The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Bukan Melamar Pekerjaan


__ADS_3

"Tuan presdir" ucap Meyra dan Stella bersamaan.


"Ayook, nanti keburu abis. Aku tau pecel lele yang enak"


David melangkah didepan, sedangkan Stella dan Meyra saling sikut mengekor dibelakangnya.


Karena jam pulang kantor sudah lewat, kantor sudah sepi.


"T tuan.. apa masih jauh?" tanya Stella sambil berjalan tertatih karena kakinya lecet berlarian kesana kemari seharian ini.


"Udah jangan manja. Tuh didepan" jawab David tanpa menoleh kebelakang.


"Pak, pecel lele nya 3 ya" David langsung memesan saat masuk ke tenda penjual kaki lima yang baru kemarin dia mencobanya saat pulang kantor dan rindu dengan makanan sewaktu masih sekolah.


"Kok lama, kemana dulu?" tanyanya heran karena Lusi dan Meyra baru sampai saat lele goreng dengan sambal khas nya baru dihidangkan.


"Ini tuan, kakinya lecet" jawab Meyra yang menuntun Stella duduk.


"Kenapa bisa?"


"Yaa coba aja tuan pake ni pantofel baru trus bawa lari sana lari sini buat bikin kopi yang gak kelar kelar" gerutu Stella yang baru David dengar. Karena Stella yang dulu tak pernah menggerutu.


"Tunggu disini"


"Ya iyalah nunggu disini, emang mau di empang. Baru juga nyampe masa udah disuruh pergi lagi... aduh bibi sakiiiit..." Stella mendumel kemudian mengaduh karena kembali dicubit sang bibi.


David tertegun.


'Kok tambah lucu ya'


gumamnya.


David lantas pergi ke seberang untuk membeli plester di mini market betamart.


"Tuan dari mana?" tanya Meyra yang tengah menunggu calon mantan atasannya untuk makan bersama. Rasanya tidak sopan jika mereka makan terlebih dahulu sebelum sang bos ada ditempat. Meskipun Stella sudah merengek kelaparan.


"Sini kakinya" pinta David tanpa menghiraukan pertanyaan Meyra.


"Gak sopan ditanya orang tua gak jawab" cebik Stella.


"Iya dari sebrang beli iniii"


"Aaa sakiiiit... " Stella kembali mengaduh kala David menekan luka yang sudah ditempeli plester. Membuat Meyra melengkungkan bibir.


"Kenapa gak dimakan? keburu dingin gak enak loh"


"Gatau tuh, bibi. Orang dateng sini mau makan, malah disuruh bengong"


"Stella" desis Meyra.


"Ya udah yuk, makan. Makasih udah mau nungguin"


Stella menggerakan mulutnya hendak protes tapi pasti dapet cubitan lagi dari Meyra.

__ADS_1


"Bi..."


"Apa lagi"


"emh.. enak banget bi, sumpah demi apa. Pak eh tuan eh.. serah deh, boleh nambah gak?"


David tencenung dengan perilaku Stella yang sangat berbeda dengan yang dikenalnya dulu. Dia lantas mengangguk.


"Pak bikin 2 lagi ya, yang satu dibungkus" teriaknya pada mamang pecel lele yang kemudian mengangguk tanda mengerti.


"Dibungkus buat siapa?" desis Meyra.


"Ya buat gadang tar malem, bi. Stella pasti kelaperan" bisik Stella yang tak peduli dengan tatapan heran David.


"Mey bungkus juga?" tanya David pada Meyra.


"Eh, eng-"


"Bibi.. panggil bibi Mey. Kan lebih tua dari anda- adduh.."


"Enggak usah tuan. Saya cukup ini aja. Gak baik udah umuran makannya gak boleh banyak banyak"


"Panggil nama saja, bi. Kita lagi gak di kantor"


Mereka makan dengan khidmat. David cukup terkejut dengan nafsu makan Stella yang berbeda dengan gadis lain pada umumnya.


"Pulangnya biar saya anter, udah malem" ucap David saat mereka keluar dari tenda.


"Tidak perlu, tuan. Saya bawa mobil sendiri" tolak Meyra.


David melangkah kedepan Stella dan langsung berjongkok, membuat Stella terkejut dan spontan jatuh kedepan tepat di punggung David.


"Ayo aku anter ke mobil" ucap David yang langsung berdiri menggendong Stella dipunggungnya.


