The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Kena Karma


__ADS_3

"Tungguu... " pekik Stella terengah dengan membawa buntelan di perutnya.


"Kak Daviiiid...." teriaknya sekuat tenaga karena dirasa orang yang ia kejar tak juga menghentikan langkah lebarnya.


Dan teriakan itu berhasil menghentikan sebagian orang yang tengah berjalan tergesa.


Entahlah. Mungkin nama mereka sama🤷


Stella tak menyiakan kesempatan kala orang yang dia panggil berbalik, dan ia tak salah mengenali.


brukk


Stella langsung menubruk tubuh jangkung itu dan memeluknya erat diiringi isak tangisnya.


"Kak David.. kakak kemana aja.. aku nyariin kakak, kenapa gak pulang pulang. Jangan bilang kalo kakak hilang ingatan, atau kakak menghindar karena punya istri lain selain aku" ucapnya sembari tergugu di ceruk leher David.


Perut buncit yang mengganjal di tengah pun seolah tak masalah sedikit terhimpit.


David mengeratkan pelukan itu dan menghidu aroma rambut Stella.


Stella mengendurkan tangannya saat isakannya sudah reda.


"Aku kangen.. kakak kemana a-" ucapannya terpotong kala ia menyadari sesuatu. Stella memundurkan langkahnya perlahan, dan kepalanya menggeleng cepat kala David tersenyum dan merentangkan tangannya agar ia kembali masuk ke pelukannya.


"Ka.. kamu siapa?" tanya Stella kemudian.


"Menurutmu?" laki laki itu balik bertanya dengan tersenyum miring.


"Suara itu.." lirih Stella sedikit mengenali suara yang tak begitu asing.

__ADS_1


"Halo, sayang. Aku sudah menunggumu. Pantas saja kamu lama gak muncul muncul. Siapa dia?" tanya wanita yang baru datang dari arah belakang lelaki yang mirip David itu dan memindainya dari atas ke bawah dan berhenti di perut buncitnya.


"Sayang, kamu gak ngehamilin cewek ini kan?" tanya si wanita yang mulai terlihat gusar.


"Maaf, saya salah orang" ucap Stella yang tersadar dari lamunannya.


Dia lantas berbalik pergi meninggalkan sejuta tanya.


"Stella.." pekik si laki laki memanggil namanya. Langkah Stella terhenti, namun ia tak berbalik.


"Maafkan aku" lanjut si laki laki yang kemudian menggiring teman wanitanya kearah ruang tunggu.


Tangis Stella tiba tiba pecah dan dia luruh ke lantai sambil tergugu seraya menundukan kepala.


"Kembalikan suamiku..." lirihnya dalam isakan.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Meyra saat dia baru menemukan Stella setelah mencari ke seluruh pelosok ruang tunggu bandara.


"Aku mau kak David, bi... hik.. aku mau ketemu kak David... aku udah gak bisa nunggu lagi, bi.. huuuuu..." tangisan Stella terdengar sangat menyayat hati, mengatensi para penghuni bandara.


"Ya ampun, ponakan bibi yang malang. Gak bisakah kamu merelakannya, sayang? hidup terus berjalan, dan kamu juga menyakiti diri kamu sendiri" pesan Meyra yang tak tega dengan kondisi mengenaskan keponakan satu satunya ini.


Isak tangis Stella mendadak berhenti. Stella lantas memundurkan tubuhnya agar bisa menatap sang bibi.


"Stella gak nyangka bibi ngomong gitu. Bibi nyuruh Stella untuk menyerah? bagaimana jika itu adalah bibi yang masih hidup dan berharap ditemukan tapi Stella menyerah, atau bagaimana jika itu adalah anak bibi yang sendirian diluar sana kedinginan dan kelaparan dan bibi menyerah, bagaimana perasaannya-"


"Bibi gak punya anak dan bibi gak bisa punya anak. Kalaupun bibi yang berada di posisi suamimu saat ini, bibi benar benar berharap bisa menggantikannya dan membiarkanmu hidup bahagia bersama suami dan calon anakmu. Bibi gak masalah gak ditemukan siapapun karena bibi gak punya siapa siapa lagi" sentak Meyra berderai air mata. Membungkam racauan Stella yang hopeles.


"Bibi.. bukan.. bukan itu maksud Stella, bi. To.. tolong maafin Stella.. Stella gak maksud buat menyinggung perasaan bibi. Maafin Stella.. maafin Stella.."

__ADS_1


Mereka berpelukan sambil berlomba terisak menumpahkan segala keluh kesah mereka dalam tangis.


Untung saja waktu penerbangan Meyra dan Rudolph mengalami delay, jadi mereka menyempatkan diri untuk makan siang terlebih dahulu. Sambil Stella menceritakan perihal orang yang baru ditemuinya barusan.


"Apa kamu yakin?" tanya Meyra setelah menetralkan tenggorokannya yang tengah menelan jus mangga.


"Seratus persen yakin, bi" jawab Stella dan melanjutkan menyesap jus kiwi.


"Dari mana kamu yakin?" mata Meyra memicing.


"Bibi tuh kek yang gak pernah jatuh cinta aja. Dari postur, dari garis senyum, dari wangi tubuh meski pake parfum berbeda, dari kehangatan pelukan, jangan lupa sorot mata karena warna mata bisa pakai lensa" terang Stella panjang lebar.


"Tapi kenapa dia bisa tau nama kamu, dan kenapa dia tiba tiba minta maaf?"


"Oh ya, satu lagi. Suara.. Stella hafal dengan suaranya. Tapi gak mau menduga duga dulu. Hanya kemungkinan kecil"


Meyra terus menyeruput jus yang ada dengan satu tarikan nafas menunggu kalimat lanjutan Stella yang bikin penasaran.


"Deri.."


uhuk


uhuk


uhuk


"Ya ampun, pelan pelan dong sayang, pake keselek segala" ucap Rudolph tenang sembari menepuk ringan punggung Meyra.


"Emh.. yang manggilnya udah sayang sayangan. Berasa kena karma deh jadi jomblo" cebik Stella pada pasangan yang baru mengenal cinta lagi.

__ADS_1


__ADS_2