The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)

The Seventh Secretary (Sekertaris Ke Tujuh)
Rumor


__ADS_3

Stella mengetuk kepalanya berkali kali


"Keluarlah.. keluarlah.. keluarlaaah.." mohonnya bermonolog. Dia benar benar ingin bayangan absurd yang menodai otaknya keluar dari kepalanya.


"Kamu kenapa?" tanya suara baritone yang tiba tiba muncul dari balik pintu kokoh setinggi hampir 3m itu.


Belum sempat Stella menjawab, David langsung meraih kepala Stella dan mulai melakukan pijatan lembut. Ia pikir Stella sakit kepala karena stress.


"Emmh.. aahh.. ou yaa.. hhh.."


David lantas mendorong kepala Stella lalu pergi meninggalkannya tiba tiba sambil berdehem. Dia pergi karena menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Bagaimana tidak, Stella mengeluarkan suara absurd karena merasa nyaman dengan pijatan lembut di kepalanya yang memang dia butuhkan.


"Seminggu lagi, tahaan.. tahaaan..." gumam David yang mulai tak sabar meng apa apakan landak albinonya.


Dia menetralkan jantung dan hasratnya di toilet.


"Eh tau gak, pak presdir kita akan menikah, tapi yang diundang hanya para petinggi saja"


"O ya? haaa... idola kita mau sold out lagii gak relaaa..."


"Coba aja semua karyawan diundang, kita juga pingin dong ngehadirin pesta kalangan atas, pasti super mewah tuh"

__ADS_1


"Tapi kalo semua karyawan diundang, pasti bikin masalah, secara yang jadi pengantin perempuannya itu karyawannya sendiri"


"Hah? yang bener?"


"Menurut rumor sih gitu"


"Kok bisaa.. eh tapi bisa aja siih. Tebakanku kalo emang karyawannya sendiri pasti sekertarisnya itu"


"Hah, Stella si sekertaris ke 7 yang legendaris?"


"Huum. Cuma dia kan yang bikin presdir kita kalem. Coba kalian inget inget, sebelum Stella ada, pak presdir tuh sadis banget. Apa apa main pecat. Ngelirik aja gak boleh. Setelah ada Stella, dia jadi ramah sama karyawan. Bahkan bukan sekertaris yang ngikutin dia kemana mana, tapi sebaliknya"


"huaaa.. kenapa gua gak bisa kayak Stellaaaa..."


David senyum senyum sendiri membenarkan ghibahan mereka.


brakk


Seorang wanita penghuni salah satu bilik toilet membuka pintu bilik dengan kasar.


"Kalian digaji bukan buat bikin gosip murahan ya. Yang calon istri pak presdir itu saya, yang setara dengannya. Bukan cewek kampung itu" sergah Weli sang direktur operasional yang juga terobsesi pada David.


Dan semua orang tahu akan hal itu.

__ADS_1


"T tapi bu.."


"Weli, bisa ikut saya sebentar?" David menghampiri pintu toilet yang terbuka itu.


"Tentu saja , sayang" tukas Weli dengan arogan meninggalkan kumpulan ghibahers.


David membawanya ke lobby dan berhenti di tengah nya. Dia lantas melipat kedua tangannya di dada.


"Kenapa berenti disini, sayang? apa kamu akan mengumumkan sesuatu?" tanya Weli dengan suara manja.


"Tentu saja. Seperti yang kau inginkan, kamu bisa membenahi barang barangmu, sekarang"


"Sekarang? apa kamu akan membawaku ke tempatmu?" tanyanya sumringah.


"Tentu saja ke tempat asalmu. Yaitu rumahmu. Dimana anakmu selalu menunggumu pulang. Kini kamu bisa menghabiskan seluruh waktumu untuknya"


"Ahh.. terimakasih.. akhirnya ada seseorang yang akan menafkahi kami dengan-"


"Kamu saya pecat"


David mengatakan itu disaksikan para karyawan yang jengah dengan tingkah arogannya dan juga selalu menyebar rumornya sendiri kalau dia adalah kekasih gelap sang presdir.


"Apa? t tapi.. bagaimana dengan posisiku? apa kata ayah nanti saat tau tentang kelakuanmu?"

__ADS_1


"Kamu tenang saja, posisimu akan digantikan orang yang lebih kompeten dan sudah seharusnya menduduki jabatanmu. Tentang ayahmu, jangan khawatir, dia menyerahkan segala tentangmu padaku"


__ADS_2