpisah saat bel memberi isyarat untuk kembali ke kelas masing masing.


Stella merasakan kehangatan dalam ikatan pertemanan yang baru dia rasakan seumur hidupnya.


"Ternyata semenyenangkan ini punya teman" gumamnya dalam hati.


Bukannya dia tidak mau berteman, tapi orang oranglah yang tidak mau berdekatan dengannya. Dan tentu saja karena status sosial.

__ADS_1


Tapi Lusi berbeda. Dia tidak merasa risih dekat dengannya. Malah dia yang lebih dulu meminta berteman dengannya.


Saat jam pelajaran terakhir, Stella sedang fokus membuat gambar perspektif. Setiap mili meternya dia tak boleh lewatkan.


tok


tok


jegrek


"Maaf, pak. Apa ada tang bernama Stella disini?" tanya salah seorang guru yang sedang piket di ruangan paling depan sekolah.


"Ya, ada. Apa ada masalah? Stella, ada yang mencarimu" tanya guru seni rupa lalu memanggil Stella.


"Ah, i iya saya pak"


Guru piket itu lantas mendekat dengan wajah panik.


"Sebaiknya kamu kemasi barang barangmu dan ikut dengan bapak. Sesuatu terjadi dengan ayahmu"


degg


Stella lantas memasukan semua barang barang yang ada diatas meja lalu melangkah mengikuti guru piket setelah berpamitan dengan membungkukan tubuhnya pada guru yang tengah mengajar.


Hatinya tak karuan, air mata terus menetes, langkah cepatnya mengikuti irama langkah sang guru.


Selama perjalanan, Stella tak berani bertanya apa yang terjadi pada ayahnya, dia takut kemungkinan terburuk benar benar terjadi.


Dia belum siap.


Dia belum membahagiakan sang ayah.


Stella terus merapalkan do'a selama perjalanan, berharap masih diberi kesempatan untuk mewujudkan impiannya bersama sang ayah. Satu satunya yang ia punya.


Sang guru menuntunnya ke sebuah ruangan UGD di sebuah rumah sakit kecil.


"Sus, pasien kecelakaan bernama Arya Dipta disebelah mana ya?" tanya sang guru mewakili Stella yang terus menangis.


"Oh, silahkan ke bilik nomor 3, pak"


"Terima kasih"


"Tunggu"


Langkah mereka terhenti oleh suara seruan seorang wanita berusia kepala 4.

__ADS_1


"Arya Dipta? b- bolehkah saya melihatnya?" pinta sang wanita dengan suara bergetar.


__ADS_2