The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Honey Moon Plus?


__ADS_3

"Apa kamu yakin mau melihatnya?" tanya David saat mereka tiba di depan ruangan rawat Deri.


Karena insiden usap mengusap itu yang membuat David meminta waktu untuk menenangkan adik satu satunya itu agar tak memberontak, dan itu membutuhkan waktu cukup lama.


Dia tak mau mengeluarkannya didalam kamar mandi sendirian. Sudah ada istri yang halal untuk menuntaskan hasratnya, namun moment dan tempatnya belum tepat.


Jika saja mereka tengah berada didalam kamar, sudah dipastikan Stella tak akan dia beri kesempatan untuk turun dari ranjang.


Stella mengangguk sambil menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.


David menggandeng tangan Stella erat dan menariknya perlahan untuk masuk ke ruangan VIP.


Sudah ada kedua orang tua Deri dan beberapa saudaranya tengah menunggu Deri sadar dari efek obat bius.


Tampak Wiliam dan ajudannya tengah berbincang pelan dengan kakek Deri yang merupakan rekan bisnis sang kakek.


"Selamat malam, semua" ucap salam David pada semua yang ada di dalam ruangan.


Semua sontak melirik pada sapaan David yang menggenggam tangan Stella erat.


"Kalian.. berani sekali kalian datang. Apa kalian ingin mengolok olok anak ku?" pekik ibu nya Deri yang tengah berderaian air mata.

__ADS_1


David dan Stella menahan langkahnya untuk tak masuk lebih dalam.


"Sudah lah, mi. Bukan salah mereka anak kita seperti ini. Murni ini karena jiwa kemanusiaannya. Semua juga tak ada yang menyangka akan ada kejadian seperti ini" sergah ayah dari Deri yang menahan pundak istrinya untuk tak merangsek maju kearah pasangan pengantin baru itu.


Wiliam telah menjelaskan terlebih dahulu sebelum mereka datang. Tapi tetap saja harus ada yang dijadikan kambing hitam menurut mami nya Deri.


Wanita itu memang keras kepala juga keras hati sedari dulu.


David dan Stella memberanikan diri untuk mendekat dan menyalami satu per satu orang yang ada disana.


Hanya Herni, mami nya Deri yang tak mau menyambut uluran tangan keduanya dan malah membuang muka.


Mereka berakhir di depan Wiliam dan mengecup punggung tangannya yang keriput.


Wiliam tersenyum. Dia sangat senang Stella sudah benar benar menjadi anggota keluarganya.


"Kakek baik baik saja, kakek juga belum lama datang"


"Bagaimana kondisinya, kek?" lanjut Stella bertanya sembari menatap tubuh yang berbaring lemah dengan perban melingkar di kepalanya dan hanya menyisakan sebelah pipi bagian kirinya.


"Luka bakarnya cukup parah. Padahal hanya percikannya saja. Jika tak terhalang jasnya mungkin akan lebih parah lagi dan menimbulkan komplikasi" terang Wiliam meneruskan penjelasan dokter saat baru selesai menangani luka Deri.

__ADS_1


"Apa bisa sembuh?" lanjut Stella tercekat menahan isakannya.


David merangkul pundak Stella dan menepuknya perlahan.


"Tentu saja dia bisa sembuh. Dengan perawatan dokter kulit terbaik tentunya. Jangan khawatir. Kakek akan mengirimnya ke Korea" jawab Wiliam menenangkan.


"Syukurlah" ucap Stella menghela nafas. Merasa lega jika Deri bisa kembali pulih.


"Dan kamu harus bertanggung jawab untuk menemani dan merawatnya selama di Korea" sentak Herni membuat semua orang menoleh padanya.


"Apa maksud tante?" tanya David mulai tidak suka dengan ketidak sukaan Herni pada mereka berdua, terutama pada Stella. Lagi lagi dia yang jadi sasaran.


"Anak ku sudah mengorbankan dirinya untuk menolong kalian, setidaknya kalian harus berterimakasih dengan merawatnya selama dia dalam perawatan rumah sakit. Itu juga kalau kalian tau rasa berterimakasih" jelasnya dengan judes.


"Mami, apa apaan sih? Mereka kan punya urusan sendiri. Bukankah lebih dari cukup dengan tuan Wiliam yang bertanggung jawab membiayai pengobatan anak kita?" sergah Ardan, papi nya Deri.


"Memangnya keluarga kita tidak mampu membiayai pengobatan anak kita? bukan itu masalahnya. Harus ada 6ang mengurusnya selama menjalani perawatan. Mami gak mungkin ninggalin arisan mingguan buat ngurusin anak kita, pi" jelas Herni membuat semua orang menggelangkan kepala.


"Kalau David gak bisa karena kerja, berarti kamu yang harus nemenin dia" lagi, Herni meneruskan ucapannya sambil menunjuk Stella.


"Apa? mana bisa seperti itu, tante" sanggah David.

__ADS_1


"Sudah sudah. Begini saja, kalian berdua temani dia selama disana. Anggap saja honey moon. Masalah perusahaan biar kakek handle dari rumah. Kamu juga bisa melakukan meeting via online" Wiliam menengahi dan memberi solusi agar Herni diam. Setidaknya mengalah untuk menang tak ada salahnya. Toh cucunya bisa sambil berbulan madu. Dan Deri tidak perlu dijaga 24 jam sehari bukan?


"Enak bener hanimun, sedangkan anak orang lagi kena musibah" gumam Herni yang membuat orang orang jengah dengan sikapnya.


__ADS_2