The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Mengusir


__ADS_3

"Mereka datang mereka datang" seru antusias salah satu karyawati yang mengintip melalui pintu kaca.


Benar saja. Terlihat beberapa orang berseragam putih khas petugas medis berlari membawa beberapa kotak peralatan juga brankar menuju toko pakaian bayi dan anak itu. Dan tampak seorang laki laki tampan berlari membersamai mereka dengan raut wajah cemas.


"Duuuh... itu pasti suaminya, ganteng bener neek.." gumam salah seorang karyawan lembek bertubuh tambun.


"Stella... kamu gak pa pa sayang?"


Karyawan lembek itu menggigit sebelah bibir bawahnya kala lelaki tampan yang ia kagumi merangsek masuk.


"O em jii... eyke rella dijadiin madu sama couo cuco kek gitu" gemas lelaki abal abal itu bergumam disebelah rekan sesama karyawannya yang kemudian di sikutnya karena gumamannya terdengar jelas.


"Ngapain kamu disini?" teriak Stella frustasi karena merasa tak kuat lagi menahan rasa sakit.


"Sayang, tenanglah.."


"Pergii.. pergiiii... mas David manaaaa..." raung Stella yang tak terima jika Deri membersamainya dalam melahirkan anak ke dua nya di tempat tak biasa pula.

__ADS_1


Deri sedikit gugup kala orang orang memperhatikannya.


"E eh.. maaf.. maklum, prahara rumah tangga.." jelasnya pada orang orang yang memperhatikan mereka yang kemudian serempak ber 'oh' ria.


Bibi Mey datang dari arah luar membawa kresek belanjaan dari super market yang terdapat dalam mall tersebut berisi pembalut juga satu tas yang baru dia terima dari sang art. Tas yang sudah disiapkan berisi pakaian bayi yang sudah dicuci bersih juga beberapa kain dan pakaian ganti untuk Stella.


Meyra memang langsung menelpon rumah Stella dan meminta sang art untuk segera datang ke mall membawa barang pesanannya secepat mungkin.


Beruntung dia bertemu dengan David yang baru turun dari mobil di area drop off dengan wajah yang panik.


"Mana Yoda?" tanya Meyra karena Yoda yang akan paling histeris jika sang mama sakit sedikit.


"Aku belum mengabarinya, bi" jawab David melangkah tergesa ke arah toko.


"Aaaaarghh... pergiii...." terdengar teriakan dari arah dalam toko.


David dan Meyra saling melirik, lalu bergegas membuka pintu kaca dan merangsek masuk tak perduli seseorang menghalangi pintu itu.

__ADS_1


"e eh ******.. adduh.. maaf.. keceplosan" ucap si lembek yang langsung menutup mulutnya karena mendapat sorotan tajam dari super visor.


David terperangah melihat Stella yang meronta memukuli wajah Deri sambil berbaring. Dan bukannya menjauh, Deri malah terus mencoba menenangkan Stella.


"Deri.." seru David mengalihkan perhatian Deri yang tengah berusaha menenangkan Stella dengan tatapan penuh cinta. Jika saja laki laki itu tidak banyak mengorbankan dirinya untuk keluarganya, mungkin dia sudah mengasingkannya ke negri antah berantah seperti hal nya Lusi.


"hah.. k-kamubsudah datang?" ucap gugup Deri yang kedapatan menatap penuh cinta pada istri sahabatnya itu. Tatapan yang mengisyaratkan perasaannya yang teramat dalam tak perduli seberapa besar Stella menolaknya.


"Kamu boleh pergi" titah David membuat Deri serba salah. Jika pergi, dia tak bisa mengetahui secara langsung jika Stella baik baik saja. Namun jika bertahan, dia mungkin bisa menyebabkan Stella semakin membencinya karena sangkaan orang orang yang mengganggu ketenangan wanita yang dicintainya.


Dengan berat hati Deri keluar dari toko dan memilih duduk menunggu di depan toko.


David dan pun mengusir sebagian karyawan yang menonton penderitaan istrinya.


Apa apaan mereka ini. Yang namanya melahirkan berarti mengharuskan membuka bagian penting tubuh wanitanya.


Enak saja.

__ADS_1


__ADS_2