
Seperti biasa kegiatan rutin setiap pagi adalah sarapan. Rumah besar Wiliam kini menjadi hangat semenjak Stella tinggal disana. Seperti pagi ini dimana Stella membuat nasi uduk untuk sarapan mereka. Dia bahkan bangun lebih awal demi menyiapkan menu kesukaannya di pagi hari.
"Kakek bisa gemuk kalo gini caranya" Wiliam kekenyangan setelah menghabiskan 2 porsi nasi uduk yang belum pernah dia rasakan.
"Sesekali gak kan apa apa, kek. Makanlah yang banyak mumpung Stella masih disini"
tring
David tiba tiba menjatuhkan sendoknya ke piring.
"Emang mau kemana?" tanyanya ketus.
"Ya pulang lah. Stella kan punya rumah. Kakek jangan khawatir, Stella akan sering main kesini buat nengokin kakek"
"Sayang sekali. Kakek bakalan kesepian lagi" ujar Wiliam sendu. Seketika ada rasa kesepian dan kehilangan.
"Kan ada kak David, kek"
"Ga ada. Aku juga harus kembali ke apartemenku. Dari sana lebih dekat" pungkas David dengan tegas. Mana mau dia kalo gak ada Stella di dekatnya. Terlebih harus serumah dengan wewe gombel.
"Aku harus ikut kemanapun suamiku pergi" ucap tenang Lusi sambil menyesap teh pagi nya. Dia mana mau makan masakan Stella si pelakor. Menurutnya.
"Gak ada yang nanya pendapatmu. Aku sudah selesai. Cepat, kita sudah terlambat" David tak mau berlama lama membahas apapun di pagi hari selama ada Lusi. Karena ujung ujungnya pastilah situasi yang tidak nyaman.
Lusi membulatkan mulut dan matanya dengan pernyataan David.
"T tapi, pakaianku-"
"Nanti orangku ada yang membereskan dan membawanya ke kantor" ucap David terburu buru meraih tangan Stella yang baru saja dicuci.
"Kakak, sebentar. Belum pamit ihh" Stella melepaskan genggaman tangan David lalu menghambur ke pelukan Wiliam.
Wiliam terkejut dengan pelukan Stella yang tiba tiba namun membuatnya terharu.
"Kakek. Stella pamit pulang. Kakek yang sehat ya. Stella janji bakal sering nengokin kakek" ucap Stella yang kemudian duduk bersimpuh sembari mengusap punggung tangan Wiliam dan diakhiri dengan mengecupnya.
Wiliam tanpa aba aba menitikan air mata haru. Dia benar benar akan merasa kehilangan. Dia tak ingin kehilangannya, tapi tak bisa berbuat apa apa.
"Cucuku sayang. Kakek akan selalu menunggumu" Wiliam selalu menampilkan senyum pada Stella. Terlebih saat ini senyum itu diiringi dengan lelehan air mata.
Tangan mungil Stella mengusap perlahan pipi Wiliam yang basah. Stella pun merasa berat meninggalkan Wiliam di rumah besar itu. Dia yang tak pernah mengenal kakeknya dari sang ayah maupun dari ibunya, merasa memiliki keluarga baru.
Stella terdiam selama perjalanan ke kantor. Sesekali tampak mengusap matanya.
__ADS_1
"Kalo berat ninggalin kakek kenapa pulang?" tanya David memecah keheningan.
"Takut setan cabul" jawab asal Stella sambil membuang muka ke jendela.
David melipat mulutnya. Merasa jawaban Stella menohoknya.
Sang supir melirik dari kaca spion dan menahan tawanya.
"Agenda hari ini apa aja?" akhirnya David mengarahkan pertanyaannya pada pekerjaan.
"Ada beberapa meeting dari pagi sampai menjelang sore, dan itu semua dilakukan di ruang meeting. Saya sudah memesan menu makan siang dan siap dikirim ke kantor saat istirahat untuk menghemat waktu dan tenaga.
Sebenarnya menu di cafetaria lumayan juga. Menurut saya kenapa tuan gak-"
"Kamu atur aja. Mau pesan dari manapun, kamu tau selera saya. Dan saya akan memakan apapun yang kamu pesan"
"Baik"
Pagi itu Stella benar benar sibuk dengan mempersiapkan meeting yang telah dijadwalkan. Untung saja pihak mereka tak perlu keluar kantor untuk bertemu klien penting.
