The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Obsesi Deri


__ADS_3

"Lihat, siapa yang ku temukan" sahut lelaki bertubuh tinggi besar sambil mendorong Stella hingga tersungkur ke lantai.


Salah seorang dari mereka lantas mengambil kursi makan lalu menempatkan tubuh mungil Stella untuk duduk dan seorang lagi mengikatnya.


"Bagaimana dengan bos?"


"Mereka sedang dalam perjalanan"


"Sayang sekali kita tidak bisa menikmatinya lebih dulu"


"Nikmati saja kalau kau ingin digantung c bos"


Salah satu nya mendekat dan menunduk, lalu sebelah tangannya menyusuri rambut dan wajah Stella.


"Singkirkan tangan kotormu" desis Stella dengan mata menyorot tajam.


"Heh, wanita kecil sepertimu bukan seleraku" ucap si lelaki sambil meremas sebelah gundukan Stella dan membuatnya geram.


dugg


Stella menyundul kepala laki laki laknat itu dengan amarah yang memuncak.


"Gadis sialan" ucap si laki laki sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya.


plakk


Dia membalas Stella dengan menamparnya.


"Mau jadi jagoan, hah?" ucap si laki laki sambil menjambak rambut ekor kuda Stella ke belakang sehingga kepalanya menengadah.


"Sudah kubilang jauhkan tangan kotormu dariku" desis Stella tanpa terlihat ketakutan sedikitpun.


"Atau apa?" lanjut si laki laki.


"Atau kau yang akan merasakan pembalasanku paling parah" jawab Stella sambil tersenyum sinis. Dia memindai wajah bajingan yang mencoba macam macam dengannya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" teriak seseorang yang baru datang bersama seorang wanita.


"B bos.. ma.. maaf, saya hanya sedikit memberinya pelajaran, bos" jawabnya sambil menunduk setelah melepaskan jambakannya pada rambut halus Stella.


Deri melihat darah segar pada sudut bibir Stella.


"Sudah kubilang kalau dia bukan wanita biasa" ucapnya sambil duduk didepan Stella diatas kursi yang membelakanginya.


"Halo, cantik. Kita ketemu lagi" ucap Deri mendaratkan dagunya pada sandaran kursi. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menyeka darah di sudut bibirnya.


"Heh" Stella tersenyum sinis sambil membuang wajah.


Deri menarik dagunya agar bisa menatap matanya.


"Sayang sekali dulu aku tak menyadari kalau kamu secantik ini" Deri berucap dengan penyesalan.


Stella menarik kepalanya agar terlepas dari japitan di dagunya.


"Jangan mulai deh. Player kek kamu mana mungkin suka sama cewek kampungan kek dia" pungkas Lusi.


"Cih. Jangan bilang lo mo insap yak. Gak cocok tau gak orang kek elo insap"


"Tapi sekarang gue kepikiran serius" Deri lantas kembali menarik dagu Stella dengan lembut.


"Apa kamu mau membantuku berubah?" tanyanya sendu. Ada setitik harapan darinya agar bisa lepas dari dunia hitam.


"Heh, carilah orang lain. Aku tak mau berhubungan dengan orang yang mempunyai masa lalu dengannya" jawab Stella sinis lalu melirik Lusi.


Ekspresi Deri berubah suram. Ada kegetiran dalam hatinya. Mungkinkah ini karma untuknya. Saat dia mulai menjatuhkan hati pada seorang wanita yang tidak sedikitpun meliriknya bahkan mungkin tidak menganggapnya ada. Kharisma dan ketampanannya sangat tidak berpengaruh pada wanita dihadapannya ini.


"Kalau begitu aku terpaksa menjadikanmu milikku" Deri membuka tali yang menjerat tangannya pada kursi. Lalu menariknya ke arah kamar.


"Hei, mau kau bawa kemana dia, Deri?" sergah Lusi yang terheran dengan aksi Deri karena diluar rencananya.


"Bukan urusanmu" jawab Deri datar sambil menarik Stella yang tampak tenang.

__ADS_1


Lusi mengikutinya dari belakang.


"Ngapain kamu ikut?" tanya Deri yang mulai jengah dengan keberadaan Lusi.


"Jangan khawatir. Aku gak bakalan ganggu kalian. Aku bahkan bisa membuatnya benar benar menjadi milikmu, sehingga David seutuhnya milikku karena membencinya"


Mereka sampai di kamar yang cukup romantis dengan penerangan yang temaram juga kelopak bunga yang bertebaran diseluruh penjuru kamar juga ranjang.


"Kamu pasti akan ketagihan dengan sentuhannya, apa kau tau? Itulah yang membuatnya digilai para wanita. Jika saja dia adalah pewaris tunggal Wiliam Corp, aku pasti akan menikahinya.


Selama ini pun aku selalu mendapat kepuasan darinya. Karena David tak pernah mau menyentuhku. Ah ya.. apa kita bisa three-some sayang? sepertinya aku mulai terpancing" Lusi berkata dengan suara serak sambil mengelilingi Stella yang masih berdiri di depan ranjang. Sedangkan Deri tengah melakukan sesuatu di kamar mandi.


"Jadi anak itu.." pertanyaan Stella menggantung.


"Ya, benar. Anak itu adalah benih Deri. Meski awalnya aku berharap itu benih David, tapi obat itu terlalu ampuh sehingga membuatnya benar benar tak sadarkan diri. Tapi aku berhasil menjebaknya. Bukankah sandiwaraku luar biasa? Aku jadi bisa memisahkan kalian.


Sungguh pemandangan yang merusak mata melihat kedekatan kalian. Bagaikan langit dan bumi, kalian memang tidak seharusnya bersatu"


Stella mengepalkan kedua tangannya. Matanya ia pejamkan untuk menahan amarah yang belum saatnya dia luapkan.


Deri keluar dari kamar mandi dengan menenteng sesuatu di tangannya. Lalu melemparnya pada Lusi.


"Pakaikan dia pakaian itu" titahnya pada Lusi yang tengah membulatkan mulutnya.


"Kamu memerintahku? apa kamu bercanda? kamu akan menodainya, kenapa gak langsung kamu garap aja? pake sok sok an menikmati proses" geram Lusi sambil melempar asal pakaian berbahan jaring itu.


"Lalu apa fungsimu di kamar ini? bukankah aku selalu melayani dan memuaskanmu? apa salahnya sekarang kamu melayaniku?"


"Kalau aku menolak?"


"Kamu tau apa yang bisa aku lakukan jika aku mendatangi si tua Wiliam. Jangan lupa kalau aku punya bukti rekaman kamu menikmati setiap pelayananku" gumam Deri sambil menyorotnya tajam.


"Kamu.. kamu gak akan berani melakukan itu. Karena kamu juga akan ikut terseret" desis Lusi.


"Itu sudah menjadi resiko. Aku muak dengan tingkahmu. Mungkin itu satu satunya jalan agar aku bisa terbebas darimu"

__ADS_1


__ADS_2