
Srett
"Ouch.." Stella langsung mengulum telunjuknya kala tergores lembaran kertas. Pikirannya tak fokus jadi lupa akan hal sepele namun bisa melukai.
"Mas ku lagi apa ya?" tanyanya membatin.
Segera ia merogoh ponsel dalam saku blazer nya dan mencari kontak favoritnya.
"Hhh.. keknya masih sibuk" keluhnya menggumam sambil menelungkupkan kepalanya diatas meja kala tak mendapati nomor yang ia tuju sedang tidak aktif.
"Sabar Stella, tinggal 1 hari lagi mas mu pulang" gumamnya sembari tersenyum semringah membayangkan pertemuan perdananya setelah 2 malam tidur tanpa guling hangatnya.
Jantungnya tetiba berdegub kencang bak remaja yang sedang menghitung mundur waktu kencan pertama mereka.
Namun rasa deg degan itu bukanlah perasaan gugup saking senangnya. Ada perasaan lain yang mendominasi.
Perasaan yang dia pernah sekali merasakannya saat dulu sewaktu David hendak meninggalkannya untuk menikah dengan Lusi.
__ADS_1
Senyum itu berubah menjadi sendu.
"Ada apa ini. Apa kamu baik baik saja, mas?" batinnya bertanya. Dan tanpa seizinnya, setetes cairan lolos dari sudut matanya.
"Mas..." lirihnya menatap nomor ponsel sang suami yang masih belum aktif.
"Kakek, apa kakek sudah mendengar kabar tentang anak perusahaan itu?" tanya Stella pada Wiliam.
Ini adalah hari ke 5 dari jadwal kepulangan sang suami. Stella masih tak bisa menghubunginya sampai saat ini. Bahkan dia juga tak bisa menghubungi sang asisten yang di delegasikan Wiliam untuk mendampingi David.
"Tentu saja sudah. Anak itu memang benar benar bisa diandalkan. Tapi, kenapa kamu tanyakan pada kakek. Apa suamimu tidak memberitahumu?" Wiliam balik bertanya. Dia tidak tahu mengenai kabar David yang tak kunjung pulang karena selama David ke luar kota, Stella tinggal di apartemen sang bibi karena jaraknya lebih dekat dengan kantor.
"Bagaimana mau memberitahuku kalau di hubungi saja tidak bisa, kek. Tapi..." pertanyaannya menggantung kala menyadari sesuatu.
"Kakek tau dari mana kalau perusahaan itu sudah baik baik saja?" mata Stella memicing.
"Tentu saja kakek menanyakan langsung pada direktur sementara. Tunggu, maksudmu apa bertanya seperti itu pada kakek?"
__ADS_1
"Kapan kakek menghubungi direktur sementara itu?" lanjut Stella menyelidik.
"4 hari yang lalu. Tapi.. ada apa sayang, kenapa kamu bingung? kenapa suamimu masih belum masuk kerja dan malah kamu yang terus melakukan pekerjaannya. Apa kamu menghajarnya setiap malam sehingga dia tak bisa bangun?"
"Maksud kakek apa?" Stella semakin bingung. Menghajar? bagaimana bisa menghajarnya jika dia belum pulang. Batinnya.
"Bukankah suamimu sudah pulang lebih cepat dari jadwal? orang itu bilang David hanya 2 hari disana. Bukankah dia ada bersamamu di apartemen?"
Stella menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.
"Lantas dia kemana, kek?" ucap lemah Stella sembari menitikan air mata. Tidak mungkin kan kalau dia macam macam. Apa terjadi sesuatu padanya.
Stella tiba tiba teringat sesuatu. Meski tipis kemungkinannya setidaknya dia mengetahui lokasi terakhir ponsel David aktif. Barulah dia bisa menelusuri lokasi sekitar untuk menemukan suami tercintanya.
Dahi Stella berkerut kala mendapati informasi lokasi terakhir ponsel David aktif. Dan itu ada disekitar 500km dari Jakarta. Tak hanya itu, ponsel itu terakhir aktif 6 hari yang lalu. Dan itu berarti benar jika David pergi dari kota L pada hari ke 2 sore hari.
"Mas kemana? Apa mas baik baik saja?" lirihnya bertanya dalam hati sambil menyelipkan do'a.
__ADS_1
Setelah mendapati keanehan keberadaan David dari pertanyaan Stella, Wiliam segera mengerahkan orang orangnya untuk melacak jejak David sang cucu semata wayangnya.
"Tuan besar, anak buah kami menelusuri lokasi terakhir, dan benar, ada jejak ban dan serpihan kaca yang belum sepenuhnya bersih. Tampaknya bekas kecelakaan. Kami bertanya pada pihak kepolisian mengenai kecelakaan disekitar situ, namun tak ada laporan apapun mengenai kecelakaan. Hanya laporan orang hilang yang waktunya persis sama dengan kejadian menghilangnya tuan muda" orang suruhan Wiliam menjelaskan panjang lebar sesuai informasi yang dia dapat. Tak ada yang dia tutupi.