"Nona Stella, maaf tolong sampaikan pada tuan Presdir bahwa beliau kedatangan mertua wanitanya. Apakah beliau boleh naik?" tanya salah seorang bagian front office melalui sambungan interkom.
"Tunggu sebentar" Stella lantas menyampaikan apa yang baru didengar.
"Biarkan dia masuk" titahnya dengan malas yang diangguki Stella.
Stella terkejut dengan penampakan mertua Lusi. Saat di pernikahan Lusi tempo hari dia tidak melihat wanita ini.
Seorang wanita dengan penampilan yang elegan juga angkuh, dia pernah melihatnya disuatu tempat.
"Silahkan masuk, bu" ucap Stella, dengan ramah mempersilahkannya masuk sambil membukakan pintu ruangan presdir.
"NYOONYA. Saya bukan orang kampung. Panggil saya 'Nyonya Imelda Frost' ngerti kamu"
Stella mengangguk sambil sedikit menelengkan kepala. Nama itu, tak asing ditelinganya. Namun nama belakangnya dia baru mendengar.
Stella lantas menepis pikiran tak penting yang singgah dalam otaknya.
Tapi wajahnya sama sekali tak ada kemiripan dengan Lusi. Pasti sangat mirip dengan ayahnya. Pikir Stella.
"David, sayang. Apa kabarmu" Imelda langsung melayangkan kecupan cipika cipiki namun David dengan cepat menghindar.
"Ekhem. David apa kamu lupa sesuatu bulan ini?" tanya Imelda setelah merasa gondok dihindari David.
__ADS_1
"Aku tak pernah melupakan apapun. Bicara langsung saja, saya tidak ada waktu untuk bermain teka teki"
"Kenapa kamu belum mengirimkan uang bulanan untuk mama?" tanya Imelda langsung tanpa basa basi lagi.
"Apa tante janda? bukankah tante masih punya suami berpenghasilan?" jawabnya sambil mengerutkan kening. Ogah banget mesti manggil 'mama', batin David.
"Iya, memang. Tapi kakekmu-"
"Kakekku sudah tidak memegang perusahaan. Lagipula kalau jatah bulanan tante dari suami kurang, kan bisa minta ke anak tante. Saya selalu ngirim tak sedikit loh"
"Tapi kan itu untuk kebutuhan Lusi sendiri. Jangan disamain dong sama kebutuhan tante. Gini aja kamu kirim dengan nominal yang sama dengan Lusi. Tante tunggu sekarang ya. Tante mau belanja"
"Maaf, saya bukan badan amal. Silahkan anda datangi suami anda dan minta padanya"
"Kamu.. dasar menantu kurang ajar. Berani pelit ya, sama mertua. Kamu liat aja, apa yang akan orang orang katakan jika mengetahui kalo keluarga Wiliam kini menjadi pelit setelah kemunculan pewaris tunggal.
Kakek kamu dijamin kena stroke" ancamnya.
"Silahkan anda sebarkan. Biar semua tau betapa murahnya harga diri tante yang rela meminta minta pada menantu yang bahkan tak pernah menyentuh putrinya" David menantang balik Imelda.
"Jika anda merasa kurang puas dengan menantu seperti saya, silahkan carikan menantu yang lebih loyal pada anda. Saat ini juga saya menta-"
"Saya pergi. Huh" potong Imelda yang tau kemana arah perkataan David.
Enak saja dia harus melepaskan emas dan mencari perunggu.
"Sialan. Cari duit 200 juta dimana buat bayar arisan?" gumamnya dengan kesal.
"Kamu, apa kamu punya uang?" tanya Imelda pada Stella. Setidaknya dia harus mencoba menggunakan kuasanya mendompleng nama Wiliam pada pegawai rendahan.
"Saya mana punya uang, nyonya. Makanya saya kerja biar dapet uang karena saya gak ada tempat buat minta minta, nyonya" jawab Stella sambil sedikit membungkuk"
"Dasar kere" sarkas Imelda yang langsung memakai kacamata hitam besarnya yang hampir menutupi wajahnya.
MON MAAP NI BARU BISA UP.
OTHOR LAGI JADI TEAM CHEER LEADER ANAK OTHOR YANG LAGI IKUTAN LOMBA DRUM BAND DI PORPROV JABAR KONTINGEN KOTA BANDUNG
OTHOR USAHAKAN UP TIAP HARI MESKI CUMA 1 BAB YA😉
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK JEMP, VOTE, DAN HADIAHNYA YA😘
__ADS_1