David merasa bahagia bisa kembali dipertemukan dengan cinta pertamanya. Meskipun Stella tampak tak ingat padanya, itu tak masalah. Mungkin dia terlalu dalam menorehkan luka.


Yang terpenting baginya sekarang adalah membuatnya tetap bersamanya.


David sengaja membeli apartemen yang jauh dari rumah besar sang kakek dimana iblis wanita itu bersemayam.


Dia bahkan tak memberitahu siapapun termasuk sang kakek dimana dia tinggal. Berjaga jaga jika Lusi mengancam dan memaksanya datang ke apartemennya.


Lusi bahkan tak tahu jika David sudah kembali ke Indonesia.


Seminggu sudah berlalu dengan hiburan barunya. Diam diam David selalu mengikuti kemanapun Stella melangkah seperti hari ini, hari dimana hari terburuk dalam tiap minggunya karena hari libur dia tak bisa bertemu dan bermain main dengan landak albino nya.



Stella tengah berjalan jalan di taman apartemen dengan penampilan sederhana namun manis.


David merasa gemas melihatnya, apalagi saat dia tengah dilirik para pelaku joging yang melewatinya.


"Kenapa dia bisa semanis itu" gumam David yang sengaja memilih apartemen seberang agar memudahkannya memantau Stella.

__ADS_1


Dia ingin menghampiri, tapi takut dihindari. Mengingat betapa Stella sangat membencinya di kantor.


"Sayang, kamu disini?" sapa David tiba tiba saat melihat Stella dipaksa menerima minuman kemasan botol meski Stella sudah menolak nya. Namun entah kenapa laki laki itu bersikukuh menyodorkannya pada Stella agar Stella menerimanya.


"Ah, i iya" balas Stella yang sedikit terkejut dengan kemunculan tiba tiba bos rese nya tapi sangat membantunya terlepas dari paksaan lelaki yang tak dikenalnya.


"Hati hati, bung. Dia kekasih saya" ancamnya pada si pemaksa dengan sorot mata tajam.


David lantas meraih pinggang ramping Stella dan membawanya menjauh dari tempat itu.


Stella segera melepas rangkulan David di pinggangnya saat dirasa sudah aman dari si pemaksa.


"Fuhhh... m makasih, tuan presdir"


"ekhem.. lain kali bersikaplah yang tegas"


"ah.. i iya, kalau begitu-"


"Temani aku sarapan" David langsung memotong kata kata pamit dari Stella.


"hah?"


"Udah, ayok" David langsung menarik tangan Stella agar mengikutinya.


"Enaknya sarapan apa ya?" tanya David sambil melihat lihat jajaran gerobak penjual makanan tak jauh dari apartemen karena setiap minggu pemerintah setempat selalu menerapkan car free day. Tangan Stella masih ia genggam tanpa Stella sadari.


"Lontong kari sepertinya enak tuan. Di Wales mana ada lontong kari" Stella terkikik sendiri kala mengingat betapa rindunya beraneka ragam menu sarapan di Indonesia.


"Wales? Inggris raya?"


"huum"


"Kamu jebolan Swansea?" tebak David


Stella mengangguk sambil memesan 2 porsi.


"Ini pasti kerjaan kakek" batin David.


"Anda tidak membawa istri anda?" tanya Stella sedikit celingukan.


David menjawab dengan mengangkat bahu tanda tak peduli.


"Kenapa? apa anda semenyebalkan itu sampe istri anda tidak mau ikut?" tanya polos Stella sambil melahap potongan besar lontong.


"Ya ampun enak bangeet" gumam Stella saat kembali merasakan rasa khas rempah dari kuah kari nya.


David tersenyum melihat reaksi spontan Stella.


"Bukan salahku kalau dia bersikeras menikahiku"


"Hei hei, jangan membahas permasalahan rumah tangga diluar rumah. Segera selesaikan jangan dibiarkan berlarut larut"


"Biarkan saja. Lagi pula kalau saya gak menyebalkan, para pelamar itu bukan melamar pekerjaan, tapi melamarku"

__ADS_1


"Ck ck ck, percaya diri sekali anda. Ah iya, para pelamar itu apa yang mereka lakukan sampe dipecat dalam waktu sehari?"


"Ya seperti wanita pada umumnya kalo liat cowok ganteng"


__ADS_2