
"Bibi Mey, kapan sampai?" tanya Stella riang karena senang akan kedatangan keluarga satu satunya.
Mereka berpelukan di teras karena Meyra menyambutnya.
"Baru saja bibi sampai. Kamu apa kabar, sayang. Sepertinya mereka memberimu makan dengan baik"
"Stella baik, bi. Tentu saja mereka memberiku makan dengan baik. Stella bahkan selalu kekenyangan" kelakarnya membuat Meyra terkikik.
"David apa kamu siap?" tanya Wiliam saat mereka baru melangkah masuk kedalam ruang tengah.
"Siap untuk apa, kek?" tanya David bingung sembari mengambil air minum yang Stella sodorkan padanya.
"Apa Stella belum memberitahumu?" Wiliam balik bertanya dan pandangannya beralih pada Stella.
"Memang ada apa, kek?" Stella tampak bingung. Dia merasa tidak menerima pesan apapun dari sang kakek.
Kemudian dia teringat dengan pesan yang dia abaikan lalu merogoh ponselnya yang ada didalam tas.
__ADS_1
"Sayang.." Stella menutup mulutnya yang menganga dengan sebelah tangan.
"Kenapa?" tanya David penasaran.
"Kondisi anak perusahaan di kota L bermasalah. Sejumlah transaksi pengeluaran dalam jumlah besar tanpa keterangan terdeteksi tim audit karena terdapat selisih yang janggal. Kini bank akan meninjau asset untuk disita karena dijadikan jaminan oleh seorang oknum" Stella menjelaskan sesuai apa yang tertera dalam pesan.
"Bagaimana bisa?" tanya David sedikit panik.
"Makanlah dulu, setelah itu bersiaplah. Perusahaan disini biar Stella yang tangani. Kamu biar orang kakek yang temani" titah Wiliam membuat dahi David berkerut.
"Jadi David harus pisah lagi dari Stella? Gak mungkin kek. David gak mau jauh dari Stella"
Wiliam mendaratkan tongkatnya di kepala David.
"Dasar bocah tengik. Istrimu gak akan kemana mana. Lagi pula paling lama kamu hanya 3 hari disana. Kakek sudah mendelegasikan pada orang orang kakek di sana. Kamu hanya perlu hadir untuk menenangkan para karyawan yang sedang demo, juga meyakinkan pihak bank kalau perusahaan tidak pernah mengajukan pinjaman tanpa sepengetahuanmu" sembur Wiliam yang jengah dengan kelengketan pasangan baru ini.
"Kakek masa lupa masa masa pengantin baru. Stella aja deh yang ikut David. Kakek yang tangani perusahaan disini, ya" sungut David menghiba. Tak bisa dia bayangkan jika harus berpisah berhari hari dengan istrinya.
__ADS_1
"Kamu ini..."
"Sudah sudah. Kakek, jangan emosi ya. Maafkan cucu mu yang rese ini" Stella menenangkan Wiliam, takut takut tensi nya naik dan berakibat fatal di usia senja nya.
"Sayang, benar apa kata kakek. Hanya beberapa hari saja. Toh gak setiap hari kunjungan kesana" bujuk Stella sambil mengalaskan makanan dalam piring.
"Kamu membantah suami?" sanggah David yang tidak suka dengan dukungan Stella pada kakeknya.
"Hhhh... masa depan ribuan karyawanmu ada ditanganmu, apa kamu akan mengabaikan mereka?" bujuknya sambil menyuapkan makanan yang sudah dia alaskan karena David tak kunjung memakannya.
Meyra dan Wiliam hanya menjadi penonton filem telenovela sambil menyesap teh dan camilan yang tersedia.
"Lalu bagaimana dengan masa depanku, siapa yang akan memikirkannya" David masih melayangkan protes bak anak kecil yang sedang merengek karena akan ditinggal sang ibu.
"Terus, gimana kalo kamu pergi pas aku lagi sibuk gak bisa ngabarin kamu. Aku pasti sangat sibuk, dan siapa yang akan mengingatkanku makan dan menyuapiku?" ucapnya tanpa jeda sambil terus mengunyah makanan yang Stella suapkan padanya.
"Lalu selama ini siapa yang mengurusimu?" gemas Stella dengan alasan David.
__ADS_1
David bergeming sambil menghabiskan makanan yang ada di mulutnya dengan menelannya. Lalu menerima air dalam gelas dan meminumnya. Wajahnya ditekuk karena tak bisa protes lagi.
Meyra dan Wiliam hanya tersenyum mendengarkan perdebatan sepele suami istri ini.