The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Tanda Perpisahan


__ADS_3

David berjalan mondar mandir didalam kamarnya dengan gusar. Dia mengacak dan menjambak rambutnya dengan frustasi. Matanya tak fokus bergerak kasana kemari.


Dia terus memikirkan Stella. Dia tak mau kehilangannya. Dia tak mau dibenci olehnya.


"Stella..."


"Stella..."


"Stella..."


Racaunya sambil menangis frustasi.


"AAAAAARRRGGHH..." David berteriak mengeluarkan emosinya sambil terus menangis.


"Den.. den Dapit... den Dapit baik baik aja?" tanya mbok Darsih khawatir sambil mengetuk pintu kamar David yang terkunci berkali kali.


Mbok Darsih adalah yang merawat David selama ditinggal bekerja oleh sang kakek. Dia sangat menyayanginya layaknya anaknya sendiri.


David menangis meraung hingga tertidur sambil memeluk buku yang telah diambilnya di perpustakaan.


Kebahagiaan ternyata tak semudah itu diraih tanpa terluka terlebih dahulu.


David terus menatap ukiran pena Stella sebagai jawaban dalam surat cintanya.


"Surely I do. And I always will"


David bahkan menggumamkan nama Stella dalam tidurnya dengan jejak air mata yang mengering menghiasi wajah tampannya.


tring


tring


Suara dering ponsel mengembalikan kesadaran David.


Dia lantas meraih ponselnya yang berada di atas nakas.


"Kakek?" lirihnya diiringi jantung berdegup kencang. Meyakini jika sang kakek sudah mendapat laporan tentang apa yang terjadi karena Lusi adalah anak dari rekan bisnis kakek William.


"ekhem..halo, kek?" sapanya setelah melancarkan tenggorokannya.


"Anak kurang ajar. Apa yang sudah kamu lakukan? Apa tidak cukup semua yang kakek berikan hingga kau membuat ulah memalukan seperti ini, hah?" sembur sang kakek yang tidak pernah memarahinya selama ini.


"Kakek.. maafkan David, kek.. hik.. David juga gak mau hal itu terjadi... David.. David bahkan gak inget ngelakuin hal itu, kek.. bahkan gak ada niat David buat ngelakuin hal bejat seperti itu.. maafin David kek... David gak mau nikah sama dia... tolong kek... David gak mau nikah sama dia..." raung David menghiba membuat sang kakek mengurungkan amarahnya. Sungguh malang anak ini. Setelah ditinggal kedua orang tuanya, dia tumbuh tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Dia bahkan tak pernah merengek meminta apapun. Dia bahkan pintar dengan kemampuannya sendiri. Baru kali ini dia meminta menghiba seperti ini membuat sang kakek serba salah. Jika saja rekan bisnisnya yang merupakan orang tua dari gadis yang David nodai tak mengancamnya, dia tak sudi berbesan dengan orang serakah itu.


Ada sedikit keyakinan jika David dijebak. Dan menurut penuturan cucunya, pastilah dia dijebak.


"Tapi kamu harus bertanggung jawab nak" bujuk kakek dengan suara mereda dan terkesan iba padanya.


"Bagaimana dengan Stella, kek. David gak mau nyakitin hati dia. David cinta sama dia, kek.. David gak mau kehilangan dia.. tolong David kek..." David terus memohon pada sang kakek sambil terus tergugu, membuat hati kakek William serasa diremas. Sangat menyakitkan jika cucunya disakiti seperti ini.

__ADS_1


"David, anakku... maafkan kakek.. kakek tidak bisa berbuat apa apa-"


"haaaaaa...... " ucapan kakek terpotong kala mendengar tangis depresi David.


"Ya Tuhan... kenapa harus seperti ini.." lirih kakek Wiliam. Dia pikir David salah bergaul, tapi ternyata dia dijebak.


Kakek lantas mengingat nama gadis yang David sebut.


"Stella..." dia lantas mencari biodatanya.


Ada banyak nama Stella yang muncul dalam mesin pencarinya. Namun ada 1 Stella yang sangat memungkinkan untuk menjadi gadis yang cucunya sukai.


Gadis sederhana namun sangat pintar. Jangan lupa kalau mereka satu sekolah namun berbeda angkatan.


