
"Stellaa... Stella..." Meyra yang baru pulang dari luar negri langsung mencari keberadaan sang ponakan bandelnya kala mengetahui tentang ditemukannya sang mantan bos. Padalnya dia juga tak mengetahui kenakalan Stella yang diam diam kursus kilat mengendalikan capung besi dengan perut yang membuncit.
"Sssttt... pelan pelan, Mey. Ada orang tua disini" ketus Wiliam pada Meyra yang hanya melewatinya kala baru melangkah masuk kedalam ruang tengah.
"Oh.. maaf tuan. Saya tidak melihat anda. Mana anak nakal itu, apa dia ada di kamar-"
"Apa kamu akan menggerebeg nya? kamu yakin mau melihat mereka melepaskan rasa rindu? ck, kurasa sebaiknya kalian menikah biar peka" ucap asal Wiliam kala melihat Rudolph yang terus menempal pada Meyra lalu segera melepas rangkulannya di pinggang Meyra dan menunduk malu.
Wiliam lantas berlalu kearah belakang mansion hendak menikmati udara pagi yang sejuk diantara bunga bunga yang bermekaran sambil menikmati sarapan dan teh pagi nya.
"Haaah.. terima kasih, bi.. hah..hah..hah.. " ucap Deri dengan tubuh yang langsung berselonjor di lantai. Keringatnya mengucur deras di pagi yang masih cukup awal ini.
"Sukurin. Suruh siapa jiplak sembarangan" ledek Meyra 6ang lantas tetap melangkahkan kaki ke lantai 2.
"Kamu mau kemana?" sergah Rudolph.
"Ke kamar Stella lah, aku mau minta penjelasan dia. Lagian jam segini dua pasti udah bangun" Meyra kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti.
"Eeh... apa kamu gak denger apa kata tuan Wiliam?" lanjut Rudolph bertanya. Sedikit tidak percaya dengan ketidak pekaan kekasihnya ini.
Meyra yang tadinya melipat keningnya langsung menunduk dengan wajah memerah. Tubuhnya bahkan ia goyang goyangkan dengan kaki sesekali mengetuk lantai tangga.
Rudolph kini yang melipat dahi melihat reaksi Meyra. Apa dia sudah terlalu lama sendiri sehingga merasa malu membayangkan aktifitas sepasang manusia di dalam kamar. Batinnya.
__ADS_1
"Kamu.. mengerti kan?" tanya Rudolph meyakinkan diri.
Meyra mengangguk sembari mengulum senyum. Lalu sebelah tangannya menyelipkan juntaian rambut ke belakang telinga dan menyodorkan jarinya.
Rudolph semakin tak mengerti dengan tingkah randomnya. Ah mungkin dia ingin berpegangan untuk turun dari tangga. Dia lantas meraih tangan lentik yang mulai sedikit berkerut itu dan menggenggamnya lalu menariknya turun perlahan.
"Ih, kok ditarik sih" gerutu Meyra sedikit manja.
"Mau turun, kan?"
Meyra mengangakan mulut dan memelototkan matanya.
Dengan perasaan dongkol, Meyra menuruni tangga sambil menghentakkan kaki.
"Penampilan sih udah senior, tetep aja kepekaan mah nihil" ejek Deri yang akhirnya mendapat hiburan setelah kesakitannya disiksa Wiliam.
"Maksud kamu?" Rudolph masih tak mengerti.
"Minta dilamar itu om. Gimana sih. Muka aja garang hatinya lembutin dikit kek. Gitu aja gak ngerti" tukas Deri yang bangkit dari lantai dan berlalu kearah dapur untuk mengisi perutnya.
Rudolph tercenung mencoba menelaah kesalah pahaman diantara dia dan kekasihnya.
Lantas menepuk keningnya kala dia mengingat menyebut ucapan majikannya, dan dia menebak jika Meyra mengutip saran Wiliam untuk menikah.
__ADS_1
"Meeey... kamu mau?" pekiknya yang langsung berlari mencari keberadaan Meyra dengan panik. Takut sang kekasih ngambek dan memutuskannya.
Stella bangun dari tidurnya pukul 9 pagi setelah dirasa cukup beristirahat. Selain itu perutnya yang berisi minta diisi setelah dikuras semalaman oleh mantan orang hilang.
Lusi sudah pergi diantar orang suruhan Wiliam tadi pagi. Dia sengaja tak membangunkan sang pemilik rumah. Cukup baginya membuat masalah dan merepotkan mantan sahabatnya. Dia bersyukur Wiliam masih memberinya hati dengan menyediakan semua kebutuhan awalnya dalam berjuang hidup di tempat baru termasuk tempat tinggal sederhana.
Stella berjalan kearah dapur sambil mengucek matanya.
Muka bantal dan rambut acak acakan khas orang bangun tidur membuatnya tampak seksi.
"Mbook.. masak apa tadi pagi? ada nasi goreng ga?"
"Apa kamu mau aku bikinkan nasi goreng, sayang?" ucap suara baritone seseorang yang tiba tiba memeluk pinggangnya dari belakang dan menumpukan dagu di sebelah bahunya.
srettt
brukk
Stella spontan membanting tubuh jangkung itu hingga terkapar di lantai.
"Jangan pernah mencobaku, atau lain kali kamu akan berakhir di liang lahat"
"Aaaaa... sial banget gue..." pekik Deri tertahan.
__ADS_1