
Posisi meja Stella berhadapan dengan sofa single yang ditempati David. Sedangkan para tamu yang berjumlah 2 orang menempati sofa panjang membelakangi meja Stella.
Pertemuan berjalan dengan lancar. Stella yang menempati mejanya konsentrasi menjadi notulen rapat dadakan yang tadinya hanya kunjungan biasa namun mereka tertarik untuk berinvestasi di perusahaan.
Stella yang memakai rok span se paha tak sadar jika sedari tadi sang presdir mencuri pandang pada kaki jenjangnya yang beberapa kali tanpa sengaja terbuka dan sesekali menumpang kan salah satunya pada kaki yang lain lalu diturunkan lagi.
"Pak David, apa anda demam? anda sepertinya berkeringat" ucap pak Rudi si tamu. Stella melirik David karena ucapan pak Rudi. Dia ingin memastikan apakah suaminya memanglah kurang fit?
"Ah, tidak apa apa. Hanya sedikit kepanasan. Tampaknya AC ruangan kurang dingin" jawabnya sembari menyeka keringat dengan sapu tangan. Mereka melanjutkan bahasan namun Stella masih memperhatikannya.
Tampak sesekali David melirik celah gelapnya dibawah meja.
Saat Stella menutup kakinya, pandangan David kembali pada data pembahasan.
Stella mencoba kembali membuka kakinya perlahan dan lebih lebar, dan mata David otomatis kembali melirik celah itu.
Namun dengan cepat Stella menutupnya dan David tampak kecewa. Kembali Stella membukanya perlahan dan sedikit menarik rok nya, mata David seolah menghipnotisnya
"ayo.. buka lagi.. lebih lebar lagi.." batinnya.
"Pak David?" seru pak Rudi membuyarkan lamunan David.
__ADS_1
"Ah, iya pak Rudi. Maaf saya sedikit kurang fokus. Tampaknya saya memang sedang kurang baik" dalihnya sembari menyeka keringat di dahi.
Stella mengulum senyum. Lantas kembali mengetik bahasan yang dia ingat tadi. Sehingga saat kedua tamu itu menoleh ke belakang, mereka hanya mendapati seorang sekertaris yang tengah bekerja dengan serius.
"Landak albino sialan. Berani kamu main main sama aku ya. Liat aja, habis ini kamu gak bisa lepas. Habis kamu, Stella. Hahahaha.." gumam David dalam hati. Dia pendendam untuk yang satu ini. Stella benar benar menguji kesabaran sang jaguar.
Stella melihat teh dan camilan yang disajikan sudah hampir habis, dia lantas berinisiatif kembali menuangkan teh pada cangkir tamu, namun Stella menyodorkan cangkir lain untuk David dan mengambil cangkir kosongnya.
Tak ada yang menyadari hal itu. Stella pun kembali ke mejanya untuk lanjut berkutat dengan laptopnya.
Sedikit melirik David, dia kembali perlahan membuka kakinya.
sluurrp
David menyesap sedikit demi sedikit teh itu dengan mata yang lekat menatap celah yang kian terbuka lebar.
"Maigaaat.. dia pake warna putiiih..." batinnya saat melihat jelas penampakan segitiga bermuda. Diyakini apapun yang melintasinya pastilah tenggelam. Dan David ingin menenggelamkan jaguarnya.
Tanpa sadar, David langsung menyesap habis teh itu.
Percakapan kedua tamu yang tengah berdiskusi sembari menikmati teh dan camilannya tak terdengar sedikitpun oleh David yang masih menatap lekat lembah berbahaya itu.
__ADS_1
nyut
nyut
nyut
Tiba tiba kepala sang jaguar berdenyut. Terasa semakin besar dan membengkak.
David panik, ada apa ini.
Ingin dia mengusap untuk menenangkan, namun tidak etis bila dilihat koleganya.
Stella melipat mulutnya menahan semburan tawa.
"Jamu kuat bibi Mey keknya manjur nih. Asiiik.. bakalan dihajar habis habisan nih" girang Stella dalam hati.
Yap
Stella menaburkan sedikit bubuk jamu pasak bumi pada teh David. Dia gemas dengan sifat workaholic suaminya, jadi dia sedikit memberinya pelajaran karena berani mengabaikannya.
AIOOO BUANG VOTENYA DISINI YAA😆
__ADS_1