
Stella langsung melompat menaiki heli membuat Meyra meringis melihatnya.
"Hati hati sayang, pelan pelan saja. Kasian janin nya" pinta Meyra khawatir.
"Stella baik baik aja, bi. Stella juga yakin kalo janinnya kuat. Ya kan, sayang?" Stella seolah mengajak ngobrol pada janin yang baru sebesar biji kacang sembari mengelus perut rata nya.
"Ayoo.. tunggu apa lagii.. tunjukan manfaatmu, tinggal sat set sat set, lama amat kek keong. Ini mahal loh jangan sampe mubazir gak manfaat.
Lebih cepet lagi bisa ga? kek buraq gitu tinggal kedip langsung nyampe"
Stella terus menggerutu sepanjang jalan dengan tangan yang ia lilitkan pada sabuk pengaman.
Meyra dan Rudolph juga beberapa orang tim SAR perusahaan Wiliam yang ikut dalam heli tersebut hanya bisa menggelengkan kepala.
"Tuan Rudolph, disini titiknya" seru co-pilot yang mengambangkan heli itu diatas sebuah jurang. Pemandangan malam yang gelap memang tak bisa melihat area dengan jelas meski disorot lampu sekalipun.
"Bisakah sedikit lebih dekat?" pinta Rudolph yang kemudian membuka pintu kabin belakang.
Angin kencang yang menghembus masuk kala pintu itu dibuka membuat tubuh Stella sedikit tersentak kebelakang.
Rudolph mengarahkan lampu sorot itu kearah jalan tempat terakhir ponsel David terdeteksi.
__ADS_1
Dia lantas menurunkan sorot lampu itu kearah bawah dan lebih bawah lagi.
Dalam hati, Rudolph yakin tidak mungkin seseorang selamat jika jatuh dari ketinggian seperti itu. Tapi kembali lagi pada mujizat yang Maha Kuasa.
"Lihat.." pekik Stella saat dia merasa melihat sesuatu yang janggal.
"Balik lagi pak Rud" pinta Stella pada Rudolph untuk kembali menyoroti area sebelumnya.
"Berhenti disitu" titah Stella dengan mata memicing.
"Perhatikan baik baik, pak. Apa terlihat sesuatu yang janggal dibalik rimbunnya pohon?" tunjuk Stella pada pohon yang tumbuh secara horisontal.
"Mobil.. itu sepertinya mobil, non" ucap Rudolph yang menyadari penampakan lain dibalik rimbunnya dedaunan.
"Turbulence, tuan. kita tak bisa mendekat lebih jauh lagi" teriak sang co-pilot yang menunjuk pada sekitar mereka bahwa mereka dikelilingi tebing lalu membuat Stella menghembuskan nafas dengan kasar.
"Nona, kita kembali lagi besok saat terang" usul Rudolph yang melihat gurat kekecewaan di wajah imut Stella yang kemudian mengangguk lemah.
"Sayang, bertahanlah. Demi bayi kita" lirihnya disertai lelehan air mata.
Mereka kembali dan akan memulai operasi pencarian besok pagi.
__ADS_1
Stella bangun pagi pagi sekali. Dia sarapan dengan lahap. Tak ada tanda tanda morning sicknes sepertinya jabang bayi itu sangat mengerti keadaan dan dia tak mau menyusahkan sang ibu.
"Ayo jagoan, kita cari ayah lagi" gumam Stella mengajak calon buah hatinya sambil mengusap perutnya setelah selesai sarapan.
"Kamu mau kemana, sayang?" sergah Wiliam yang baru masuk ke ruang makan.
"Nyari kak David kek. Ayo pak Rud, apa yang kau tunggu" Stella menarik ujung pakaian Rudolph yang baru saja tiba di ruang makan mendorong kursi roda Wiliam.
"Eeeh.. tapi non.."
"Ya udah, sarapan dulu gih. Stella tunggu 5 menit gak boleh lebih"
"Apa?" Rudolph lantas menoleh pada Wiliam yang mengangguk.
Stella pun mengalaskan sarapan untuk Wiliam dan menunggunya sambil mengetukkan jarinya di meja.
"Sayang, kalau kamu seperti ini bikin kakek balapan makan sama Rudolph" keluh Wiliam yang merasa terganggu dengan kelakuan tidak sabarnya Stella.
"Hehe.. maaf kek. Oiya, selama Stella ikut nyari kak David, kakek sama bibi mey dulu ya. Pak Rud nya Stella pinjam dulu. Boleh kan?"
"Terserah kamu saja"
__ADS_1
Stella bangkit dan langsung kembali menarik ujung pakaian Rudolph yang baru saja menyelesaikan sarapannya dan minim dengan terburu buru karena tarikan Stella.
Wiliam hanya bisa menggelengkan kepala. Tadi malam Rudolph memberitahukan tentang penemuan mereka. Meski tak yakin, namun itu merupakan setitik harapan ditemukannya sang cucu. Semoga dalam keadaan baik baik saja.