"Gadis ini.. pastilah gadis ini" tebak kakek William saat menatap foto Stella dalam balutan seragam sekolah. Mengingat sifat dan karakter David yang tidak menyukai keglamoran, pastilah dia menyukai gadis sederhana seperti ini.


"Gadis yang manis, pantas dia menyukaimu, kakek juga menyukaimu" monolog kakek pada layar yang menampilkan fotonya.


Dia lantas melakukan sesuatu pada komputernya.


tok


tok


"Masuk"


Pintu ruangan dibuka lalu masuklah sekertaris andalan kakek wiliam.


"Mey kamu kirim beasiswa ini ke sekolah yang tertera besok pagi. Dan ingat jangan mencantumkan nama perusahaan. Pastikan ini seolah langsung dari universitas" titahnya.


Meyra mengangguk tanda mengerti dan menerima secarik kertas untuk diketik ulang yang kemudian di print diatas kertas yang sudah diberi kop Lembaga pendidikan tinggi yang bertempat di Inggris yang merupakan yayasan miliknya, lalu dibubuhi stempel dan dikembalikan pada sang presdir untuk ditandatangani.


"Stella Aubrey. Mirip nama si cantik" gumamnya saat mengetikkan namanya.


"Tapi.. kenapa sekolahnya sama?"


Meyra lantas mencetaknya dan mengembalikan pada sang presdir untuk ditandatangani.


Meyra mengintip layar yang menampilkan sebuah foto yang adalah foto keponakannya.


Meyra terkejut.


"Apa Stella melakukan kesalahan hingga membuat presdir mengirimnya keluar?"


Meyra lantas terkejut karena teringat jika David menyukai Stella.


"Apa gara gara cinta lain kasta?"


"Mey... apa yang kau lakukan? cepat laksanakan" sergah kakek Wiliam.

__ADS_1


"a ah b baik"


Meyra segera membawa surat itu untuk dikirimkan ke alamat sekolah Stella.


"Kasian kamu nak" batin Meyra yang merasa sedih dengan penderitaan keponakannya.


Ujian akhir sekolah selesai dilaksanakan. Seminggu terakhir David memberi kabar jika dia tak bisa menjemput dan mengantarnya lantaran sudah tak ada mobil untuk digunakan. Stella tak protes, dia mengerti posisinya, namun dia tak mengetahui identitas David yang seorang anak konglomerat. Dan mobil tidak bisa dijadikan alasan untuk tak berkendara.


Stella hanya merasa ada sesuatu yang hilang karena terbiasa akan kehadiran David dan kini dia harus sendiri lagi. Ditambah Lusi yang kini seolah menjauhinya.


"Apa dia sedang menyembunyikan penyakitnya? beberapa hari ini dia muntah muntah terus. Apa jangan jangan dia...


punya maag akut?"


tring


tring


Ponselnya bergetar di saku roknya. Semenjak David tak mengantar jemputnya, Meyra memaksa Stella menerima ponsel pemberiannya agar memudahkan mereka berkomunikasi juga agar Stella bisa memanggil ojol maupun taxol saat akan berangkat atau pulang sekolah.


"Lusi? ngapain nelpon segala? orang tadi ketemu"


"Ya halo, kenapa Si?"


".........."


"Minggu depan kan wisuda"


".........."


"Undangan? malu ah temen temen elu"


".........."


"Gak mau, lu tau sendiri mereka gak suka gue"


".........."


"Janji ya, lo nyusul. Eh, lo sehat kan? udah gak muntah muntah kan?"


".........."


"Ya udah, istirahat gih. Daaah"


"Fuhh.. ada ada aja. Abis wisudaan malah bikin parti, sukuran kek biar bisa diterima di kampus negri" monolognya.


Stella menunggu ojol datang di gerbang sekolah. Berhentilah motor dengan plat nomer yang sesuai.


"Atas nama Stella pacar David?" tanya mamang ojol yang membuka kaca helmnya dan menampilkan mata yang menyipit.

__ADS_1


"Kak David?" Stella terkejut yang langsung memeluknya karena rindu.


David membawanya berputar mengelilingi ibu kota sambil menarik kedua tangan Stella agar memeluknya erat. David menitikan air mata saat Stella merebahkan kepalanya di punggung David dengan nyaman. Tak tahu jika ini adalah tanda perpisahan darinya.


__ADS_2