
Keesokan pagi Stella sudah berencana akan kembali mencari sang belahan jiwa. Dia bahkan hidup sendiri di mansion hadiah dari David. Dia menyesal tidak mengajak sang kakek untuk tinggal dengannya di mansion sesaat setelah menikah dan memilih tinggal di kediaman Wiliam untuk menemaninya. Padahal Wiliam pasti akan menuruti permintaannya jika Stella memaksa.
Setelah selesai sarapan dan mandi. Dia bergegas mempersiapkan perbekalan untuk kembali mencari sang suami.
Jika sebelumnya Stella hanya berputar putar di daerah TKP, dia terfikir akan gubuk yang berada tak jauh dari lokasi kejadian.
Sangat janggal menurutnya.
Hantaman mobil yang terjun langsung ke dasar jurang sangat tidak mungkin jika tak terdengar oleh radius 400m.
Dia lantas membuat peta dan menyusuri area lalu mencari area yang luas untuk helinya mendarat.
ting
tong
Stella mengernyitkan dahi.
Tumben ada tamu. Karena jika itu kurir pengantar paket, pastilah satpam yang menerima, lalu mereka akan melakukan panggilan telfon lokal atau intercom untuk memberitahu penghuni mansion jika seseorang mengirimkan paket atau paket pesanan telah tiba.
Jika itu bibi Mey atau kakek Wiliam, Stella sudah memberikan pin akses agar mereka tidak lama menunggu.
Dan jika bel di tekan itu menandakan tamu yang telah lolos pemeriksaan sajam, senpi, atau bom bunuh diri.
🙄🙄🙄🙄
Stella semakin dalam melipat dahinya kala melihat layar kontrol pintu. Sebuah penampakan manusia yang serba tertutup dengan pakaian serba hitam.
Celana jins hitam, kaos pressed body hitam, topi hitam, dan masker hitam.
"Siapa kamu" ucap datar Stella.
Orang itupun tersentak dan langsung mendongak untuk menatap kamera.
"Stella.. ini aku.. Deriii..." sapanya riang sambil melambaikan kedua tangannya.
Sialan, bahkan kerutan matanya saat tersenyum pun sama dengan sang suami.
__ADS_1
"Ada perlu apa?" lanjut Stella bertanya sambil mempertahankan mode datarnya.
"Aku... aku mau bantu kamu cari David"
"Tau dari mana?"
"Bibi mu.."
"Dasar bibi bucin. Aku gak butuh ban-"
"Please, Stell. Kasih aku kesempatan berbuat baik pada sahabatku. Aku janji gak ada drama dramaan lagi. Lagi pula, kamu lagi hamil. Pasti butuh bantuan"
"Hhhhh..."
tit
Tanpa mengatakan apapun Stella membukakan kunci pintu agar Deri bisa masuk.
Memang benar selama ini dia cukup kerepotan memikirkan strategi dan kemana dia harus mencari.
Dia tak tahu harus sharing dengan siapa karena yang lain memilih menghiburnya dan menyuruhnya untuk merelakannya.
Stella mengecek sekali lagi perbekalan yang akan dia bawa berupa makanan, minuman, obat obatan, pakaian, selimut, perkakas, garam, dan lain sebagainya.
"huwooo.... persiapanmu luar biasa. Apa kita akan sarapan dulu?" tanyanya kemudian sambil menggosokkan kedua telapak tangannya.
"Aku sudah sarapan, silahkan kalau mau" jawabnya yang langsung disambut gembira oleh Deri. Namun Stella melangkah kearah belakang rumahnya membawa tas besar berisi perbekalan tadi.
"Hei, itu kan berat. Biar aku saja. Aku akan menghabiskan ini dulu" sergah Deri sembari mengunyah sandwich ayam yang tersisa 1 potong lagi di piring.
Stella tak menggubrisnya karena waktu adalah nyawa suaminya. Dia terus melangkah mantap kearah heli hitam yang dia beri nama 'Blue'.
"Stella tung- Edaaaaan... kendaraan kek gini mana ada saingan beb. Fiuuu..." Deri berdecak kagum akan penampakan kendaraan tak biasa milik istri sohibnya ini.
Stella memasukkan tas besar itu ke pintu belakang. Lalu dia naik ke kursi pilot dan menutup pintu. Lalu mengenakan head set dan mengutak atik beberapa panel dan tombol sehingga baling baling pun mulai berputar.
"E eh.. serius, elu yang nyupir? tung.. tungguin" Deri kebingungan dan langsung melompat naik ke kabin belakang. Memakai headset yang serupa dengan Stella dan memasang seat beltnya. Tak lupa ia melilitkan tangannya pada seat belt karena merasa ragu akan kemampuan terbang gadis ini.
__ADS_1
Stella menaikan tuas collective secara perlahan sembari mengatur throttle kecepatan saat heli mulai mengangkat hingga ketinggian tertentu lalu mengarahkan capung besi itu ke titik koordinat yang sudah ia hafal.
"Stella pelaaaaaaaan...." pekik Deri yang panik dengan cara Stella mengendalikan capung besi itu.
Stella mendaratkan si biru di area lapang yang luas sekitar 300 meter dari gubuk.
Dia mengarahkan kompasnya dan berjalan sesuai arah yang sudah dia perhitungkan saat di mansion.
"hoek.. hoek.. Stell.. uhuk.. uhuk.. tungguu.." Deri mengejar Stella setelah berhasil mengeluarkan isi perutnya yang berhasil Stella kocok dengan meliuk liukan heli itu ke kiri dan ke kanan.
Deri bertambah kagum dengan sosok wanita yang dulu pernah dia ejek karena penampilan. Namun kini penampilannya membuatnya melupakan sosok gadis culun dan cupu dimasa sekolahnya.
Tanpa merasa takut, Stella mengibaskan parang nya untuk membuka jalan kearah yang ia tuju. Hanya beberapa meter saja dia membuka lahan, selebihnya ternyata sudah tampak jalan setapak yang tampaknya sering dilewati.
Stella menghitung jarak tempuhnya dengan langkah kakinya.
tinggal 100 meter lagi dia akan sampai di lokasi gubuk itu.
"Beb, tambah sini kok tambah serem ya. Apa kamu gak takut ada babi hutan gitu?" tanya Deri dengan suara yang sedikit bergetar. Belum tangannya yang sibuk menghalau serangga yang menyerangnya.
dugg
Deri menabrak tubuh belakang Stella yang berhenti tiba tiba.
"Kenapa berenti?" bisiknya yang tak mau bergerak tiba tiba dan membuat kegaduhan meski cukup terkejut.
"Apa ada binatang buas?" lanjutnya.
Namun Stella hanya diam mematung.
prakk
Terdengar suara ranting jatuh.
Stella lantas bergerak tiba tiba berlari sekencangnya membuat Deri panik dan ikut berlari.
"Setaaaaan...."
__ADS_1