The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Pecat Aku


__ADS_3

Stella akhirnya masuk tepat setelah waktu menunjukan pukul 8.


"Selamat pagi, tuan. Ini agenda anda hari ini" sapa Stella saat masuk dan langsung menyodorkan jadwal pekerjaan hari ini yang beberapa diantaranya terdapat meeting di luar kator pada jam istirahat makan siang lalu setelahnya masih ada dua jadwal meeting lagi.


"Kamu terlambat... 5 detik. Apa kamu gak takut dipecat?" ketus David yang merasa kesal karena tak bisa lebih awal melihatnya.


"Apa? 5 det- ah iya saya minta maaf, tuan. Perjalanan ke ruangan ini sedikit macet" jawab asal Stella.


"cih. Buatkan saya kopi. Dan jangan pake jampi jampi"


"Baik, tuan"


Stella memutar badannya sambil memutar bola matanya.


Stella membuat kopi pesanan David sesuai takaran yang dianjurkan Meyra.


"Kenapa pahit? kamu bikin kopi apa bikin jamu? bikin lagi"


Stella tak mau banyak berdebat. Dia kembali ke pantry dan membuatkannya lagi.


"Kenapa manis? kamu bikin kopi apa kolak?"


"Kamu gak bisa baca ya? mau bikin saya hipertensi? kenapa rasanya asin?"


Setidaknya Stella berhasil mengerjainya setelah melihatnya menyemburkan kopi ke tiga yang dia bubuhkan garam kedalamnya.


"Maaf, tuan. Untuk yang selanjutnya saya akan tambahkan dora"


"Dora?"


"Racun tikus, tuan. Tapi gak berbau dan gak berasa. Tau tau tuan sudah tenang di alam sana" jawabnya tenang sambil melangkah pergi membawa cangkir kopi yang ke tiga dan hendak membuatkan yang baru.


"Gak, usah. Saya udah kenyang. Duduk sini. Pusing saya liat kamu bulak balik terus"


Ingin rasanya Stella mencekik bos rese nya ini. Jika saja gajinya tak fantastis dia pasti sudah resign.


Resign?


Pasti gak akan di acc


Harus dipecat


Pikir Stella

__ADS_1


Saat Stella tidak ada pekerjaan namun harus stand by di dalam ruangan bersama bos rese nya, rasa jenuh menghampiri.


"Hhhh.... gelar magisterku cuma dipake buat bengong doang" keluhnya yang lantas merebahkan kepalanya diatas meja kerja.


David hanya meliriknya sambil menyembunyikan senyum dibalik berkas yang ia angkat tinggi untuk menutupi separuh wajahnya.


Seharian ini ia puas memandangi wajah Stella yang membersamainya di dalam ruangan.


Stella iseng mengirim pesan pada sang bibi yang berada di luar ruangan.


"Ping"


"Apa"


"Gada mamang somay lewat ya bi"


"??"


"Jenuh. Kalo jenuh gini bawaannya pengen ngunyah. Ada yang bisa dikunyah?"


"Disitu ada sofa sama banyak buku di rak"


"Dipikir ponakan bibi yang cantik ini rayap"


"wkwkwk"


"Apa lagi, bibi lagi sibuk ini"


"Pelamar kemaren kemaren gimana bisa dipecat?"


"Biasa, ngegoda tuan"


"Ngegoda gimana?"


"Ya gitu. Tau lah cewek cewek murahan gimana"


Stella tak mengirim pesan lagi. Mungkin dia kembali mendapat tugas, pikirnya.


Di dalam ruangan.


"Tuan.. apa tuan mau saya buatkan kopi?" tanya Stella menginterupsi fokus David.


Namun suaranya tak biasa.

__ADS_1


Sedikit serak dan..


uhuk


uhuk


David tersedak air liurnya sendiri kala mendapati Stella tengah duduk diatas mejanya dengan menyilangkan kaki.


Rok span se lututnya ia tarik hingga menampilkan paha mulusnya.


Juga dua buah kancing kemeja dibalik blazer ia buka hingga menampilkan belahan bukit yang..


"Apa yang kau lakukan?" ucap David dengan suara berat.


"Menawarkanmu kopi, tuan. Barangkali anda menginginkan sesuatu yang... panas" Stella mengedipkan sebelah matanya.


glekk


"Ba.. bawakan su.. air mineral saja" gugupnya yang sempat meralat ucapannya karena tak bisa jika tak menatap belahan itu.


"Baiklahhh.. apa tuan mau...


susu?"


tawarnya kemudian sambil menggigit bibir bawahnya.


Stella berjalan mendekat dengan perlahan dengan tatapan sensual.


"Sialan, gadis ini mencoba membuatku memecatnya. Baiklah, akan aku ikuti permainannya" batin David yang mencoba mempertahankan kewarasannya.


David bangkit dan melangkah mendekat dengan tatapan tajam dan mengunci.


Stella sudah terlihat sedikit gugup karena tak menyangka dengan reaksi David.


"Kamu mencoba merayuku?" tanya David dengan suara berat. Langkahnya sengaja ia lambatkan.


"T tidak.. m mana mungkin.. tuan.. mau apa?"


"Menyambutmu. Bukankah kamu ingin bersenang senang denganku?" David sudah berada tepat didepan Stella yang sedari tadi mundur dan tertahan meja kerjanya.


Tubuh tegapnya memepet Stella ke meja membuat tubuh Stella sedikit condong ke belakang.


"Sa.. saya akan membuat jus"

__ADS_1


Stella lantas mendorong tubuh tegap itu dan berlari kecil keluar dari ruangan dengan jantung berdegup kencang.


"Dasar bos sialan. Kenapa dia gak pecat aku?"


__ADS_2