
Stella kini memulai lembaran barunya bersama sang bibi di apartemen sederhana menurut Meyra. Tapi menurut Stella itu sangatlah mewah. Terdapat 2 kamar tidur dan peralatan rumah yang sangatlah lengkap.
Stella sempat merasa takjub dan tak percaya jika dia bisa tinggal di tempat seperti itu. Namun rasa takjubnya seketika urung karena tak bisa merasakannya bersama sang ayah.
Stella kembali murung kala mengingat jika tujuannya sukses adalah untuk membahagiakan sang ayah, tapi kini apa tujuannya jika sang ayah telah lebih dulu dipanggil sang khaliq.
"Sayang.. kamu inget ayah lagi?" tanya Meyra saat mendapati Stella tengah duduk melamun di bibir kasur yang empuk, sambil menatap kosong pemandangan di luar jendela.
"Tujuan hidupku adalah membahagiakan ayah, bi. Tapi sekarang.. apa tujuanku kalau ayah sudah bahagia?" jawabnya dengan suara sedikit tercekat.
"Raihlah kebahagiaanmu, sayang" ucap sang bibi sembari membalikan tubuh Stella menghadapnya.
"Terimalah sosok laki laki lain dalam hidupmu, yang menerimamu apa adanya, yang membantumu tanpa pamrih, yang selalu ada saat kamu butuh" ucap Meyra merapikan helaian rambut yang mengembang.
"Tapi selama ini aku tak-" ucapannya terpotong kala tiba tiba bayangan David terlintas dalam benaknya.
Laki laki itu
Satu satunya anak laki laki di sekolah yang mengajaknya berbicara tanpa ada rasa jijik.
Yang selalu memberikan senyuman hangat kala berpapasan dengannya tapi tidak pada siswi lain.
Yang tahu tentang tempat tinggalnya dan tak ragu untuk menolongnya hingga akhir.
Yang mendampinginya dan memberikan bahunya kala ia membutuhkan sandaran.
"Maksud bibi.."
Meyra tersenyum dan mengangguk.
"Tapi aku.."
"Mungkin sekarang terlalu jauh untuk membahas tentang masa depan dengan seorang pria, tapi setidaknya terima dia sebagai teman dekatmu. Jangan menolaknya saat dia ingin dekat denganmu. Buat tujuan baru di hidupmu.
Ayahmu, rela mempertaruhkan hidupnya demi mempertahankan uang hasil usahamu. Mungkin bagimu nyawa ayahmu lebih berarti dari uang senilai 5 juta. Tapi bagi ayahmu, jerih payahmu adalah hidupnya.
Kalau kamu bahagia, ayah pasti bahagia. Jadi raihlah kebahagiaanmu untuk ayahmu. Karena senyummu berharga ribuan nyawanya"
Stella menghambur ke pelukan sang bibi dan menangis tersedu.
"Aku janji akan bahagia, bi. Untuk ayah"
Pagi menjelang, Stella memutuskan untuk kembali masuk sekolah. Apa lagi Meyra telah membelikannya seragam baru. 2 hari absen serasa setahun baginya jika tak bergelut dengan buku. Dia rindu pojokan perpus, dia rindu wangi kertas usang dari buku lama. Dia rindu sahabatnya yang mungkin tak bisa menghubunginya.
__ADS_1
Dan dia rindu..
ting
tong
Stella sedang menyantap sarapan nasi goreng buatan sang bibi saat terdengar bel pintu berbunyi.
Stella masih canggung di apartemen itu. Dia ingin menyiapkan sarapan untuk mereka berdua seperti yang biasa dia lakukan untuk sang ayah, tapi dia tak tahu cara menggunakan kompor listrik.
Dia juga tak tahu bumbu apa untuk membuat masakan sederhana seperti nasi goreng sosis seperti yang dia makan saat ini. Karena setiap harinya dia hanya memakan nasi dan garam sebagai lauk atau ditambah kerupuk jika ada rejeki berlebih.
"Kak David?" seru Stella terkejut saat hendak menyendok nasi goreng suapan ke 3 dengan lahap.
"Pagi Stella. Belum siap?"
Stella menggeleng sambil tersenyum. Pipinya menggembung karena penuh dengan makanan membuatnya tampak lucu.
"Udah sarapan, Vid?" tanya Meyra.
"Eeh...."
"Udah, duduk. Kita sarapan bareng. Kebetulan bibi bikin lebih"
"Terima kasih, bi"
Setelah itu Stella meminum susu yang disediakan Meyra.
"Susu apa ini, bi?"
"Susu kedelai. Kamu gak alergi kacang kan?"
"Gak ada alergi alergian" Stella menandaskan susu itu seketika. Membuat lengkungan dikedua bibir orang yang melihatnya.
"Yuk. Bi, Stella berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum" pamit Stella sambil mencium punggung tangan Meyra dengan takzim seperti yang selalu dilakukannya pada sang ayah.
Meyra menjawab salam nya sambil mengelus sayang kepalanya.
David mengikuti apa yang dilakukan Stella meski Meyra adalah sekertaris sang kakek, dia mengerti cara menghormati yang lebih tua.
"Kamu udah baikan?" tanya David didalam mobil disela keheningan.
Stella mengangguk.
__ADS_1
"Maksih ya. Kakak udah terlalu banyak bantuin aku. Aku gak tau gimana cara bales kebaikan kakak"
"Udah jangan dipikirin. Namanya sesama manusia harus saling membantu, bukan? lagian jangan pernah merasa berhutang budi padaku. Gawat kalo aku sampe nagih utang, kamu belum tentu sanggup bayar"
"Iya, aku tau. Mungkin nanti kalo-"
"Mungkin kamu harus membayarnya seumur hidupmu"
Stella termenung.
Benar
Selama ini dia tak pernah meminta tolong dan selalu menolak bantuan siapapun. Karena hutang budi itu tak akan pernah lunas meskipun kamu sudah bersatu dengan tanah. Bahkan anak cucumu akan merasakan imbasnya.
"Kamu tenang aja, aku tak sekejam itu" David terkekeh sambil mengacak rambut ikal Stella yang terasa lebih lembut dari sebelumnya.
"Makanya aku bilang tadi, jangan merasa berhutang padaku. Karena aku melakukannya dengan ikhlas. Aku benar benar tak mengharapkan apapun"
Sambil merapikan rambut yang diacak David, Stella melirik David yang fokus menyetir sambil mengembangkan senyum.
deg
deg
deg
'Apa ini?'
Stella menekan dadanya yang tiba tiba terasa tak beres.
Suasana kembali hening hingga mobil mendekati gerbang sekolah dan Stella meminta David menurunkannya sedikit jauh dari gerbang.
"Kenapa? kita satu sekolah kan, kenapa turun disini? kamu mau beli sesuatu?" tanya David terheran.
"eeh.. i iya.. kakak duluan saja" Stella segera mambuka pintu mobil dan keluar. Untung saja masih sangat awal mereka datang jadi belum terlalu banyak siswa yang berdatangan.
"Stella.." panggil David saat tubuh mungil itu berlari namun belum terlalu jauh.
Stella menoleh
"Pulangnya bareng lagi" serunya yang langsung memarkirkan mobilnya di tempat biasa dia parkir tanpa menunggu persetujuan Stella apakah dia mau atau tidak.
"Ish. Kubilang apa. Gak enak kan kalo utang budi" cebiknya kesal. Namun ada perasaan hangat.
__ADS_1
Stella melanjutkan langkahnya tanpa disadari jika Lusi telah melihatnya keluar dari mobil David.
"Dasar munafik" desisnya.